Hasto dan Fachry Ali diskusi tentang pemikiran Soekarno dan demokrasi

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan pengamat sosial politik Fachry Ali berdiskusi tentang pemikiran Bung Karno, Islam dan demokrasi Indonesia saat ini.



"Saya senang bisa berdialog panjang dengan Bang Fachry tentang demokrasi Indonesia, Islam dan Bung Karno," ucap Hasto saat berdialog dengan Fachry di rumahnya yang terletak di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Senin.



Selama lebih dua setengah jam Hasto berdialog dengan Fachry di sebuah ruangan yang penuh buku. Sebagai tuan rumah, di tengah diskusi yang serius meski terkadang dengan tertawa renyah, Fachry menyajikan kopi dan mie aceh kepada Hasto.



"Sebelum datang ke sini, tadi saya melapor ke Ibu Megawati akan berdiskusi dengan Bang Fachry. Ibu Mega menitip salam untuk Bang Fachry," kata Hasto dalam siaran persnya.



Fachry Ali dalam kesempatan itu menyampaikan alasan mengapa beberapa kali menulis tentang kepemimpinan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.



"Saya kagum dengan Mbak Mega terutama peran pentingnya dalam konsolidasi demokrasi, kegigihannya secara konsisten di dalam membangun partai, dan sikap kenegarawanannya di dalam menghadapi masa-masa yang tidak mudah ketika berhadapan dengan pemerintahan Orde Baru. Namun Mbak Mega sosok negarawan yang selalu berpijak pada jalan konstitusi dan ketaatan pada hukum," kata Fachry.



Fachry sempat menanyakan latar belakang Hasto mengambil gelar doktor Ilmu Pertahanan dengan bahasan tentang geopolitik Soekarno.



"Saya usul disertasi Mas Hasto dijadikan buku untuk dibahas di semua kalangan termasuk kalangan akademisi/kampus. Saya undang Hasto untuk memaparkannya di ruangan ini. Karena saya terkadang menggelar diskusi terbatas di ruangan ini dengan kalangan akademisi," kata Fachry, yang juga peneliti senior LP3ES.



Atas permintaan itu, Hasto menceritakan dirinya telah memberi kuliah umum di 16 universitas sejak dirinya meraih gelar doktor.



"Saya siap diundang Bang Fachry dan teman-teman untuk membahas disertasi saya yang mengonstruksikan pemikiran geopolitik Bung Karno," balas Hasto.



Sebelum pamit, Hasto menyerahkan sejumlah buku kepada pria asal Aceh tersebut. Sebagai balasan, Fachri mengajak pria asal Yogyakarta itu ke lantai 2 dimana terdapat sebuah perpustakaan dengan ribuan koleksi buku-buku dalam dan luar negeri.



Hasto pun sangat kagum dengan koleksi ribuan buku dari berbagai pemikiran yang dimiliki Fachry.



"Kesemuanya menunjukkan luasnya khasanah pengetahuan Bang Fachry sebagai cendekiawan yang tidak diragukan komitmennya bagi bangsa dan negara. PDI Perjuangan pun terus mengembangkan tradisi intelektual, mengingat Bung Karno, Bung Hatta dan pendiri bangsa lainnya membangun tradisi pemimpin negarawan dan sekaligus sebagai pemimpin pembelajar yang baik," ujar Hasto penuh apresiasi.



Dia tidak menyangka ada ribuan koleksi buku yang tersusun dengan rapi di lantai 2 itu. Padahal di ruang mereka berbincang di lantai 1 pun penuh buku juga.



"Sungguh ini perpustakaan pribadi yang luar biasa. Saya kagum," kata Hasto sambil menjelaskan bahwa PDI Perjuangan memerlukan sosok pemikir kritis seperti Fachry.



"Terima kasih Mas Hasto telah meninjau ruang perpustakaan saya. Inilah harta kekayaan yang saya miliki," ucap Fachry.