Hasil Penelusuran Kontak Erat 14 Warga Jabar Terpapar Omicron, Dinkes: Semua Negatif

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Bandung - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat Nina Susana Dewi membeberkan hasil tracing kontak erat 14 warga Jabar yang terkonfirmasi positif Covid-19 varian Omicron negatif. Dari ke-14 orang tersebut, 10 di antaranya isolasi di Wisma Atlet, Jakarta dan 4 warga lainnya menjalani perawatan di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung.

"Semua sudah di-tracing termasuk yang pernah kontak erat. Alhamdulillah semua negatif," ucap Nina, Kamis (13/1/2022).

Diberitakan sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau Emil melaporkan, ada sekitar 14 warga ber-KTP Jabar yang terpapar virus Covid-19 varian Omicron. Dari 14 orang tersebut, 10 orang sedang menjalani isolasi di Wisma Atlet Jakarta dan 4 orang lainnya berada di Kabupaten Bandung.

Emil meyakini kasus Omicron ini datang dari perjalanan luar negeri. "Seperti kejadian di Kabupaten Bandung, kita menduga juga dipicu dari perjalanan luar negeri. Sekarang sedang kita telusuri," ujarnya, Selasa (11/1/2022) lalu.

Dengan kemunculan varian Omicron di wilayah Jabar, Emil mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Tapi tetap waspada terhadap galur baru virus Covid-19 ini.

Menurut dia, varian Omicron memang jauh lebih cepat menular dibandingkan dengan Delta. Namun dari sisi fatalitas, varian Omicron jauh lebih rendah dibandingkan Delta.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Perkuat 3T

Petugas medis melakukan tes usap PCR COVID-19 kepada warga di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, Jakarta, Kamis (22/7/2021). Pemerintah dalam waktu dekat akan meningkatkan testing dan tracing di wilayah padat penduduk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Petugas medis melakukan tes usap PCR COVID-19 kepada warga di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, Jakarta, Kamis (22/7/2021). Pemerintah dalam waktu dekat akan meningkatkan testing dan tracing di wilayah padat penduduk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sementara itu, Pemprov Jabar sudah menyiapkan langkah antisipatif untuk menangani lonjakan kasus Covid-19 akibat varian Omicron. Selain kesiapan fasyankes, penguatan testing, tracing, dan treatment (3T) intens dilakukan di tingkat puskesmas dan menjauhi kerumunan serta mengurangi mobilitas.

Nina mengimbau kepada masyarakat Jabar untuk tidak panik, tetapi tetap waspada. Salah satu bentuk kewaspadaan itu tercermin dalam penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi.

"Kalau tidak hati-hati, kasus Covid-19 pada bulan Februari bisa naik. Tapi penularan bisa tertahan atau landai jika kita bersama-sama meningkatkan prokes," katanya.

Nina menuturkan, penanganan varian Omicron sama dengan penanganan Covid-19 varian lainnya. Pemerintah memperkuat 3T dan fasyankes, sedangkan masyarakat disiplin prokes dalam berkegiatan, menjauhi kerumunan baik di ruang terbuka maupun tertutup dan mengurangi mobilitas.

Berdasarkan pengalaman penanganan gelombang kedua pada pertengahan tahun lalu akan menjadi rujukan Pemprov Jabar. Hal itu mulai dari penyiapan tempat isolasi di level desa, kabupaten/kota, dan provinsi, gencar melakukan tes Covid-19 dan telusur kontak erat, sampai kesiapan obat-obatan dan alat pelindung diri (APD).

"Termasuk vaksinasi Covid-19. Sampai saat ini, cakupan vaksinasi sudah 78-80 persen dari target. Jadi masih ada 20 persen yang kita lakukan vaksinasi," ujar Nina.

Strategi Penanganan Omicron

Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menggelar simulasi penanganan pasien terduga infeksi virus Corona atau Covid-19. (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menggelar simulasi penanganan pasien terduga infeksi virus Corona atau Covid-19. (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Selain itu, Pemprov Jabar pun sudah mengantongi strategi apabila kasus Covid-19 meningkat. Strategi pertama penguatan puskesmas.

Menurut Nina, puskesmas bersama TNI/Polri dan PKK akan gencar melakukan tes dan telusur sebagai upaya mendeteksi dini.

"Kita harus siap, termasuk testingnya. Baik menggunakan rapid test antigen atau PCR. Kita juga harus siap dengan Sumber Daya Manusia (SDM)," cetusnya.

Sedangkan, strategi kedua berkaitan dengan penguatan rumah sakit. Selain tempat tidur untuk penanganan pasien Covid-19, ketersediaan oksigen, APD, dan obat-obat akan disiapkan dengan sebaik-baiknya.

"Kami sudah mempunyai data dari gelombang kedua mana saja rumah sakit yang bisa meningkatkan kapasitas tempat tidurnya sampai 40 persen dari total tempat tidur. Semua sudah ada datanya dan akan kami sampaikan kembali bila ada peningkatan kasus. Kami dari provinsi juga sudah menyiapkan obat-obatan dan APD, bagi kabupaten/kota yang memerlukan APD dapat mengirimkan surat kepada kami," tutur Nina.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel