Hasil Menyelam cari Sriwijaya Air saat Cuaca Buruk

Siti Ruqoyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pihak Basarnas di Posko JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok menerima penyerahan barang temuan yang dicari dari bantuan Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Dalam kondisi cauca yang buruk untuk melakukan pencarian, penyelam Bakamla berhasil temukan serpihan pesawat yang hancur dan juga beberapa bagian potongan tubuh yang diduga milik penumpang pesawat.

Direktur Operasional Basarnas, Brigjen (Mar) Rasman mengatakan barang yang ditemukan Bakamla tersebut ada dua kantung yang berisi material berbeda.

“Dari Bakamla yang tetap melakukan pencarian di tegah cuaca buruk, di dapati kembali serpihan pesawat dan potongan tubuh” ujar Rasman saat memberikan keterangan di Posko JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, Rabu 13 Januari 2021 petang.

Sementara hingga kini barang-barang temuan Bakamla tersebut telah di bawa ke Posko JICT 2. Oleh pihak Basarnas, potongan tubuh dan serpihan pesawat tersebut di serahkan ke DVI Polri juga di selidiki lebih lanjut.

Rasman mengatakan, pada pencarian pesawat pada Rabu 13 Januari 2021, petugas gabungan tidak segencar pada hari hari sebelumnya, lanjutan ada cuaca buruk yang dapat membahayakan penyelam.

“Namun demikian penyelam kita masih bisa menemukan objek-objek pencarian. Selanjutnya, objek pencarian tersebut akan kami serahkan kepada KNKT dan DVI untuk dilakukan identifikasi,” ujar Rasman.

Di informasikan sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC SJ 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu 9 Januari 2021 sekitar pukul 14.40 WIB dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat take off dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 14.36 WIB.

Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.

Berdasarkan data manifest, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas, enam kru aktif dan enam kru ekstra.