Harimau Sumatera Muncul dari Dalam Kabin Helikopter Super Puma TNI AU

Rifki Arsilan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Seekor Harimau Sumatera tiba-tiba melompat dan turun dari dalam kabin Helikopter milik TNI Angkatan Udara.

Penampakan yang mengerikan itu terjadi pada hari Minggu, 28 Februari 2021 lalu, ketika Helikopter jenis Super Puma milik TNI Angkatan Udara itu tengah mendarat di Sumatera Barat.

Tapi jangan kaget dulu ya, seekor Harimau Sumatera yang keluar dari dalam kabin helikopter milik TNI Angkatan Udara itu ternyata memang sengaja dilepaskan ke habitat aslinya.

Dilansir VIVA Militer dari keterangan Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau), Senin, 1 Maret 2021, TNI Angkatan Udara telah mengerahkan helikopter ternamanya yaitu, Super Puma SA-332 untuk mengangkut seekor Harimau Sumatera ke alam bebas di Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS).

Harimau Sumatera berjenis kelamin betina yang diberi nama Ciunang Nurantih itu diangkut oleh Pesawat Helikopter SA-332 Super Puma milik Skuadron Udara 6 Lanud Atang Sandjaja yang diterbangkan oleh Letkol Pnb Akhmad Mauludin Mulyono.

Harimau itu ternyata baru selesai menjalani perawatan di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR HSD) Sumatera Barat sejak pertengahan tahun 2020 lalu.

"Helikopter Skadron Udara (Skadud) 6 Lanud Atang Sendjaja Bogor yang diterbangkan Letkol Pnb Akhmad Mauludin Mulyono ini, mengantar Ciunang Nurantih ke habitat aslinya di pinggiran danau Sakti TNKS untuk menjalani kembali hidupnya secara bebas," tulis keterangan Dispenau.

Sementara itu, Inisiator pemulangan Harimau yang juga menjabat sebagai Direktur Yayasan Arsari Djoyohadikusumo (YAD) Cartrini Pratihari menyatakan, pelepasan Harimau Sumatera dengan penggunaan Helikopter TNI Angkatan Udara itu sangat membantu proses pengembalian Ciunang Nurantih ke habitat aslinya.

Menurutnya, keberadaan helikopter TNI Angkatan Udara tidak saja untuk mempersingkat translokasi perjalanan, tetapi juga sekaligus sebagai sarana observasi udara untuk meyakinkan bahwa lokasi pelepasan terjamin keamanannya, baik bagi satwa maupun masyarakat sekitar TNKS.

"Untuk memantau pergerakan Ciuniang Nurantih, pihak PR HSD telah memasang GPS Colar pada hewan primata tersebut. Sehingga keberadaannya tetap terpantau oleh petugas," kata Cartrini Pratihari.

Untuk diketahui, Ciuniang Nurantih merupakan salah satu harimau korban konflik satwa liar yang terjadi di Jorong Surantih, Nagari Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Harimau betina itu diamankan pada tanggal 13 Juli 2020 lalu oleh Tim Penyelamat Satwa Liar Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat. Ketika diamankan, harimau betina itu diperkirakan masih berusia 2.5 tahun. Selama ini, Ciunang Nurantih berada di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) di Nagari Lubuk Besar, Sumatera Barat.

Baca: Diam-diam Prabowo Luncurkan Kapal Perang Pengangkut Tank untuk TNI AL