Harlah NU ke-95, Khofifah Ungkap Peran Santri untuk Bangsa ke Depan

Daurina Lestari, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, berharap hari kelahiran NU ke-95 yang jatuh pada Minggu, 31 Januari 2021, menjadi momentum untuk kian memperteguh komitmen kebangsaan. Kepada para santri, generasi penerus di lingkungan NU, harapan itu disemaikan demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia, juga NU itu sendiri.

Khofifah mengatakan, NU tidak semata-mata menegakkan syiar agama Islam dan akidah Aswaja. Tapi juga ada spirit nasionalisme. Spirit mewujudkan kemandirian ekonomi sebagai bekal untuk melawan kolonialisme. "Semangatnya NU ini lengkap," kata Gubernur Jawa Timur itu dalam keterangan tertulis.

Kiprah NU dalam konteks kebangsaan sudah terbangun sejak awal berdiri. "Gambaran sejarah itu menunjukkan NU memiliki kelebihan tersendiri. Yakni pengambilan keputusan untuk melahirkan sebuah organisasi tidak lepas dari meminta pentunjuk Allah.

Tentu saja, motivasi positif tertanam pada organisasi tersebut. Motifasi itu, antara lain motivasi agama, membangun nasionalisme, serta mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jamaah," kata Khofifah.

Baca juga: Viral, Hasil Rapid Antigen COVID-19 Keluar Tanpa Tes

Motivasi membangun nasionalisme diwujudkan dengan komitmen kebangsaan yang kuat. Pasalnya, lahirnya NU tidak lepas dari rasa kebersamaan untuk melawan penjajah. Para kiai sepuh yang memiliki fundamental pada pemahaman Aswaja mewarnai perjalanan menuju kemerdekaan.

Komitmen kebangsaan dengan mengajak umat untuk bangkit melawan kolonial waktu itu. Semangat juang menggelora pada tubuh organisasi ini. Salah satunya dibuktikan dengan adanya Resolusi Jihad pada Oktober 1926.

“Semua itu selaras dengan tema besar Harlah NU, tahun ini. Yaitu Khidmah NU : Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan," ujarnya.

Nah, dalam konteks itulah kontribusi santri ke depan sangat dibutuhkan. Jika dulu komitmen kebangsaan diwujudkan dengan angkat senjata, disampaikan Khofifah, bahwa cara itu belum tentu relevan di masa kini.

"Maka satu cara saat ini untuk memerangi adalah menjaga integritas, menguatkan keilmuan, serta meneguhkan persatuan dan kesatuan. Yakni melalui penguatan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas," ujarnya.

Menurutnya, harapan itu disemaikan kepada santri karena NU memiliki ribuan bahkan jutaan santri. Santri akan menjadi pemimpin masa depan.

“Bisa jadi, seorang santri kelak akan menjadi kiai. Dia menjadi panutan santrinya. Integritas dan idealisme menjadi modal santri tersebut. Mereka bisa menguatkan komitmen kebangsaan di lingkungan santrinya," ujar Khofifah.

Santri yang terjun di masyarakat juga bisa menjadi panutan. Perilaku santri yang didasari integritas itu akan menumbuhkan empati dari masyarakat. Komitmen kebangsaan bisa diwujudkan pada implementasi kehidupan sosial.

"Sekali lagi, santri merupakan pioner yang bisa mengharumkan nama NU, mengemban amanah NU, serta mewujudkan motivasi NU seperti yang diharapkan oleh para pendiri NU," katanya.