Hasil Pantauan Udara, 600 Hektare Area di Jembrana Terdampak Banjir Bandang

Merdeka.com - Merdeka.com - Tidak kurang dari 600 hektare wilayah Kabupaten Jembrana, Bali, terdampak banjir badang. Salah satu wilayah dengan tingkat kerusakan paling parah adalah Desa Penyaringan dan Kelurahan Tegal Cangkring, yang berada di sepanjang daerah aliran Sungai Biluk Poh.

Hal itu diketahui setelah dilakukan pemetaan udara oleh Gerakan Fly for Humanity yang bekerja sama dengan Pusat Riset Teknologi Penerbangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Udayana serta BPBD Provinsi Bali.

Penanggulangan bencana yang dilakukan adalah pemetaan udara daerah terdampak banjir bandang dengan menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau lebih dikenal dengan istilah drone. Dari hasil foto drone, diestimasikan luasan areal yang terdampak banjir bandang itu mencapai 600 hektare.

"Kita gunakan drone dengan resolusi tinggi, serta foto dan video untuk arsip kebencanaan di sepanjang Sungai Biluk Poh. Foto udara dari hulu ke hilir sampai di banjar (lingkungan) terakhir Biluk Poh. Dengan dua kali terbang menggunakan fixed wing UAV, tim ini berhasil memetakan area terdampak banjir bandang seluas 600 hektare," kata Septian Firmansyah satu penggagas gerakan Fly for Humanity dalam keterangan tertulisnya, Rabu (2/11).

Kemudian hasil pemetaan ini nantinya dapat digunakan untuk melakukan analisis dampak banjir bandang, membantu tim respons bencana dalam melakukan aksi yang tepat. Selain itu digunakan untuk mitigasi bencana.

"Pemetaan dampak banjir bandang ini diharapkan dapat membantu tim respons dalam melakukan aksi yang tepat, terukur serta harapan kami juga dapat menjadi dokumentasi kebencanaan, dan tentunya dapat menjadi landasan upaya pengurangan risiko bencana ke depannya," imbuhnya.

Sementara Wakil Bupati Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna mengatakan, dari hasil foto udara, pemerintah daerah memiliki gambaran pascabencana. Artinya ke depan pemerintah bersama jajaran telah memiliki langkah strategis penanggulangan banjir dari data yang dimiliki.

"Data ini dapat digunakan untuk perencanaan dan penaggulangan bencana. Jadi kita bergerak berbasis data," ujarnya.

Seperti diketahui, cuaca ekstrem yang terjadi di Indonesia mengakibatkan terjadinya banjir bandang di Kabupaten Jembrana, Senin (17/10) Lalu. Banjir itu menerjang sejumlah titik di wilayah Kabupaten Jembrana. Berdasarkan informasi dari BPBD Bali, banjir melanda sejumlah desa di empat kecamatan, menyebabkan banyak hunian warga yang rusak, serta menghanyutkan warga yang terseret arus banjir. [cob]