Hasil Riset: Alergi Kacang dan Kerang Bisa Melindungi Orang dari Covid-19

Merdeka.com - Merdeka.com - Walaupun alergi makanan sangat mengganggu dan dikhawatirkan banyak orang, penelitian terbaru mengungkapkan alergi kacang dan kerang mungkin bisa melindungi banyak orang dari Covid-19.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology dan didanai Institut Kesehatan Nasional (NIH) Amerika Serikat ini menemukan, memiliki alergi makanan bisa mengurangi risiko terpapar Covid-19 sampai 50 persen.

Namun, para peneliti juga menemukan memiliki asma atau alergi seperti eksim dan rhinitis (alergi serbuk bunga) tidak mengurangi risiko infeksi Covid.

Penelitian Epidemiologi Manusia dan Resposn terhadap SARS-CoV-2 (HEROS) juga menemukan anak-anak usia 12 tahun atau lebih muda memiliki kemungkinan yang sama untuk terinfeksi virus corona seperti remaja dan orang dewasa, tapi 75 persen infeksi pada anak-anak tidak bergejala.

Selain itu, penelitian ini juga mengonfirmasi bahwa penularan virus corona di dalam rumah tangga yang ada anak-anaknya tinggi.

"Temuan penelitian HEROS menekankan pentingnya vaksinasi anak-anak dan melaksanakan tindakan kesehatan masyarakat lainnya untuk mencegah mereka terinfeksi SARS-CoV-2, sehingga melindungi anak-anak dan anggota keluarga mereka yang rentan dari virus," jelas Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular NIH, Anthony Fauci.

"Selanjutnya, hubungan yang diamati antara alergi makanan dan risiko infeksi SARS-CoV-2, serta antara indeks massa tubuh dan risiko ini, perlu diselidiki lebih lanjut," lanjut Fauci, dikutip dari laman Al Arabiya, Jumat (3/6).

Penelitian ini dilakukan terhadap lebih dari 4.000 orang dari 1.400 rumah tangga yang memiliki setidaknya satu anggota keluarga di bawah 21 tahun. Penelitian dilakukan antara Mei 2020 dan Februari 2021. Subjek penelitian, sekitar setengah dari mereka melaporkan memiliki asma, eksim, alergi rhinitis, atau elergi makanan, dan berlokasi di 12 kota berbeda di Amerika Serikat.

Setiap dua pekan, setiap orang dalam rumah tangga melakukan tes swab. Setelah itu, setiap peserta mengisi survei mingguan terkait kesehatan dan aktivitas harian mereka. Para peneliti juga mengumpulkan sampel darah peserta secara berkala dan setelah hasil positif Covid-19 pertama keluarga peserta penelitian.

Setelah menemukan orang yang alergi makanan memiliki kemungkinan setengah untuk tertular virus.

Para peneliti berspekulasi, peradangan tipe 2, karakteristik kondisi alergi, dapat mengurangi kadar protein yang disebut reseptor ACE2 pada permukaan sel saluran napas. Virus corona menggunakan reseptor ini untuk memasuki sel, sehingga kelangkaannya dapat membatasi kemampuan virus untuk menginfeksi sel.

Perbedaan perilaku berisiko di antara orang-orang dengan alergi makanan, seperti jarang makan di restoran, juga dapat menjelaskan risiko infeksi yang lebih rendah untuk kelompok ini. Namun, melalui penilaian dua mingguan, tim peneliti menemukan rumah tangga dengan peserta alergi makanan hanya memiliki tingkat paparan komunitas yang sedikit lebih rendah daripada rumah tangga lainnya. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel