HEADLINE: Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas dan Lava Pijar, Zona Bahaya Diperluas?

·Bacaan 9 menit

Liputan6.com, Jakarta Aktivitas Gunung Merapi kembali meningkat. Awan panas dimuntahkan pada Rabu 27 Januari 2021 siang sekitar pukul 13.35 WIB. Warga lereng Gunung Merapi di Dusun Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul, Kelurahan Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terkejut dan berhamburan keluar rumah.

"Saat ini mereka sudah kembali ke rumah masing-masing," kata Camat Panewu Cangkringan, Suparmono, di Balai Desa Glagaharjo, Rabu, 27 Januari 2021.

Menurut Suparmono, sampai saat ini kondisi di Kalitengah Lor maupun Kalitengah Kidul masih relatif aman dan tidak terpantau adanya hujan abu di wilayah setempat. Pihaknya bersama jajaran TNI dan Polri serta Tagana dan sejumlah kelompok relawan masih terus melakukan pemantauan setiap perkembangan aktivitas Gunung Merapi.

"Di wilayah paling atas Glagaharjo saat ini masih siaga personel Babinkamtibmas dan Babinsa serta sejumlah relawan, sejauh ini masih aman dan tidak ada pengungsian," ujarnya.

Empat hari sebelumnya, Sabtu 23 Januari 2021, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan Gunung Merapi mengeluarkan 17 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur 300-500 meter.

Selama periode pengamatan itu, menurut BPPTKG, Gunung Merapi juga mengalami 24 kali gempa guguran dengan amplitudo 4-23 mm selama 18.3-84.8 detik dan empat kali gempa hembusan dengan amplitudo 4-6 mm selama 12.4-18.4 detik.

Sementara itu, menurut data terbaru pada Kamis (28/1/2021) pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menuturkan belum terjadi rentetan kejadian awan.

Meski demikian, sempat terjadi gempa guguran sebanyak 45 kali. Untuk guguran lava pijar pada periode ini sudah tidak ada.

"Belum tercatat rentetan awan panas, namun sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB hari ini telah terjadi gempa guguran sebanyak 45 kali, embusan 3 kali, dan fase banyak 4 kali, sementara untuk guguran lava pijar pada periode ini tidak ada," kata Hanik.

Dia juga menuturkan, dalam 24 jam terakhir, aktivitas vulkanik Gunung Merapi cukup fluktuatif. Tercatat 52 kali menyemburkan awan panas dengan jarak luncur awan panas yang semakin jauh.

"Jarak luncur awan panas terjauh mencapai 3 kilometer dari puncak. Amplitudo maksimal dari 52 kali semburan tercatat sebesar 77 milimeter, dengan durasi 317.80 detik," jelas dia.

Dia menambahkan, jarak luncur awan panas Gunung Merapi tersebut, teramati arahnya barat daya yakni ke hulu Kali Krasak dan Boyong. "Tinggi kolom (luncuran) teramati tersapu angin kencang dari barat ke timur rata puncak," kata Hanik.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Infografis Rentetan Awan Panas dan Lava Pijar Gunung Merapi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Rentetan Awan Panas dan Lava Pijar Gunung Merapi. (Liputan6.com/Trieyasni)

Status Belum Berubah

Hanik juga memastikan, dengan masihnya aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang masih tinggi walaupun fluktuatif, status Gunung Merapi masih berada di Siaga atau level tiga. Status ini pun belum berubah sejak terjadi aktivitas peningkatan pada 5 November 2020.

"Dengan adanya rentetan kejadian awan panas ini, BPPTKG masih menetapkan status Gunung Merapi di tingkat Siaga (Level III) sejak 5 November 2020," kata Hanik.

Karena status tersebut, lanjut Hanik, potensi bahaya terjadi berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 kilometer.

Sementara itu, kata dia, lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif, tercatat mampu menjangkau radius 3 kilometer dari titik puncak.

"BPPTKG meminta masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya, juga mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Merapi," papar Hanik.

Hanik mengatakan, BPPTKG juga telah merekomendasi agar penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam kawasan rawan bencana (KRB) III untuk dihentikan.

"Pun terhadap pelaku wisata, direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 kilometer dari puncak," kata dia.

Dia juga mengimbau, dengan adanya abu vulkanik dengan intensitas tipis di beberapa desa di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali dan Kota Boyolali, Jawa Tengah, masyarakat jangan melakukan kegiatan terlebih dahulu.

"Mengimbau agar masyarakat tidak melakukan kegiatan di kawasan Rawan Bencana (KRB) III dengan jarak 5 kilometer dari puncak pada alur Kali Krasak, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Bebeng dan Kali Putih," ucapnya.

Selanjutnya, untuk mengurangi risiko dari dampak abu vulkanik, pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat agar mengenakan masker hingga menutup sumber atau penampungan air.

"Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di daerah yang direkomendasikan. Masyarakat diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik seperti menggunakan masker, menggunakan kacamata dan menutup sumber air," ujar Hanik.

Senada, Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Kasbani, selain awan panas guguran juga teramati empat kali guguran dengan jarak luncur maksimum 800 meter ke arah barat daya.

"Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 20 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur, tenggara dan selatan," ujar Kasbani, menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Kamis (28/1/2021).

Kasbani mengatakan, melalui rekaman seismograf pada 27 Januari 2021, Gunung Merapi tercatat pula mengalami 274 kali gempa guguran, 11 kali gempa hembusan, sembilan kali gempa hybrid atau fase banyak, lima kali gempa vulkanik dangkal dan sekali gempa tektonik jauh.

Terus meningkatnya aktivititas Gunung Merapi, Kasbani menerangkan prakiraan daerah bahaya aktivitas vulkanik Gunung Merapi meliputi Desa Glagaharjo (Dusun Kalitengah Lor), Desa Kepuharjo (Dusun Kaliadem), Desa Umbulharjo (Dusun Palemsari) Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY.

"Untuk Provinsi Jawa Tengah berada di Kabupaten Magelang, Kecamatan Dukun, Desa Ngargomulyo sepeti di Dusun Batur Ngisor, Gemer, Ngandong, Karanganyar. Kemudian di Desa Krinjing tepatnya di Dusun Trayem, Pugeran, Trono serta Desa Paten atau di Babadan 1, Babadan 2," kata Kasbani.

Kasbani menambahkan daerah lainya di Provinsi Jawa Tengah antara lain, Desa Tlogolele, Dusun Stabelan, Takeran, Belang. Ditambah Desa Klakah, Dusun Sumber, Bakalan, Bangunsari, Klakah Nduwur dan Desa Jrakah, Dusun Jarak, Sepi Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.

Desa lainnya lanjut Kasbani, adalah Desa Tegal Mulyo, Dusun Pajekan, Canguk, Sumur. Kemudian Desa Sidorejo, Dusun Petung, Kembangan, Deles serta Desa Balerante, Dusun Sambungrejo, Ngipiksari, Gondang, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten.

"Tingkat aktivitas Level III (Siaga) sejak tanggal 5 November 2020 pukul 12.00 WIB. Gunung api Merapi (ketinggian 2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 21 Juni 2020 dengan tinggi kolom erupsi 6.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu," terang Kasbani.

Kasbani mengimbau penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam kawasan rawan bencana (KRB) III direkomendasikan untuk dihentikan. Sedangkan bagi pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan upaya mitigasi bencana akibat letusan Gunung Merapi yang bisa terjadi setiap saat.

"VONA (peringatan jalur penerbangan) terakhir terkirim kode warna orange, terbit pada tanggal 9 Januari 2021, pukul 09.29 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3.168 m dpl atau sekitar 200 meter di atas puncak," sebut Kasbani.

Aktivitas Masih Tinggi, Warga Diminta Waspada

Lava pijar mengalir dari kawah Gunung Merapi di Yogyakarta, Sabtu (23/1/2021). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan Gunung Merapi mengeluarkan 17 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur 300-500 meter pada Sabtu (23/1) pagi. (AFP/Agung Supriyanto)
Lava pijar mengalir dari kawah Gunung Merapi di Yogyakarta, Sabtu (23/1/2021). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan Gunung Merapi mengeluarkan 17 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur 300-500 meter pada Sabtu (23/1) pagi. (AFP/Agung Supriyanto)

Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, aktivitas vulkanik Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah, masih tinggi. Kondisi pada hari ini, Kamis (28/1/2021), pukul 10.13 WIB, terjadi awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 69 mm dan durasi 174.96 detik, tinggi kolom tak teramati berkabut,estimasi Jarak luncur 2000 m ke arah Barat Daya, hulu Kali Krasak, Boyong.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono mengatakan, selain awan panas guguran, Gunung Merapi juga mengeluarkan guguran lava. Eko mengatakan data seismik didominasi oleh kegempaan akibat aktivitas guguran. Untuk laju perubahan fisik gunung (deformasi EDM) cenderung landai.

"Masyarakat perlu mewaspadai bahaya lahar, terutama saat terjadi hujan di puncak Gunung Merapi," kata Eko.

Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya serta selalu mengikuti informasi aktivitas terkini dan rekomendasi dari BPPTKG, pemerintah daerah dan BPDB setempat.

Radius bahaya yang direkomendasikan dihindari oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM untuk Gunung Merapi, yaitu 5 kilometer dari puncak gunung.

Sementara laporan aktivitas Gunung Merapi oleh pengamat gunung api Rachmad Widyo Laksono, melalui situs magma.esdm.go.id periode 06.00-12.00 WIB menyebut, terjadi 1 kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 69 mm dan lama gempa 175 detik.

Selain itu terjadi pula 30 kali gempa guguran dengan amplitudo 3-32 mm dan lama gempa 11-143 detik. Tiga kali gempa hembusan dengan amplitudo 5-7 mm, dan lama gempa 15-19 detik. Empat kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 4-17 mm, S-P 0.6-0.9 detik dan lama gempa 6-9 detik.

"Pengamatan visual gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-I. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 20-28 derajat Celcius. Kelembaban 65-77 persen. Tekanan udara 756-944 mmHg," tulis Rachmad dalam situs Magma.

Rekomendasi yang diterbitkan dalam situs tersebut, mengimbau Pemerintah Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten agar melakukan upaya-upaya mitigasi dalam menghadapi ancaman bahaya erupsi Gunung Merapi yang terjadi saat ini.

Penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam kawasan rawan bencana (KRB III) direkomendasikan untuk dihentikan. Sementara pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

AP I Siapkan Skenario Pengalihan Penerbangan

Bandara Adi Sutjipto di Yogyakarta. (Liputan6.com/Switzy Syabandar)
Bandara Adi Sutjipto di Yogyakarta. (Liputan6.com/Switzy Syabandar)

Sebagai pengelola Bandara Adi Soemarmo Solo dan Bandara Adisutjipto Yogyakarta yang lokasinya berdekatan dengan Gunung Merapi, PT Angkasa Pura I (AP I) telah menyiapkan antisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, saat ini AP I tengah melakukan sejumlah persiapan. Misalnya, melaksanakan aerodrome observation berupa pengamatan lapangan, visual report, dan paper test on airside dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

"Memonitor penerbitan NOTAM oleh Direktorat jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan melaksanakan safety risk assesment," ujar VP Corporate Communication AP I Handy Heryudhitiawan dalam keterangannya, ditulis Kamis (28/1/2021).

Kemudian, AP I juga telah menyiapkan skenario penanganan penumpang untuk mengantisipasi penumpukan di area keberangkatan, area check in, area publik, akibat pembatalan penerbangan (cancel flight).

AP I juga telah melaksanakan skenario pengalihan penerbangan yang berkoordinasi dengan stakeholder terkait serta melakukan pelayanan bagi penumpang yang terdampak delay.

Sebagai informasi, Bandara Adi Soemarmo Solo beroperasi pada pukul 07.00 - 18.00 WIB, sedangkan Bandara Adisutjipto Yogyakarta beroperasi pada pukul 07.00 - 16.00 WIB.

AP I terus berkoordinasi dengan otoritas dan stakeholder terkait dalam memonitor kondisi terkini dan menginformasikan ke publik mengenai status operasional kedua bandara tersebut.

Seluruh penumpang yang akan terbang dari dan menuju Solo dan Yogyakarta, diharapkan untuk terus memantau status penerbangan melalui pihak maskapai.

"Atau dapat mengikuti perkembangan status operasional bandara terkini dengan menghubungi layanan Contact Center Angkasa Pura I di nomor 172 atau Twitter @AngkasaPura172," ujar Handy.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: