Hati-hati, Beberapa Orang Bisa Tularkan COVID-19 Lebih Berbahaya

Sumiyati

VIVA – Penularan Vrus Corona atau COVID-19 tanpa gejala atau asimptomatik, masih menjadi penyebab kekhawatiran terbesar.

Namun, memerhatikan bagaimana cara penularan COVID-19 atau keparahan gejala belakangan ini, kita mungkin saja salah.

Meskipun penderita COVID-19 asimptomatik tidak menunjukkan gejala dan diam-diam menularkannya ke orang lain, hasil penelitian terbaru menyatakan bahwa  simptomatik, pasien yang menularkan melalui kontak langsung atau melalui droplet mungkin jauh lebih berbahaya. 

Bahkan, hasil penelitian baru menghubungkan antara penyebaran gejala dengan konsekuensi yang jauh lebih mematikan. Pasien yang menunjukkan gejala, mungkin dapat menyebarkan virus corona tiga kali lebih lama dibanding orang tanpa gejala. Apa sebabnya?

Dilansir Times of India, pasien virus corona asimptomatik dianggap sebagai orang yang mengembangkan infeksi virus tetapi tidak mengembangkan gejala penyakit. Kecuali, mereka dites atau dirawat secara medis, mereka mungkin akan menyebarkan virus ke orang lain tanpa sadar. 

Sedangkan simptomatik, berarti seseorang menderita gejala infeksi yang terdokumentasi dan dapat dengan mudah menyebarkannya ke orang lain melalui segala bentuk penularan. Tergantung pada banyak faktor, virus corona simptomatik dapat bersifat ringan, sedang dan presimptomatik. 

Gejala khas dapat berkisar dari batuk, sesak napas, sakit kepala, kehilangan indra penciuman, masalah pencernaan atau lebih buruk, dan serangan pernapasan yang terbukti fatal. 

Sebuah studi yang dilakukan oleh JAMA mengatakan virus dapat tetap menular pada permukaan tidak hidup pada suhu kamar hingga 9 hari, meskipun masih harus ada lebih banyak penelitian lagi untuk menyimpulkan bukti ini, yang berkaitan dengan fakta bahwa periode penularan lebih tinggi dari apa yang kita bayangkan. 

Individu tanpa gejala cenderung menunjukkan gejala menular lebih rendah dibanding orang yang memiliki gejala khas. Hasil penelitian juga menunjukkan, mereka yang memiliki gejala ringan tetap menular untuk waktu yang lebih lama dibanding mereka yang memiliki gejala atipikal. 

Logikanya, jika kamu tidak menunjukkan gejala, yaitu tidak bersin atau batuk, maka kamu tidak melepaskan banyak percikan. Dengan demikian, berpotensi tidak menyebarkan virus.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Departemen Penyakit Menular di Rumah Sakit Zhongnan, di Wuhan, China juga menemukan hal yang sama pada kumpulan pasien COVID-19. Diamati bahwa pembawa asimptomatik yang menular selama 3 - 12 hari maksimum, sementara yang memiliki gejala khas mungkin dapat menyebarkan virus selama 16 - 24 hari, tersirat mereka yang memiliki gejala menyebarkan virus tiga kali lebih lama dibanding mereka yang tidak menunjukkan gejala. 

Sars-COV-2 merupakan virus pernapasan. Para ahli mengatakan bahwa penularan memuncak ketika seorang pasien mulai menunjukkan gejala seperti demam, batuk dan sesak napas. Ada beberapa penelitian berbeda yang menyebutkan hal-hal berbeda pula. Tetapi seorang pasien dianggap tidak lagi menularkan virus ketika viral load dalam tubuh berkurang (yang dapat berlangsung antara 14 - 21 hari). Itulah sebabnya harus melakukan isolasi mandiri dan menerapkan jarak sosial.