Hasil Uji Fase 1 Vaksin Nusantara Terawan Diungkap, Ini Efek Samping

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Mantan Menteri Kesegatan RI Terawan Agus Putranto tengah menjadi sorotan usai diketahui tengah mengembangkan vaksin COVID-19 yang diberi nama Vaksin Nusantara. Vaksin tersebut memakai sel dendritik sebagai bahan utama dalam melawan virus SARS-CoV-2.

Sempat memberi pertanyaan besar terkait hasil uji klinis serta diminta transparansinya, kini Terawan hadir dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI untuk memberikan jawabannya. Menurutnya, sel dendritik sebenarnya sudah lama dikembangkan di RSPAD Gatot Subroto, jauh sebelum COVID-19 ada dan menyebar.

Saat COVID-19 telah melanda dan menjadi pandemi, ide untuk mengembangkan sel dendritik itu menjadi sebuah vaksin tercetuskan. Sehingga, hadirlah sebuah vaksin yang tengah dikembangkan saat ini dengan nama vaksin Nusantara.

"Sejak 2015 saya sudah mengembangkan proses cell dendritic vaccine di cell cure center RSPAD Gatot Subroto sehingga ini terus berkembang sehingga begitu ada ide untuk dendritik vaksin untuk COVID-19, gayung jadi bersambut," tutur Terawan.

Menurutnya, tim peneliti telah mendapat uji coba vaksin dari sel dendritik itu terhadap hewan melalui pihak ketiga di Amerika Serikat. Hal itu yang membuat Terawan makin optimistis melangkah dalam pengembangan vaksin COVID-19.

Vaksin dengan sel dendritik ini, lanjut Terawan, dinilai sangat aman lantaran merupakan autolog yang bersumber dari darah pasien sendiri. Untuk pengembangnnya, Terawan melakukan bersama tim peneliti di RSUP dr. Kariadi Semarang bersama Universitas Diponegoro.

Efek samping

Tim Peneliti RSUP dr Kariadi Semarang, Dr dr Muchlis Achsan mengungkap bahwa efek samping pada fase 1 tak ada yang berdampak pada gejala berat. Dalam uji klinis, dibeberkan bahwa subjek terdiri dari 3 pilot dan 28 unblinded subject.

Dari uji coba itu, peneliti melihat dua poin yakni efikasi dan safety. Untuk safety atau keamanan, sebanyak 14, 2 persen subjek mengalami gejala lokal ringan seperti kemerahan, pembengkakkan, dan gatal.

Sementara, 39,2 persen lainnya mengalami reaksi sistemik ringan pada 24 jam pertama, berupa nyeri sendi dan sakit kepala. Lalu, 65,6 persennya mengalami keluhan derajat ringan.

"65,6 Persen keluhan derajat ringan, sisanya kategori derajat 2. Tidak didapatkan kejadian serious adverse event pada seluruh subjek di fase 1," kata Muchlis dalam kesempatan yang sama.

Namun, belum ada keterangan dari Badan POM terkait vaksin Nusantara ini. Terawan berharap agar pihak pemerintah bisa mendukung pengembangan vaksin buatan Tanah Air itu.

"Mudah-mudahan ini terus berlanjut supporting dari Kementerian Kesehatan dan juga Badan POM," tutur Terawan lagi.