Hasto: Asia Pasifik jadi pivot pertarungan geopolitik

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, sekaligus mahasiswa doktoral Universitas Pertahanan, Hasto Kristiyanto mengatakan Asia Pasifik menjadi poros pertarungan geopolitik.

Konstelasi geopolitik saat ini masih diwarnai pertarungan hegemoni yang memperebutkan sumber daya alam (SDA), penguasaan pasar, dan unjuk kekuatan militer, kata Hasto saat memaparkan disertasi dalam Sidang Promosi Terbuka Universitas Pertahanan di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin.

"Dalam pertarungan geopolitik tersebut, Asia Pasifik menjadi pivot geopolitik, sebagaimana telah digambarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1930," kata Hasto di Sentul, Senin.

Saat memaparkan disertasi yang berjudul "Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara" itu, Hasto mengatakan urgensi penelitian tersebut diperkuat dengan hasil penelitian pendahulunya, yang menunjukkan besarnya gap kognisi Soekarno sebagai pemimpin visioner melintasi zaman dan dengan kognisi tinggi rata-rata di atas 52 persen.

Hal itu, lanjutnya, berbanding terbalik dengan kognisi yang relatif rendah terhadap peran Presiden Soekarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non Blok (GNB), dan Pembebasan Irian Barat, dimana mencapai di atas 60 persen.

"Perumusan masalah penelitian ini dengan melihat pertarungan geopolitik di Timur Tengah, kawasan Euro-Asia, dan di Samudera Pasifik, seperti di Laut China Selatan. Semuanya masih diwarnai narasi Eropa dan Amerika Sentris," jelasnya.

Di tengah pertarungan hegemoni tersebut, katanya, pemikiran geopolitik Soekarno dapat menjadi alternatif solusi terhadap berbagai persoalan geopolitik dunia, sehingga penelitian tersebut menjadi penting. Akhirnya, dia merumuskan masalah ke dalam empat pertanyaan penelitian.

"Pertama, apa dan bagaimana pemikiran geopolitik Soekarno dan pengaruhnya bagi kepentingan nasional Indonesia? Kedua, bagaimana pengaruhnya terhadap dunia? Ketiga, bagaimana pengaruh dan dampaknya pada masa pemerintahan Presiden Soekarno? Dan keempat, bagaimana relevansi dan implementasinya terhadap kebijakan pertahanan negara pasca-Soekarno?," kata Hasto saat memaparkan latar belakang disertasi itu.

Dia menjelaskan melalui disertasi tersebut dapat diperoleh manfaat akademis untuk mengonstruksi secara teoritis pemikiran geopolitik Soekarno. Sementara dari segi manfaat praktis, lanjutnya, secara makro disertasi itu sebagai pengarusutamaan kebijakan pembangunan nasional, kepentingan nasional, pertahanan negara, dan kebijakan luar negeri.

​​​​​​​Dalam kesempatan itu, Hasto mengatakan pemikiran geopolitik Soekarno memiliki kerangka pada Pancasila sebagai ideologi politik, guna mewujudkan kepentingan nasional melalui diplomasi luar negeri dan pertahanan bagi terwujudnya tata dunia baru.

Menurut dia, Soekarno memperoleh pendidikan keluarga yang kuat, sehingga memiliki nilai-nilai kepahlawanan, rasa cinta pada Tanah Air, cinta pada alam, dan kemanusiaan yang sangat kuat.

Sementara intelektualitas Soekarno juga kuat, katanya, dimana tradisinya dibangun dari buku yang menjadi sarana pertemuan kritis dengan para tokoh dunia dan dipertajam dengan dialektika pemikiran dengan para pejuang kemerdekaan. Semua itu membentuk tradisi intelektual Soekarno yang memunculkan ide, imajinasi, dan tindakan strategis Soekarno.

"Dalam kerangka pemikiran geopolitik Soekarno, Pancasila sebagai ideologi geopolitik guna perjuangan mewujudkan kepentingan nasional melalui diplomasi luar negeri dan pertahanan bagi tata dunia baru," kata Hasto.

Dia menjelaskan berbagai uji variabel telah dilakukan untuk membuktikan bahwa geopolitik Soekarno sudah memenuhi unsur teoretis dan empiris, juga memenuhi syarat variabel lain, seperti demografi, politik, kepentingan nasional, dan koeksistensi damai.

"Berdasarkan analisis kualitatif dapat disusun body of knowledge Soekarno. Dalam konsepsi ini, Indonesia merupakan satu kesatuan kebangsaan, kenegaraan, tekad atau ideologi, dan satu kesatuan kesadaran cita-cita sosial," ujar.

Presiden kelima RI Prof. Dr. (HC) Megawati Soekarnoputri menjadi salah satu penguji disertasi Hasto Kristiyanto.

Selain Megawati, sejumlah profesor yang menjadi penguji disertasi itu ialah Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Prof. Dr. Jenderal Pol. (Purn) Budi Gunawan selaku penguji eksternal 1, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal Pol. (Purn) Prof. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D. selaku penguji eksternal 2, Prof Dr. Komarudin sebagai penguji eksternal 3, Guru Besar Hubungan Internasional UI Prof. Evi Fitriani selaku penguji eksternal 4, serta Guru Besar Universitas Trisakti Prof. Dr. S. Pantja Djati, S.E., M.Si., M.A. selaku penguji eksternal 5.

Sementara selaku penguji internal program doktoral Hasto ialah Prof Banyu Perwita, MA, Ph.D; Prof Dr. Irdam Ahmad; dan Mayjen TNI. Dr. Joni Widjayanto, yang juga bertindak menjadi Ketua Sidang.

Mantan Menteri Pertahanan Prof Ir. Purnomo Yusgiantoro, PhD menjadi Promotor untuk Hasto meraih gelar doktor. Rektor Universitas Pertahanan Laksdya TNI Prof. Amarulla Octavian merupakan Kopromotor 1 dan Letjen TNI Purn Dr. I Wayan Midhio M.Phil selaku Kopromotor 2.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel