Hasil Survei: Sudah 10 Tahun UMKM Sulit Naik Kelas

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional Suminto, mengatakan dalam konteks makro secara global market UMKM Indonesia belum memiliki kapasitas untuk masuk ke ekspor dan berkontribusi dalam perdagangan global.

Hal itu merupakan hasil survei dari BI, BPS, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Koperasi dan UKM terkait UMKM terdampak Covid-19. Ini lantaran UMKM di Indonesia sebanyak 98,7 persen proporsinya tidak berubah selama 10 tahun terakhir atau kesulitan naik kelas.

“Kalau kita lihat dari sisi berkontribusi terhadap GDP UMKM kita sangat besar kontribusinya 60 persen. Dan kalau kita berbicara jumlah unit usahanya itu lebih dari 90 persen, namun demikian kita lihat masih banyak persoalan dengan UMKM kita,” kata Suminto dalam BMT Summit MUI 2020, Senin (16/11/2020).

Permasalahan itu diantaranya, sebanyak 52,5 persen UMKM Indonesia masih bersifat informal. Berdasarkan survey International Finance Corporation (IFC) alasan UMKM masih informal karena banyak pelaku UMKM yang berpikir masuk ke formal bisnis itu rumit, mahal dan susah.

“Mudah-mudahan dengan berbagai reformasi yang kita lakukan termasuk dalam konteks regulatory framework kita baru saja resmikan undang-undang ciptaker yang berusaha untuk memberikan kemudahan usaha, dan kemudahan dalam melakukan bisnis mudah-mudahan dapat di address,” ujarnya.

Kemudian permasalahan dari sisi financial akses, UMKM Indonesia masih mengalami kendala terkait akses terhadap sektor keuangan yang ditunjukkan dengan beberapa indikator penting diantaranya hanya 25,5 persen dari jumlah wirausahawan yang memiliki rekening.

Kredit

BRI memberikan bantuan ke UMKM dalam bentuk KUR.
BRI memberikan bantuan ke UMKM dalam bentuk KUR.

Lalu jumlah kredit yang disalurkan kepada UMKM hanya sebesar 20 persen dari total kredit nasional di mana didominasi oleh bank-bank himbara atau bank-bank BUMN.

Serta hampir separuh dari UMKM itu bergerak di sektor perdagangan yang tentunya tidak memberikan value edit lebih tinggi dibandingkan sektor-sektor yang lebih riil seperti manufacturing.

“Demikian UMKM kita belum banyak terlibat dalam mata rantai produksi sektor usaha menengah besar yang dapat mengangkat UMKM pada sustainability dan meningkatkan kelasnya. In line dengan itu 98,7 persen usaha mikro proporsinya tidak berubah sejak 10 tahun terakhir,” pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: