HEADLINE: Gempa Bandung dan Aktivitas Sesar, Seberapa Besar Potensi Bahayanya?

·Bacaan 8 menit

Liputan6.com, Jakarta Rudi Nurdiniansyah, warga Desa Cibeureum, Kabupaten Bandung, langsung lari keluar rumah saat merasakan guncangan kencang pada Minggu malam (1/11/2020).

Dil luar rumah, Rudy mendapati sejumlah warga yang panik juga melakukan hal yang sama. Mereka menyelamatkan diri dari kemungkinan reruntuhan yang muncul akibat getaran yang menggoyang tempat tinggalnya.

"Saya posisi lagi di rumah. Guncangannya terasa kencang sekali, kebetulan juga ada peringatan Maulid Nabi, orang-orang juga langsung pulang sebagian "kata Rudi Nurdiniansyah, warga Desa Cibeureum saat dihubungi Liputan6.com, Minggu malam (1/11/2020).

Sepengetahuan Rudi, tidak ada dampak kerusakan walau gempa terjadi cukup kencang.

"Alhamdulillah, tidak ada kerusakan. Tadi saya rasakan ada sekitar dua kali susulan, tapi yang kencang yang pertama," ujarnya.

Panik akibat goyangan juga dilakukan Risa Surya Hidayat, warga Ciwastra Kota Bandung. Risa yang saat itu sedang santai bersama keluarga menonton acara televisi, langsung lari keluar rumah saat merasakan ada goyang di dalam rumah.

"Langsung lari ke luar sama adik, tapi tetangga pada enggak keluar. Efeknya sampai sekarang, mau masak mie tapi masih takut tiba-tiba ada susulan," ucap Risa.

Gempa berkekuatan magnitudo 4 menggoyang Bandung, Jawa Barat, Minggu (1/11/2020) malam. Sumber BMKG menyebutkan, gempa terjadi pada pukul 21.34 WIB, berlokasi di 7.2 Lintang Selatan dan 107.6 Bujur Timur atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 21 km tenggara Kabupaten Bandung pada kedalaman 5 kilometer. BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Garsela," tutur Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang Hendro Nugroho, Senin (2/11/2020).

Hendro mengatakan, dampak gempa yang digambarkan oleh peta tingkat guncangan (Shakemap) BMKG dan berdasarkan laporan dari masyarakat, dirasakan di wilayah Kecamatan Pangalengan dengan skala intensitas III MMI. Di mana getaran dirasakan nyata dalam rumah. Dan terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

Di Kecamatan Ciparay, Majalaya dan Baleendah dengan skala intensitas II MMI di mana getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Kemudian di Kecamatan Parompong skala intensitas I MMI di mana getaran tidak dirasakan kecuali dalam keadaan luar biasa oleh beberapa orang.

Hendro mengaku hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempa bumi tersebut. Hingga pukul 22.00 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (after shock).

"Kepada masyarakat dihimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi," kata Hendro.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyatakan, meski rata-rata kekuatannya kecil, bermagnitudo di bawah 5, gempa di Sesar Garsela, salah satu struktur sesar paling aktif di Jawa Barat, dapat berpotensi menyebabkan kerusakan.

"Satu hal yang patut diwaspadai bahwa meskipun magnitudonya kecil, tetapi karena sangat dangkal maka dapat merusak. Banyak kasus gempa kekuatan di bawah 5 dan menimbulkan kerusakan," kata Daryono di Jakarta, Senin (2/11/2020).

Menurut BMKG, gempa sering terjadi di zona Sesar Garsela namun magnitudonya rata-rata tidak sampai melebihi 5. Kendati demikian, guncangan akibat gempa di zona sesar itu seringkali dirasakan oleh masyarakat karena pusatnya sangat dangkal.

Daryono menjelaskan bahwa gempa yang berpusat di Sesar Garsela menyebabkan kerusakan di Rancaekek dan Nagreg pada 18 Juli 2017.

Saat itu gempa mengakibatkan kerusakan pada Control Room Kamojang 4 milik Pertamina Geothermal Energy serta beberapa rumah warga di Kecamatan Ibun dan Kertasari.

Jika mengamati klaster gempa-gempa yang terjadi di Garut selatan, Daryono mengatakan, maka polanya tampak berarah barat daya–timur laut.

Ia menjelaskan bahwa struktur Sesar Garsela jalurnya memanjang dari selatan Garut ke selatan Bandung. Aktivitas gempa yang terjadi di zona itu dominan memiliki mekanisme sumber sesar geser.

Jika ditarik garis lurus yang panjangnya sekitar 42 kilometer, Zona Sesar Garsela terbagi dalam dua segmen, yaitu Segmen Rakutai dan Segmen Kencana yang sama-sama aktif.

Menurut Daryono, hingga saat ini belum diketahui laju pergeseran sesar dan magnitudo tertarget yang dapat dilepaskan oleh Sesar Garsela.

Infografis Gempa Bandung dan Pergerakan Sesar. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Gempa Bandung dan Pergerakan Sesar. (Liputan6.com/Abdillah)

Biasa Terjadi, Intensitas Kecil

Ilustrasi gempa. (Liputan6.com)
Ilustrasi gempa. (Liputan6.com)

Peneliti kegempaan dari ITB Mudrik Rahmawan Daryono menyatakan, gempa di sesar Garsela sudah biasa terjadi sebelumnya. Sebelum gempa Minggu malam (1/11/2020), gempa-gempa kecil intens terjadi di Garsela.

"Penelitian di sana sudah banyak dilakukan dari kawan ITB dan juga Badan Geologi, tapi hasilnya memang tidak ada yang mantap, jadi masih terus diteliti," ujarnya kepada Liputan6.com, Senin (2/11/2020).

Mudrik menjelaskan, konteks mantap yang dimaksud adalah belum menemukan jelas bukti sesarnyanya dimana, kemudian potensi gempanya apakah akan terus kecil atau berpotensi gempa besar.

"Nah ini kan sesuatu yang menyenangkan untuk mitigasi dan kalau bangunan di sekitarnya bagus ya aman saja. Tapi kalau memang itu adalah gempa kecil yang nanti akan menjadi gempa lebih besar lagi harus kita antisipasi bersama," ujarnya.

Untuk memastikan hal itulah, penelitian terhadap Garsela terus dilakukan saat ini. Pihaknya ingin memastikan dengan bukti dan data yang lebih kuat terkait tipikal sesar ini.

"Tapi untuk masyarakat umum, tetap kewaspadaan itu wajib, siap siaga melakukan hal sederhana misal kalau ada anak-anak ketika ada gempa sedikit saja langsung masuk ke kolong meja yang merupakan tindakan SOP bersama," ungkapnya.

Terkait gempa yang terjadi Minggu malam (1/11/2020), Mudrik tidak bisa memastikan apakah berbahaya atau menjadi pertanda akan datangnya gempa yang lebih besar.

"Kita tidak tahu apakah gempa kecil semalam menghasilkan gempa berikutnya yang lebih besar, tapi kalau prinsipnya dari magnitud 4 kecil dengan posisinya yang dangkal pasti akan menimbulkan rasa goncangan yang tak terlalu luas, itu karakternya," kata dia.

Sementara itu, Pakar Geologi Gempa Bumi dan Geotektonik LIPI Danny Hilman Natawidjaja menyatakan, gempa yang menggoyang Bandung dan sekitarnya Minggu malam (1/11/2020) belum bisa dipastikan bersumber dari sesar Garsela. Sebab, menurutnya, hingga saat ini belum bisa dipastikan apakah sesar Garsella itu ada, karena masuk belum dipetakan.

"Sampai sekarang sesar Garsel belum masuk peta sesar aktif Indonesia, karena belum kita verifikasi, juga belum jelas, belum ada ada penelitian yang detailnya," ujarnya kepada Liputan6.com, Senin (2/11/2020).

Hilman menyatakan, di kawasan Bandung banyak sesar-sesar kecil yang belum jelas karena belum dipetakan sampai sekarang. Hanya beberapa saja yang sudah dipetakan, yakni sesar Lembang yang sering diberitakan.

"Kalau itu sudah jelas. (potensi) kekuatannya pun sudah jelas magnitude 7. Kalau terjadi gempa di situ, Bandung akan rata, kekuatannya besar sekali," katanya.

Hilman memastikan jika sampai sesar Lembang ini bergeser dampaknya akan kuat, khususnya di wilayah Lembang dan juga Bandung (kawasan Setiabudi, Dago Utara).

"Biasanya sih kalau magnitudonya 7 untuk zona yang sampai 5 kilometer itu lumayan kuat, kemudian juga itu karena faktor amplifikasi yang tinggi di Bandung, jadi walaupun misalnya ke alun-alun jaraknya misalnya sekitar 15 km, ya tapi akan cukup besar amplifikasinya," jelasnya.

Dalam sejarahnya sesar Lembang, pernah beberapa kali begerak dan mengakibatkan goyangan hebat sekitar 2000 tahun yang lalu.

"Kekuatannya (Magnitudo) 7,7 an, kemudian juga 600 tahun lalu itu juga ada gempa, cuma gak tau persis seberapa besar kekuatannya, 6 atau magintude 7 gitu. Tapi intinya sih sampe sekarang ya datanya masih sedikitlah, perlu dipelajari lebih lanjut," ujarnya.

Hilman menyatakan, kecepatan pergeseran sesar Lembang itu sekitar 5 mm per tahun. Jadi dalam 100 tahun 50 sentimeter atau 2 meter dalam 400 tahun.

"(pergerakan sesar) 2 meter itu bisa menghasilkan gempa magnitude 7. Jadi ya sekitar 400-500 tahun sekali bisa ada gempa dengang magnitude 7 di sesar Lembang ini," jelasnya.

Hilman menambahkan, mitigasi menjadi hal penting dalam menghadapi gempa. Kapan pun gempa terjadi, kerusakan harus bisa diminimalisir.

"Yang menyebabkan faktor kecelakaan itu kan biasanya rumah yang roboh ya, bukan gempanya. Ya artinya kuncinya pembangunan di Bandung, konstruksi rumah, gedung, kantor ya semuanya harus memenuhi persyaratan tahan gempa. Kalau itu diikutin ya aman, kapan pun gempa ya kita gak perlu khawatir," pungkasnya.

Tak Ada Korban

Ilustrasi gempa bumi (sumber: Istockphoto)
Ilustrasi gempa bumi (sumber: Istockphoto)

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Sri Hadiyati menyatakan, pihaknya sudah melakukan mitigasi dengan menyediakan peta kawasan rawan gempa, termasuk di Bandung Jawa Barat.

Gempa magnitudo 4 yang terjadi di kawasan Bandung Minggu malam episenternya di selatan Banjaran. Kawasan tersebut, masuk kategori zona kuning. PVMBG sendiri membagi zona dalam dua zona yakni, merah, yaitu zona rawan gempa bumi tinggi yang berpotensi goncangan di atas 8 MMI (modified mercalli intensity). Sedangkan kuning adalah zona rawan menengah, potensi antara 7-8 MMI.

"Adalagi (zona) rendah dan sangat rendah," ujarnya.

Hadiyati menambahkan, langkah pihaknya mensosialisasi peta itu adalah untuk penguatan kapasitas masyarakat di daerah rawan bencana itu. Sehingga Ketika gempa terjadi masyarakat tau apa yang dilakukan melalui pemda setempat.

"Semalam saya tidak menerima informasi adanya kepanikan dan kerusakan tapi karena mungkin sumbernya juga cukup dalam," ungkapnya.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bandung, Akhmad Djohara mengatakan, tidak ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa pasca gempa magnitudo 4 yang menguncang wilayah Kabupaten Bandung, Minggu (1/11/2020) malam.

"Tidak ada laporan (kerusakan dan korban jiwa), pasca gempa tadi malam. Kondisi lapangan masih aman," katanya kepada Liputan6.com, Senin (2/11/2020)

Hingga kini, Akhmad menegaskan, kondisi lapangan di sejumlah kecamatan yang paling terguncang dinilai aman. Adapun, sejumlah kecamatan tersebut yakni Kecamatan Pangalengan, Kecamatan Ciparay, Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Majalaya.

Akhmad melanjutkan, Kecamatan Pangalengan termasuk wilayah di Kabupaten Bandung yang memang dinilai rawan gempa. Berdasarkan laporan yang ia terima, terjadi 5 kali guncangan di kecamatan itu.

"Pangalengan daerah rawan dan memang ada tanah cukup labil, seperti kejadian gempa 2009. Itu kan titik gempanya di Cipatujah, tapi kerusakan terjadi di Pangalengan. Tapi syukur tidak ada kejadian apa-apa pasca gempa tadi malam," ungkapnya.

Kendati demikian, Akhmad mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada. Masyarakat diminta untuk segera melakukan evakuasi, mengamankan diri dan keluarga jika terjadi gempa susulan.

"Kami imbau kepada warga masyarakat tetap tenang. Tetap waspada, jika terjadi guncangan keluar rumah atau jika memungkinkan berlindung di balik meja yang mampu melindung kepala," tuturnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: