HDF Energy resmi bermitra dengan US International DFC

PT HDF Energy Indonesia, Hydrogène de France SA (HDF Energy) group, secara resmi bermitra dengan US International Development Finance Corporation (DFC) untuk mendukung pengembangan pembangkit listrik multi-megawatt Renewstable di Indonesia.

Bulan sebelumnya, HDF Energy telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan PT PLN Nusantara Power, anak perusahaan PT PLN Persero untuk menyinergikan kegiatan, sumber daya, dan keahlian dalam mendukung studi serta pengembangan proyek hidrogen hijau.

“Indonesia menghadapi tantangan yang unik sebagai negara kepulauan. Kemitraan kami dengan DFC, dikombinasikan dengan kerja sama kami dengan PT PLN Nusantara Power (ex PJB), merupakan langkah penting dalam pengembangan pembangkit listrik Renewstable di Indonesia,” ujar Presiden Direktur PT HDF Energy Indonesia Mathieu Geze dalam keterangan resmi, Jakarta, Jumat.

Lebih lanjut, Mathieu Geze mengemukakan, pengembangan pembangkit tersebut dapat membantu Indonesia dalam upaya dekarbonisasi jaringan listrik dengan mengurangi konsumsi solar, sekaligus mendukung agenda pemerintah Indonesia terkait pembangunan ekonomi Indonesia Timur.

Proyek-proyek yang dilakukan oleh HDF Energy menekankan posisi kepemimpinan HDF di pasar hidrogen hijau global, dan akan membuat Indonesia menjadi pemimpin proyek hidrogen hijau di Asia.

Chief Climate Officer DFC Jake Levine menyatakan bantuan teknis DFC akan mendukung HDF Energy dalam menjalani fase pertama pengembangan proyek energi bersih dan penyimpanan energi nan inovatif di Indonesia.

Renewstable dari HDF adalah jenis inovasi yang akan sangat penting untuk mendukung transisi energi bersih global, dan DFC sangat senang untuk mendukung tahap awal proyek yang berpotensi menjadi terobosan solusi iklim,” ucapnya.

Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga PT PLN Nusantara Power Muhamad Reza menambahkan bahwa solusi HDF Renewstable yang menggabungkan Variable Renewable Energy (VRE), baterai, dan penyimpanan hidrogen menawarkan alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi konsumsi solar di Indonesia Timur.

“Kami ingin memahami kelayakan proyek dan menjajaki potensi kolaborasi dengan HDF Energy,” kata dia.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah mengumumkan kerja sama dengan Presiden Indonesia Joko Widodo usai pertemuan antara mereka pada 14 November 2022 di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, Bali.

Kerja sama yang diresmikan di sela-sela pelaksanaan KTT G20 di Bali merupakan bagian dari kemitraan strategis yang meliputi 13 inisiatif antara AS serta Indonesia untuk mengatasi krisis iklim dan mendorong akses pangan dan energi yang terjangkau.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia dinilai sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Mayoritas energi Indonesia saat ini berasal dari bahan bakar fosil dengan batu bara, minyak, dan gas yang menyumbang lebih dari 90 persen sumber energi negara.

Banyak wilayah di Indonesia bergantung pada jaringan terisolasi yang mengandalkan bahan bakar diesel, terutama di Indonesia Timur (wilayah Nusa Tenggara Timur, Papua dan Maluku) yang disediakan oleh HDF Energy.

Pembangkit listrik multi-megawatt Renewstable yang diciptakan dan dikembangkan oleh HDF Energy dianggap dapat memberikan solusi untuk masalah ketergantungan energi fosil Indonesia.

Pembangkit Renewstable menghasilkan listrik yang sepenuhnya tidak terputus (non-intermittent), terbarukan (renewable), dan listrik yang siap dikirim setiap saat.

Teknologi ini menggabungkan sumber energi terbarukan bersifat intemiten dan penyimpanan energi jangka panjang yang memanfaatkan hidrogen, sehingga Renewstable dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga diesel.

DFC disebut berkomitmen menyediakan dana hibah bantuan teknis kepada HDF Energy untuk mendukung pengembangan portofolio proyek Renewstable di Indonesia.

Bantuan teknis DFC akan digunakan untuk berbagai studi teknis dan studi kelayakan untuk 22 rencana proyek Renewstable di Indonesia dengan nilai total investasi mencapai 1,5 miliar dolar AS yang juga didukung oleh beberapa lembaga pembangunan.

Proyek pertama Renewstable akan dibangun di pulau Sumba, yaitu pembangkit listrik 10 Megawatt (MW) Renewstable. Proyek ini merupakan salah satu proyek utama guna mendukung pembangunan berkelanjutan pemerintah Indonesia di Pulau Sumba melalui Program Pulau Ikonik Sumba.

Dalam melaksanakan studi, HDF dan DFC akan melibatkan konsultan teknis lokal guna meningkatkan pemahaman lebih tentang peran hidrogen dalam menjawab kebutuhan sektor listrik di wilayah tersebut. Proyek-proyek ini akan menciptakan lapangan kerja hijau (green jobs) di daerah, sehingga berkontribusi terhadap perekonomian daerah dan nasional tanah air.

Baca juga: Dirjen EBTKE: Hidrogen hijau jadi pilar utama dekarbonisasi industri