Hasto: Tidak ada radikalisme bila falsafah Pancasila dipahami

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyebutkan bila Pancasila dalam semangat dan ruh kelahiran dan falsafahnya dipahami secara baik, maka tidak akan ada radikalisme di Tanah Air.

Ia mengatakan hal itu saat menjadi pembicara bertajuk "Penguatan Wawasan Kebangsaan, Fakta Radikalisme Global dan Ikhtiar Penyangga NKRI", di Kampus IAIN Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat.


Menurut dia, mereka yang bergerak dengan ajaran membenci pihak lain, dan mengajarkan ideologi kegelapan yang anti kemanusiaan, justru tidak memahami hakekat kehidupan yang ber-Tuhan.

"Sebab mana ada agama yang mengijinkan anti kemanusiaan? Untuk itu pahamilah api Islam dan juga makna yang misalnya terkandung dalam logo NU yang penuh dengan makna Islam sebagai rahmatan lil alamin," kata dia, dalam siaran persnya.

Baca juga: Akademisi: Berbangsa dan bernegara merupakan fitrah manusia

Menurut dia, makna logo NU yang sangat visioner mengenai Indonesia dan dunia dimana peradaban Islam Nusantara memiliki visi yang begitu hebat bagi dunia.

Semua hal itu penting untuk memahami batapa radikalisme menjadi cermin kemunduran peradaban karena minimnya pemahaman terhadap toleransi.

"Soal Pancasila bagaimana? Ketika kita memahami Pancasila berdasarkan falsafah yang sebenarnya, yang disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945, dan kemudian bagaimana Pancasila tersebut diterima secara aklamasi oleh para pendiri bangsa, maka seharusnya Indonesia bebas dari berbagai bentuk radikalisme," ujar dia.

Sebab, lanjut dia, seluruh agama mengajarkan kebaikan, budi pekerti, etika dan moral, serta tidak ada yang mengajarkan sikap yang anti kemanusiaan.

"Maka, Bung Karno menggali seluruh mutiara peradaban Nusantara dan dunia, bagaimana Nusantara tumbuh subur dengan seluruh agama-agama yang ada di dunia, yang menyatu dengan kearifan setempat, dan berkesesuaian dengan kondisi geografis Nusantara sebagai negara kepulauan. Dari Pancasila itu tegas bahwa pada dasarnya Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan," katanya.

Baca juga: Gus Najih: Perlu revitalisasi Pancasila patahkan narasi tagut

Yang perlu diketahui adalah apa makna dari Ketuhanan Yang Maha Esa.

"Bung Karno luar biasa, ketuhanan yang dimaksudkan adalah ketuhanan yang berbudi pekerti. Tidak hanya setiap warga, bahkan negara pun menyembah Tuhan. Dengan cara apa? Sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing. Apakah Pancasila memperbolehkan atheis? Tidak boleh. Karena bukan hanya setiap warga negara Indonesia, tapi negara pun menyembah Tuhan," kata dia.

Dia juga memaparkan bagaimana Indonesia dibangun berdasarkan gotong royong seluruh anak bangsa.

"Indonesia dibangun untuk semua. Meski berbeda suku, agama, status sosial, berbeda jenis kelamin dan profesi, dengan kesadaran bersama berjuang melawan penjajahan Belanda. Atas kesadaran terhadap Jas merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, maka PDI Perjuangan bersama NU memperjuangkan Hari Santri sebagai spirit semangat Hubbul Wathon Minal Amin dan juga Hari Lahir Pancasila," katanya.

Baca juga: Komisi II DPR RI-BPIP sosialisasikan Ideologi Pancasila di Pariaman

Ia lalu memaparkan bagaimana Islam di Nusantara telah berakulturasi, bahkan berdialektika dan bersintesa dengan cara hidup di bumi Nusantara yang begitu majemuk.

"Contoh akulturasi budaya terjadi ketika Sunan Kalijaga berdakwah Islam dengan wayang. Kesatupaduan filosofi Islam menyatu dengan falsafah Nusantara yang telah hidup ribuan tahun sebelumnya. Sayang, kini ada segelintir kelompok yang berpikiran sempit dan mengharamkan wayang dan gamelan," kata dia.

Ia juga mengingatkan kepada mahasiswa IAIN Pontianak agar tidak terpaku pada dalam diri sendiri, namun lebih banyak berpikir keluar seperti Bung Karno.

"Jadi, dari pada mencela pemimpin kita sendiri dan sesama anak bangsa, lebih baik kita berjuang keluar seperti Bung Karno membela kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika, termasuk Aljazair dan Palestina. Itu juga sikap PDI Perjuangan. Maka kami berharap kepada seluruh mahasiswa, gemblenglah Anda untuk menjadi pemimpin bangsa masa depan," kata dia.

Baca juga: Pancasila-Bhineka Tunggal Ika mempersatukan RI hadapi tantangan

Rektor IAIN Pontianak, Dr Syarif, mengatakan kehadiran Hasto sebagai tokoh nasional, untuk berbagi tentang nasionalisme di kalangan warga akademika IAIN.

"Berbagi tentang bagaimana tidak terjadi pemisahan atau dikotomi antara agama dan kehidupan bernegara. Bagi kita Pancasila sudah final. Namun bagaimana memperkuat atau memperbesar partisipasi anak bangsa ini, khususnya para mahasiswa IAIN agar lebih mapan lagi," kata dia.