Hasil Penelitian: Tsunami 34 Meter Berpotensi Terjadi di Pesisir Selatan Jawa

Merdeka.com - Merdeka.com - Gempa bumi dengan magnitudo maksimum 8,9 berpotensi mengguncang selatan Jawa bagian barat dan tenggara Sumatera. Gempa ini diperkirakan bersumber dari zona megathrust di wilayah tersebut.

Ahli seismologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang juga Peneliti Postdoctoral di University of Cambridge, Pepen Supendi mengatakan, temuan potensi gempa itu berdasarkan hasil penelitian pada zona subduksi selatan Jawa bagian barat dan tenggara Sumatera. Khususnya, pada zona megathrust pada kedalaman yang relatif dangkal, kurang dari 50 km.

"Hasil penelitian kami menunjukkan adanya celah seismik (seismic gap) pada megathrust selatan Jawa bagian barat dan tenggara Sumatera yang berpotensi menghasilkan gempa maksimum magnitudo 8,9," jelas Pepen, Jumat (4/11).

Pemicu Gempa

Pepen menyebut, aktivitas gempa yang tinggi di Jawa Barat dan sekitarnya terjadi akibat subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia. Gempa megathrust ini kemungkinan besar menimbulkan bahaya gempa bumi dan tsunami bagi masyarakat sekitar.

Pepen menjelaskan, peneliti melakukan relokasi hiposenter gempa bumi dengan memanfaatkan data yang bersumber dari BMKG dan International Seismological Center (ISC) periode April 2009 sampai dengan Juli 2020. Lewat cara inilah, peneliti melihat ada celah seismik di selatan Jawa Barat yang akan menjadi sumber potensial gempa megathrust di masa depan.

Merujuk catatan sejarah, Jawa bagian barat pernah mengalami dua peristiwa gempa besar dengan magnitudo lebih dari 7,5. Pertama pada tahun 1903, kedua tahun 1921.

Selama dua dekade terakhir, juga terdapat dua gempa besar yang terjadi di daerah ini, yaitu peristiwa gempa megathrust magnitudo 7,8 pada 17 Juli 2006, yang menghasilkan tsunami dahsyat di Pangandaran. Kemudian gempa intra-slab magnitudo 6,8 pada 2 September 2009, yang melanda selatan Jawa bagian barat.

Tsunami Hingga 34 Meter

Selain menemukan celah seismik (seismic gap), peneliti juga menemukan adanya patahan back-thrust di selatan Jawa bagian barat. Berdasarkan temuan ini, peneliti melakukan pemodelan tsunami berdasarkan skenario terburuk.

“Di mana ketika sumber-sumber gempa tersebut pecah secara bersamaan, maka dapat menghasilkan ketinggian tsunami maksimum mencapai 34 meter di sepanjang pantai selatan Sumatera bagian paling selatan dan di sepanjang pantai selatan Jawa bagian barat dekat dengan Semenajung Ujung Kulon,” jelas Pepen.

“Secara umum, ketinggian tsunami rata-rata di sepanjang pantai Sumatera bagian selatan adalah 11,8 meter dan pantai selatan Jawa adalah 10,6 meter,” sambungnya.

Publikasi penelitian ini untuk keperluan mitigasi bencana. Dengan adanya penelitian ini, pemerintah dan masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk mengurangi korban yang ditimbulkan akibat gempa bumi dan tsunami di masa yang akan datang.

Penelitian ini dilakukan Pepen dan sejumlah peneliti lainnya. Mereka di antaranya Sri Widiyantoro, Nuraini Rahma Hanifa, Iswandi Imran, dan Endra Gunawan dari Institut Teknologi Bandung. Kemudian, Tatok Yatimantoro, Daryono, Suko Prayitno Adi, dan Dwikorita Karnawati dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, serta Abdul Muhari dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ada juga Nicholas Rawlinson dari University of Cambridge, Inggris. Hasil penelitian ini sudah diterbitkan di jurnal internasional Natural Hazards (Springer) pada 30 Oktober 2022. [tin]