Haruskah Kita Tinggalkan WhatsApp? Ini Jawaban Pengamat

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - WhatsApp tengah menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir sebab aplikasi chatting milik Facebook itu mengumumkan pembaruan kebijakan privasi untuk para penggunanya.

Salah satu poin dalam pembaruan ini adalah keputusan perusahaan untuk berbagi data dengan Facebook. Kebijakan ini sebenarnya sempat diumumkan pada para pengguna pada 2016.

Akibatnya, ada seruan yang mengajak pengguna untuk beralih dari WhatsApp dan berpindah ke aplikasi chatting lain, seperti Telegram atau Signal.

Melihat kondisi ini, Tekno Liputan6.com pun bertanya kepada pengamat keamanan siber Alfons Tanujaya mengenai seruan semacam itu dan apa yang dapat dilakukan pengguna.

Alfons menuturkan, pengguna sebenarnya tidak perlu sampai benar-benar meninggalkan WhatsApp. Sebab, apa yang dilakukan oleh WhatsApp, tidak berbeda dari perusahaan internet lain.

"Menurut hemat saya, pada prinsipnya perusahaan internet mana pun akan melakukan pola yang sama," tutur Alfons.

Perlu diketahui, pembagian data yang dilakukan WhatsApp ke Facebook adalah metadata penggunanya. Fungsi ini biasanya dimanfaatkan untuk menampilkan iklan yang lebih personal.

Kendati demikian, bukan berarti konsumen tidak dapat melakukan apa-apa. Alfons menuturkan konsumen tetap perlu mencegah satu perusahaan menguasai pasar dengan skala terlalu besar.

"Jadi, gunakan lebih dari satu aplikasi pesan instan. Mulai gunakan Telegram, Line, atau Signal bukan karena lebih aman atau tidak mengeksploitasi data, melainkan supaya tidak ada penguasa pasar yang terlalu dominan," kata dia.

Hal ini dilakukan agar perusahaan mana pun yang menjadi penguasa pasar tidak melakukan tindakan arogan. Sebab, pada prinsipnya perusahaan yang dominan memiliki kecenderungan monopolistik.

Dalam kondisi tersebut, pengguna bisa saja tidak diberi pilihan lain. "Jadi, konsumen diminta memilih setuju atau tidak sama sekali memakai aplikasinya," tutur Alfons melanjutkan.

Enkripsi End-to-End di WhatsApp

Ilustrasi Media Sosial dan Aplikasi Chat | unsplash.com/@christianw
Ilustrasi Media Sosial dan Aplikasi Chat | unsplash.com/@christianw

Namun di sisi lain, WhatsApp sudah berkomitmen untuk menerapkan enkripsi end-to-end di platformnya. Jadi, percakapan antar pengguna bukan menjadi data yang bisa diintip dan dibagikan begitu saja.

"Karena sesuai informasi yang diberikan, semua komunikasi WhatsApp dienkripsi end-to-end yang artinya hanya pengguna baik pribadi maupun anggota grup chat yang memiliki kunci dekripsi dan enkripsi," tulis Alfons dalam keterangannya.

Bahkan, Alfons menuturkan tidak ada pihak lain yang memiliki kunci dekripsi ini, termasuk WhatsApp. Jadi, isi percakapan pengguna di aplikasi tersebut dipastikan aman dan tidak ada pihak lain yang dapat mengetahuinya.

Kendati demikian, Alfons tidak menutup kemungkinan trafik komunikasi WhatsApp dapat disadap. Hal itu memanfaatkan jaringan Wi-Fi, ISP, ISP perantara dan penyedia layanan seluler yang berada di jaringan yang sama dengan penguna.

"Tapi, hasil sadapannya adalah data dalam bentuk terenkripsi dan dibutuhkan kunci dekripsi untuk membuka data ini. Sementara hanya pengguna WhatsApp bersangkutan yang sedang melakukan chat yang memilikinya, dan proses dekripsi terjadi otomatis," ujar Alfons.

Alfons menggambarkan kesulitan untuk memecahkan kunci dekripsi ini sama halnya dengan upaya memecahan enkripsi data yang dikunci ransomware. Dengan kata lain, hanya pemilik kunci dekripsi yang dapat membukanya.

WhatsApp Tegaskan Pembaruan Kebijakan Privasi Hanya Berlaku untuk Akun Bisnis

Sebelumnya, WhatsApp juga menegaskan tentang pembaruan kebijakan privasi yang baru saja diterapkan untuk para penggunanya.

Lewat pernyataan terbaru, aplikasi milik Facebook itu menegaskan pembaruan ini sebenarnya hanya berlaku untuk percakapan dengan akun WhatsApp Business.

Dalam keterangan resmi yang diterima, Rabu (13/1/2021), pengguna API WhatsApp Business kini memang dimungkinkan memakai infrastruktur hosting Facebook dalam melakukan komunikasi via WhatsaApp.

Sebagai informasi, pada Oktober 2020, WhatsApp memang telah mengumumkan pelaku bisnis dapat menggunakan vendor pihak ketiga, termasuk salah satunya Facebook.

Nantinya, vendor pihak ketiga yang ditunjuk dapat mengoperasikan API WhatsApp Business dari pelaku bisnis.

Sebagai contoh, apabila pelaku bisnis memakai infrastruktur hosting dari Facebook, percakapan yang dilakukan dapat disimpan di server Facebook.

"Jika pengguna berbicara dengan bisnis yang memilih metode penyimpanan di luar WhatsApp, kami akan menampilkan notifikasi di chat tersebut," tutur perusahaan dalam keterangannya lebih lanjut.

Melalui adanya notifikasi tersebut, perusahaan memberikan kebebasan bagi pengguna untuk melanjutkan atau menghentikan interaksi dengan akun bisnis yang menggunakan vendor pihak ketiga.

Sementara pengguna akun WhatsApp Business gratis maupun API WhatsApp Business yang menggunakan layanan hosting internal tetap dilindungi enkripsi end-to-end.

"Percakapan dengan akun bisnis yang tetap menggunakan layanan hosting WhatsApp, masih terlindungi enkripsi end-to-end seperti biasa," tulis perusahaan menutup pernyataannya.

(Dam/Why)