Hatta tidak bisa prediksi kapan demo kenaikan BBM berakhir

MERDEKA.COM. Kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak serta merta dapat diterima semua pihak. Terutama dari kalangan mahasiswa dan buruh.

Dalam beberapa pekan terakhir, gelombang aksi penolakan atas kebijakan kenaikan harga BBM marak terjadi dan dilakukan secara massif di pelbagai daerah. Aksi unjuk rasa pun tidak jarang berakhir bentrok antara massa demonstran dan aparat keamanan.

Pemerintah menanggapi santai hal ini. Menko Perekonomian Hatta Rajasa menganggap aksi demonstrasi biasa terjadi di Indonesia. "Demo itu biasa, namanya juga negara demokrasi," ujar Hatta usai meninjau pelaksanaan pencairan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) di Kantor Pos Mampang, Jakarta, Sabtu (22/6).

Tidak menutup kemungkinan, aksi dan gelombang unjuk rasa masih akan terjadi meski pemerintah telah mengumumkan secara resmi kenaikan harga BBM. Hatta sendiri mengaku tidak bisa memprediksi kapan gelombang penolakan mereda.

"Masa saya meramalkan sampai kapan, ini baru disesuaikan dengan harga wajar, bukan sesuatu yang luar biasa, kalau berjaga itu dilakukan," jelasnya.

Sebelumnya, pasca pengumuman kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), aparat keamanan memiliki tugas mengamankan sejumlah titik yang berpotensi mengalami gangguan. Menteri Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto menyatakan, ada empat titik yang menjadi konsentrasi aparat untuk diamankan.

Djoko mengaku sudah menginstruksikan Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk bertindak tegas kepada siapapun yang merespons kenaikan BBM secara anarkis dan melanggar hukum. Pengamanan sudah berjalan sejak seminggu yang lalu.

Djoko meminta masyarakat tidak berniat menimbun atau menciptakan kerusuhan akibat ketidakpuasan terhadap kebijakan kenaikan harga BBM. "Sudah diamankan SPBU, yang penting jangan ada memanfaatkan situasi seperti ini, seperti penimbunan dan demo anarkis," katanya.

Djoko sekaligus menyatakan seluruh Indonesia kini dalam kondisi tidak enak lantaran kenaikan BBM. Mantan Panglima TNI itu menilai potensi ketidakpuasan memang terpantau sangat tinggi di beberapa wilayah.

"Situasi sedang tidak enak, dan masyarakat terkena dampaknya," ungkapnya.

 

 

 

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.