Hasil Kajian Pemerintah Inggris: Varian Baru COVID-19 Tak Sebabkan Penyakit Lebih Parah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, London - Varian baru Virus Corona COVID-19 yang lebih menular muncul di Inggris. Namun, berdasarkan kajian yang dilakukan lembaga pemerintah Inggris urusan kesehatan masyarakat atau Public Health England, mutasi COVID-19 itu tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan Virus Corona varian sebelumnya.

Para ilmuwan menyebut varian baru ini dapat menyebar dengan lebih cepat. Kasus virus varian baru pertama kali dideteksi di Inggris pada pertengahan Desember 2020, sehingga membuat sejumlah negara mengambil kebijakan pembatasan perjalanan ke negara itu.

Saat ini, beberapa negara di Eropa dan belahan dunia lain telah melaporkan munculnya kasus Virus Corona varian baru tersebut.

Dalam kajian Public Health England, para peneliti membandingkan 1.769 orang yang terinfeksi virus varian baru dengan 1.769 pasien terinfeksi virus "jenis liar", dan kedua kelompok tersebut cocok dengan rasio satu banding satu secara umur, jenis kelamin, area kediaman, serta waktu pengujian.

Dari 42 orang yang dilarikan ke rumah sakit, 16 di antaranya terinfeksi virus varian baru sementara 26 lainnya terinfeksi virus jenis terdahulu, menurut kajian tersebut. Dalam hal jumlah kematian, angkanya 12 kasus untuk pasien virus varian baru, berbanding 10 untuk varian lama.

"Hasil awal dari kajian kelompok ini menunjukkan tidak adanya perbedaan statistik yang signifikan dalam hal perawatan di rumah sakit dan kasus kematian selama 28 hari antara kasus varian baru COVID-19 dengan kasus pembanding jenis liar," dikutip dari kajian ini.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Kasus Baru Lebih Tinggi

Pemandangan Jembatan Westminster dan Gedung Parlemen di London, Inggris (18/3/2020). PM Inggris Boris Johnson mengatakan seluruh sekolah akan ditutup mulai Jumat (20/3) setelah otoritas kesehatan mengonfirmasi total 2.626 kasus infeksi COVID-19 dan 104 kematian. (Xinhua/Tim Ireland)
Pemandangan Jembatan Westminster dan Gedung Parlemen di London, Inggris (18/3/2020). PM Inggris Boris Johnson mengatakan seluruh sekolah akan ditutup mulai Jumat (20/3) setelah otoritas kesehatan mengonfirmasi total 2.626 kasus infeksi COVID-19 dan 104 kematian. (Xinhua/Tim Ireland)

Tidak ada pula perbedaan signifikan dalam hal kemungkinan infeksi ulang virus varian baru jika dibandingkan dengan varian lainnya.

Dalam kajian tersebut, bagaimanapun disebutkan bahwa "angka serangan susulan" atau proporsi kontak dari kasus terkonfirmasi yang menjadi kasus baru, muncul lebih tinggi pada pasien terinfeksi virus varian baru.

Sebelumnya pada Selasa 29 Desember, epidemiolog yang menjadi penasihat pemerintah Inggris, Andrew Hayward, memperingatkan Inggris akan menuju pada "malapetaka" dalam beberapa pekan mendatang jika tidak mengambil langkah lebih keras untuk menangani kasus varian baru tersebut, seperti dilansir Antara, Rabu (20/12/2020).

Inggris mencatat 53.135 kasus baru COVID-19 di hari yang sama, angka harian tertinggi sejak pengujian massal dimulai pada pertengahan 2020.

Menurut laporan The Times, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah setuju untuk menerapkan pembatasan tingkat paling tinggi, yakni level 4, di lebih banyak lagi area di negaranya.

Infografis Varian Baru Virus Corona COVID-19 Hantui Inggris

Infografis Varian Baru Virus Corona Hantui Inggris. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Varian Baru Virus Corona Hantui Inggris. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan video pilihan di bawah ini: