Hati-hati, Anak Juga Bisa Alami Gejala Long COVID-19

·Bacaan 2 menit

VIVA – Angka kasus COVID-19 belakangan ini di Indonesia menunjukkan kenaikan. Bahkan Rabu 7 Juli kemarin, angka kasus COVID-19 di Indonesia mencapai 34.379 kasus. Selain itu, angka kasus kematian akibat COVID-19 di Indonesia pada Rabu kemarin juga mencatatkan angka tertinggi yakni 1.040 kasus.

Meski begitu angka kesembuhan pasien COVID-19 juga cukup tinggi yakni 14.835 pasien. Namun, setelah dinyatakan sembuh dan negatif dari COVID-19, sejumlah pasien juga rentan mengalami gejala long COVID-19.

Long covid adalah gejala yang dihadapi oleh orang-orang bahkan setelah mereka sembuh dari penyakit dan dites negatif untuk hal yang sama.

Tidak hanya orang dewasa saja, ternyata long covid juga bisa dialami oleh anak-anak. Hal ini diungkapkan oleh Spesialis Paru, dr. Praseno Hadi, PhD, Sp.P dalam program Hidup Sehat tvOne, Kamis 8 Juli 2021.

"Fakta, ada survei tidak banyak kasusnya ada ratusan. 60 persen alami sisa, 30 persen bisa sempurna. dari berbagai usai. second wave kasus anak lebih banyak, mungkin akan terjadi gejala sisa," kata dia.

Dia juga menjelaskan bahwa anak-anak yang mengalami long covid, organ-organ tubuhnya juga dapat mengalami kerusakan. Sama halnya dengan orang tua.

"Sama seperti orang tua, organ-organ yang terkena akan terjadi kerusakan. penyakit ini ga serang 1 organ paru saja, tapi multi organ ginjal, otak karena kurang oksigen, jantung, menyerang darah, multi organ. Kalau gejala sesak nafas tapi yang silent harus kita perhatikan," ungkap dia.

Hadi juga menyebut bahwa mereka yang mengalami long covid untuk tidak melakukan aktivitas secara berlebihan. Namun jika pasien yang sudah sembuh sempurna dapat melakukan aktivitas seperti biasa.

"Tapi tergantung dari derajatnya. kalau sembuh sempurna bisa beraktivitas. Tapi kalau ada gejala seperti sesak nafas berulang tentu kita nilai kemampuan paru, kemudian kasih adjustment aktivitas apa yang bisa dilakukan sesuai kemampuan paru. banyak yang datang ke saya naik dua lantai tidak kuat tentu pekerjaannya akan dibatasi tidak boleh terlalu capek kita nilai apa yang harus dilakukan," ungkap Hadi.

Hadi menyarankan jika sudah dinyatakan negatif COVID-19 melalui hasil PCR yang menunjukkan negatif. Penting bagi pasien untuk rutin berkunjung ke dokter untuk memantau kondisi mereka.

"Kalau pasca COVID dengan pcr negatif dan sembuh kemudian rutin berobat ke dokter sehingga kita bisa berikan pengobatan dalam perbaiki kualitas hidup mendekati sebelum sakit" ungkap Hadi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel