Hati-hati! Terlalu Banyak Duduk Berisiko Terkena Stroke

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Orang dewasa yang berusia di bawah 60 tahun cenderung menghabiskan sebagian besar harinya untuk duduk. Ternyata, hal ini bisa memberikan risiko penyakit stroke yang lebih tinggi dibanding dengan orang yang menghabiskan lebih banyak waktunya untuk aktif secara fisik.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh American Heart Association, duduk selama delapan jam atau lebih setiap hari dan tidak terlalu aktif secara fisik berisiko terkena stroke dibanding orang yang menghabiskan waktu kurang dari empat jam atau setidaknya 10 menit untuk berolahraga.

Dalam analisisnya, para peneliti memasukkan informasi kesehatan dari 143.000 orang dewasa yang berasal dari Survei Kesehatan Masyarakat Kanada. Peneliti tersebut memantau perserta yang berusia 40 tahun ke atas tanpa riwayat stroke sebelumnya, selama rata-rata 9,4 tahun.

“Waktu duduk dianggap menggangu glukosa, metabolisme lipid, dan aliran darah, serta meningkatkan peradangan dalam tubuh. Perubahan ini dari waktu ke waktu mungkin berefek buruk pada pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke,” jelas Raed Joundi, sarjana klinis di McMaster University di Ontario, Kanada, seperti dikutip laman CNN, Sabtu (28/08/2021).

Dari 2.965 orang yang mengalami stroke selama masa studi, 90 persen terkena stroke iskemik. Stroke ini adalah yang paling umum, kata Joundi.

Penyakit ini terjadi ketika arteri yang memasok darah ke otak mengalami penyumbatan. Jika tidak segera diobati, sel-sel otak di daerah itu mungkin mulai mati karena kekurangan oksigen, kata Joundi.

Tanda-tanda Stroke

Ilustrasi Jantung Credit: unsplash.com/Robina
Ilustrasi Jantung Credit: unsplash.com/Robina

Sementara itu Kerry Stewart profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins di Baltimore, Maryland mengatakan bahwa ada beberapa tanda yang menunjukkan seseorang mungkin mengalami stroke.

Gejala umum yang biasanya terjadi adalah merasa lemah di area lengan, kaki, atau wajah. Selain itu, bicara secara cadel dan kesulitan mendengar serta melihat mungkin itu menjadi tanda stroke lain, kata Stewart.

Jika Anda tiba-tiba mengalami sakit kepala parah yang tidak terkait dengan kondisi kesehatan lain, itu pun bisa menjadi sebuah pertanda.

Cara Mengurangi Kemungkinan Stroke

Untuk mencegah agar tidak terjadi, Anda bisa melakukan beberapa cara untuk mengurangi kemungkinan stroke tersebut. Salah satunya dengan meningkatkan aktivitas fisik sambil mengurangi waktu duduk. Hal ini dapat menurunkan risiko stroke, kata Stewart.

Stewart pun menyarankan untuk mulai lebih banyak berdiri dan lebih sedikit duduk. Selain itu, buatlah perubahan kecil dalam rutinitas, seperti naik turun tangga.

Menurut American Heart Association, orang dewasa memang perlu waktu setidaknya 150 menit per minggu untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang. Joundi mengatakan, idealnya perlu setidaknya 10 menit setiap kali seseorang melakukan aktivitas fisik tersebut.

“Aktivitas dengan intensitas sedang ketika Anda berolahraga cukup untuk meningkatkan detak jantung dan mengeluarkan keringat, seperti jalan cepat atau bersepeda,” kata Joundi.

Sementara ada penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa ada 10 faktor yang berisiko terkena stroke tetapi risiko ini mungkin termodifikasi dengan hal lain. Salah satunya mengonsumsi alkohol, 90 persen berisiko terkena stroke, kata Joundi.

Untuk mengurangi risiko stroke ini, Joundi menyarankan agar setiap orang harus fokus mengurangi waktu senggang. “Meningkatkan aktivitas fisik adalah salah satu komponen penting dari pengurangan risiko stroke, bersama dengan diet bergizi, berhenti merokok, dan mendiagnosis serta mengobati kondisi seperti tekanan darah tinggi dan diabetes,” katanya.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel