Harta Ajib Diduga Membengkak Sejak 2007

TEMPO.CO, Jakarta -Rekening petugas Pajak nonaktif, Ajib Hamdani, diduga membengkak sejak 2007. Lonjakan jumlah kekayaan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 2002 itu terjadi ketika pindah tugas dari Bagian Kepegawaian Sekretariat Direktorat Jenderal Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kelapa Gading.

Di Kelapa Gading, ia ditempatkan sebagai pelaksana pada Seksi Ekstensifikasi dan Penilaian. Pegawai golongan III-A itu diketahui memiliki rekening tak wajar sebesar Rp 16 miliar. Ajib, 32 tahun, diduga terkait dengan kasus pemalsuan data tanah dan bangunan di Kelapa Gading. Kasusnya sedang diselidiki Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI.

Seperti ditulis majalah Tempo, "Orang Pajak Taat Palak", edisi pekan ini, Ajib diduga ikut memalsukan data tanah dan bangunan di kawasan Kelapa Gading. Modus ini dilakukan agar tagihan pajak atas aset tersebut lebih rendah. Ajib memecah obyek pajak hingga lima kali, tapi yang dilaporkan hanya satu kali. Gara-gara akrobat itu, pungutan pajak pada 2008 dan 2009 kurang Rp 6,8 miliar.

Juru bicara Mabes Polri, Saud Usman Nasution, mengatakan kasus Ajib masih diselidiki. Kepolisian, kata dia, menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan untuk mengakses dokumen pajak yang menjadi bukti dugaan penyelewengan Ajib. Permohonan itu diajukan sejak 8 Februari 2011 dan hingga sekarang belum dijawab.

Pelanggaran yang dituduhkan kepada Ajib, menurut Saud, menyalahgunakan wewenang dalam penilaian obyek pajak. "Sebagai petugas Pajak, ia melakukan penilaian terhadap obyek pajak, dan di sinilah penyalahgunaan wewenang tersebut terjadi," ujarnya.

Saud menolak menjelaskan penyelewengan seperti apa yang dilakukan Ajib. Ia beralasan dokumen pajak yang menjadi bukti belum dikantongi kepolisian. Ditanya soal rekening Ajib senilai Rp 16 miliar, Saud menyatakan masih diselidiki.

Ajib belum bisa ditemui. Melalui blognya, Ajib membantah tuduhan itu. Menurut dia, harta yang dimilikinya didapat dari bisnis yang dijalankannya, bukan hasil korupsi.

Ia merasa kasus yang menjeratnya adalah hasil konspirasi orang-orang Ditjen Pajak yang tidak menyukainya. Ia mengaku pernah menolak kerja sama dan memberi "setoran uang" kepada rekan sesama pegawai Pajak. Dikatakannya, penolakan ini yang menjadi awal mula ia harus berurusan dengan hukum.

l RINA WIDIASTUTI | MUHAMAD NAFI | ANANDA W TERESIA

Berita Terkait

Kasus Rekening Ajib Hamdani Masih dalam Penyelidikan

KPK Cek Rekening Gendut 5 Pejabat Pajak

Korupsi Pajak Berawal dari Sengketa Pajak 

Polri Tunggu Menteri Keuangan untuk Periksa Ajib H

Ajib Diduga 'Meringankan' Wajib Pajak 

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.