Hari Pneumonia Dunia, Pentingnya ASI untuk Imun Balita

Adinda Permatasari, Wahyu Firmansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tanggal 12 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pneumonia Dunia (HPD). Pneumonia merupakan peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi yang cukup berbahaya untuk anak-anak.

Dalam rangka memperingati HPD 2020 dan untuk mendorong pemahaman yang lebih mendalam terhadap bahaya pneumonia, Save the Children mengadakan acara Perayaan Hari Pneumonia Dunia secara daring.

Acara ini turut dihadiri oleh Ibu Wakil Negara Indonesia Wury Ma'ruf Amin, Menteri Kesehatan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta sejumlah publik figur yang peduli pada kesehatan anak.

Baca juga: Sebabkan Kematian Banyak Balita, Kenali Bahaya Pneumonia

CEO Save the Children Indonesia, Selina Patta Sumbung menjelaskan jika acara ini juga sekaligus untuk memperingati 100 tahun berdirinya Save the Children.

"Kami adalah mitra pembangunan pemerintah yang bekerja untuk memastikan hak anak terpenuhi dan kepentingan terbaik anak selalu dijunjung tinggi oleh semua pemangku kebijakan. Dalam rangka merayakan 100 tahun berdirinya Save the Children dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya pneumonia," kata Selina dalam webinar, Kamis, 12 November 2020.

Dalam acara itu juga, Selina memberikan beberapa upaya penting untuk dapat melindungi anak-anak dari bahaya pneumonia.

"Upaya-upaya yang perlu kita lakukan untuk melindungi anak-anak kita dari bahaya pneumonia di antaranya yaitu pertama pemberian ASI dan MPASI, kedua pentingnya imunisasi, ketiga mempraktikkan pola hidup yang bersih dan sehat, dan keempat memastikan gizi yang seimbang dalam mencegah kematian akibat pneumonia," ucapnya.

Sementara, Menteri KPPPA RI, I Gusti Ayu Bintang Darmawati menyampaikan pentingnya ASI eksklusif dalam mencegah virus ataupun bakteri penyebab pneumonia. Ia menyampaikan jika ASI harus diberikan terus hingga 6 bulan agar balita dapat membentuk imun tubuh dengan baik.

"Menurut survei status gizi balita Indonesia tahun 2019, angka stunting nasional masih tergolong tinggi yaitu 27,7 persen kemudian profil kesehatan Indonesia tahun 2018 disebutkan bahwa persentase bayi mendapatkan ASI eksklusif hanya sebesar 65 persen. Data ini kemudian didukung oleh survei demografi dan kesehatan Indonesia 2017 yang menyebutkan bahwa rata-rata pemberian ASI eksklusif hanya selama 3 bulan. Tentunya hal ini patut menjadi perhatian kita semua karena melindungi anak adalah tugas kita bersama," kata Menteri Bintang.

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto, juga memberikan beberapa cara untuk mencegah penyakit pneumonia. Di antaranya dengan memberikan gizi yang cukup dan hidup bersih.

"Setop pneumonia pada anak dengan cara, satu ASI eksklusif 6 bulan menyusui, dua tuntaskan imunisasi untuk anak, ketiga obati ke fasilitas kesehatan jika anak sakit, keempat pastikan kecukupan gizi anak dan hidup bersih sehat, dan kelima manfaatkan buku kesehatan anak untuk mendapatkan informasi kesehatan anak," kata Menkes Terawan.

Baca juga: Gejala Sangat Mirip, Ini Cara Bedakan Pneumonia dan COVID-19

Sedangkan, Ibu Wakil Negara Indonesia Wury Ma'ruf Amin dalam acara webinar ini mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat bisa bekerja sama supaya anak-anak Indonesia bisa terbebas dari pneumonia.

"Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat harus bekerja bersama agar anak-anak Indonesia terbebas dari pneumonia saya mengapresiasi dan berterima kasih pada ayah dan bunda yang berhasil menyelamatkan anaknya dari pneumonia. Kisah Ayah Bunda itu menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tidak menyerah dalam melindungi mencegah dan mengobati anak dari pneumonia," ucap Wury.