HEADLINE: Jokowi dan Pemimpin Dunia Divaksin, Awal Harapan Tuntaskan Pandemi Covid-19?

·Bacaan 12 menit

Liputan6.com, Jakarta - "Tidak terasa sama sekali," ucap Presiden Joko Widodo atau Jokowi sambil tertawa kecil kepada Wakil Ketua Dokter Kepresidenan RI dr. Abdul Muthalib yang menyuntiknya.

Kalimat itu diucapkan Jokowi usai dirinya mendapat suntikan vaksin Covid-19 Sinovac dan menjadi orang pertama yang divaksinasi di Indonesia dengan vaksin asal China tersebut.

Bertempat di teras depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1/2021) pagi, Jokowi bersama sejumlah pejabat dan tokoh publik mendapatkan suntikan pertama vaksin yang menandai dimulainya vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat Indonesia.

Bukan tanpa alasan Jokowi menjadi orang pertama yang divaksinasi serta disiarkan melalui layar televisi dan layanan live streaming ke seluruh Tanah Air. Pro dan kontra tentang keamanan serta kehalalan vaksin Sinovac membuat Jokowi harus turun langsung meyakinkan publik.

Meski sudah mengantongi izin penggunaan atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta dukungan fatwa halal dan suci dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), tetap saja banyak yang meragukan vaksin ini. Karena itu, langkah Jokowi dinilai tepat guna meningkatkan kepercayaan publik.

"Yang diharapkan adalah masyarakat dapat melihat bahwa vaksin itu aman, kemudian bisa menunjukkan bahwa seseorang itu divaksinasi bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga demi kepentingan publik. Artinya, bisa melindungi orang yang divaksin maupun orang yang di sekitarnya," ujar Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio kepada Liputan6.com, Rabu (13/1/2021).

Dia pun meyakini vaksin yang mulai disuntikkan untuk rakyat Indonesia itu akan segera meredakan pandemi. Alasannya, vaksin itu sifatnya adalah mengeliminasi virus masuk ke dalam tubuh, meski di luar tubuh tetap ada virus, tetapi itu tak akan punya efek.

"Jadi intinya adalah pendekatan yang dipakai untuk mengatasi pandemi ini, selama virus itu menjadi tidak bisa hidup di dalam tubuh host-nya, dalam hal ini manusia, maka diharapkan akan terjadi satu penurunan penularan. Yang kedua, akan terjadi penurunan jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi," jelas Amin.

Dia melanjutkan, saat ini yang harus dilakukan pemerintah adalah bagaimana vaksinasi dilakukan sedapat mungkin mencapai lebih dari 70 persen populasi yang nantinya akan mencapai kekebalan.

"Jadi apabila populasi itu sudah kebal, minimum 70-80 persen populasi itu akan terhindar dari infeksi, serta juga akan melindungi orang-orang yang belum divaksinasi.

Jadi yang kebal akan melindungi mereka yang belum divaksinasi," jelas Amin.

Ketika ditanyakan apakah dirinya bersedia divaksinasi Covid-19, Amin menjawab tegas, "Saya siap divaksinasi!"

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Infografis Jokowi dan Pemimpin Dunia Disuntik Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Jokowi dan Pemimpin Dunia Disuntik Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Sementara itu, epidemiolog Universitas Padjadjaran Panji Fortuna Hadisoemarto memastikan vaksin Corona dapat mengurangi angka kesakitan atau kematian akibat Covid-19 dalam waktu cepat. Sementara untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity), dibutuhkan waktu lebih dari satu tahun.

Menurut Panji, dengan angka kesakitan akibat Covid-19 yang berkurang, diharapkan tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan dan rumah sakit darurat tetap terjaga di level aman. Saat ini tingkat keterisian tempat tidur di kabupaten dan kota sudah di atas 80 persen atau dalam level kritis.

"Jika angka kesakitan berkurang, pasien yang dirawat pun berkurang sehingga BOR (bed occupancy rate) tidak akan pernah penuh," ujar Panji dalam keterangan daring Rakor Sub Divisi Komunikasi Publik Satgas Penanganan Covid-19 se-Jawa Barat, Rabu (13/1/2021).

Panji menyanggah adanya pandangan keliru di masyarakat bahwa vaksin dapat membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok dalam waktu cepat. Pasalnya, kekebalan kelompok paling tidak butuh waktu setahun dari sekarang karena harus mencakup 70 persen penduduk.

Kekebalan kelompok, katanya, tergantung dari tiga keadaan. Pertama, seberapa tinggi penularan setelah vaksinasi. Vaksin dapat mencegah sakit, tapi tidak mencegah penularan.

"Kalau penularan (masif) terjadi, herd immunity tidak akan terjadi. Lebih keliru lagi, vaksin disamakan dengan obat yang dapat menyembuhkan penyakit Covid-19," kata Panji.

Sebelumnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan efikasi vaksin Sinovac 65,3 persen. Menurut Panji, efikasi berbeda dengan efektivitas karena efikasi diukur pada tingkat uji klinis.

Dalam kenyataannya, jika seseorang punya penyakit penyerta (komorbid), sangat mungkin efikasi vaksin 65,3 persen tidak tercapai.

"Mungkin lebih rendah, tidak mungkin lebih tinggi. Tapi yang diharapkan tidak akan menurun terlalu jauh," jelas Panji.

Keadaan kedua ungkap Panji, seberapa lama perlindungan yang diberikan vaksin. Vaksin Sinovac impor yang akan disuntikkan di Jabar mulai Kamis (14/1/2021), harus diinjeksi ke satu orang dengan dua dosis atau dua kali penyuntikan. Jarak waktu antara penyuntikan pertama dan kedua adalah dua pekan. Vaksin Sinovac baru akan memberi proteksi dua minggu setelah penyuntikan kedua.

Ketiga, sebanyak apa cakupan masyarakat yang akan divaksin. Secara nasional orang yang harus divaksin 181,5 juta jiwa. Tahap pertama untuk pekerja di kantor kesehatan berjumlah 1,3 juta jiwa.

"Ini baru satu persen saja, sedangkan herd immunity cakupannya harus 70 persen. Jadi masih butuh waktu kurang lebih satu tahun lagi. Tapi untuk mengurangi angka kesakitan, itu pasti," terang Panji.

Panji menambahkan, orang yang positif Covid-19 sebetulnya tidak perlu disuntik vaksin. Tapi tidak menutup kemungkinan orang divaksin tapi ternyata positif Covid-19 tanpa diketahui. Alasannya, hingga kini belum ada laporan orang yang demikian mengalami efek samping yang buruk.

Setelah disuntik vaksin ucap Panji, orang tidak perlu melakukan isolasi mandiri selama dua pekan.

"Tapi kan pasti ada yang nanya, kan sudah divaksin kenapa masih pakai masker? Jawab saja, lebih baik dobel perlindungan daripada single," beber Panji.

Namun dia yakin vaksin Sinovac impor memiliki tingkat keamanan tinggi untuk disuntikkan karena sudah mengantongi izin penggunaan darurat dari BPOM. Apalagi vaksin ini sudah mengantongi sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Menebar Rasa Aman dari Istana

Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri) disuntik vaksin COVID-19 di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1/2021). Vaksinator menyuntikkan vaksin di lengan kiri Presiden Jokowi sekitar pukul 09.42 WIB. (Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev)
Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri) disuntik vaksin COVID-19 di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1/2021). Vaksinator menyuntikkan vaksin di lengan kiri Presiden Jokowi sekitar pukul 09.42 WIB. (Biro Pers Sekretariat Presiden/Laily Rachev)

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Emanual Melkiades Melki Laka Lena menyambut baik sert memberi apresiasi kepada Presiden Jokowi yang menurutnya telah memberi teladan dengan bersedia disuntik pertama kali dalam proses vaksinasi Covid-19. Dia juga melihat, pemberian izin EUA terhadap vaksin Sinovac oleh BPOM dan vaksinasi di Istana Merdeka menandai pola penanganan Covid-19 yang lebih kuat.

"Vaksinasi hari ini yang juga diikuti oleh para pembantu Presiden, para tokoh agama, pemimpin organisasi tenaga kesehatan, para influencer diharapkan memberi dorongan kepada masyarakat untuk lebih yakin dan terlibat aktif dalam vaksinasi," ujar Melki kepada Liputan6.com, Rabu (13/1/2021).

Dia menegaskan, vaksinasi yang dilakukan Presiden harus didukung dengan kampanye edukatif dan persuasif oleh para tokoh dari pusat sampai ke daerah hingga tingkat RT-RW, kampung dan dusun. Sehingga, masyarakat yang memenuhi syarat dan sesuai tahapan yang diatur pemerintah lebih yakin dan lebih aktif untuk ikut vaksinasi.

"Setelah vaksinasi untuk tenaga kesehatan, TNI Polri, pejabat dan petugas publik, titik krusial vaksinasi adalah untuk masyarakat umum. Karena itu mesti diatur secara baik dengan melibatkan partisipasi aktif para tokoh lintas sektor dari pusat sampai daerah," harap wakil rakyat yang membidangi masalah kesehatan ini.

Meski disibukkan degan proses vaksinasi, lanjut Melki, pemerintah dan semua lapisan masyarakat harus tetap mengedepankan disiplin dalam pelaksanaan protokol kesehatan 3M ditambah 2M yaitu menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas.

"Berbagai langkah yang dilakukan pemerintah dan masyarakat, baik vaksinasi, kampanye edukatif dan persuasif disertai operasi yustisi penegakan disiplin protokol kesehatan niscaya akan dapat membuat pengendalian pandemi semakin terkendali," Melki menandasi.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR Nabil Haroen melihat vaksinasi Covid-19 yang diawali Presiden Jokowi dari teras Istana Merdeka, merupakan wujud komitmen pemerintah Indonesia untuk menangani pandemi ini sekuat tenaga.

"Pemerintah telah bekerja keras untuk pengadaan vaksin dan menyiapkan distribusinya. Vaksinasi merupakan langkah bagus untuk melawan Covid-19, dan menjadi solusi bersama agar kita bisa bangkit melawan pandemi," ungkap Nabil kepada Liputan6.com, Rabu (13/1/2021).

Karena itu, lanjut dia, vaksinasi pertama yang diberikan kepada Presiden Joko Widodo serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat merupakan upaya pemerintah dalam memberikan rasa aman terhadap masyarakat akan keberadaan vaksin.

"Ketika Presiden berkenan menjadi orang pertama yang divaksin di republik ini, menunjukkan bahwa masyarakat tidak perlu ragu dalam mengikuti vaksinasi," tegas Nabil.

Dia juga tak mempermasalahkan jika masih ada masyarakat yang tak mau divaksinasi. Dia mengatakan, program vaksinasi ini hanya untuk mereka mau bertahan di tengah pandemi.

"Pemerintah telah memberikan gratis, siapa yang mau silakan. Bagi yang tidak mau jangan membuat pelintiran kebencian, tidak perlu memprovokasi dengan menyampaikan kabar bohong dan sebagainya. Sementara pemerintah sendiri perlu terus menggandeng ormas semisal NU dan Muhammadiyah untuk menyampaikan informasi kepada publik terkait vaksin ini," ujar Nabil.

Di sisi lain, dia meyakini saat pascapandemi, akan banyak yang berubah. Kita tidak bisa berharap semuanya akan kembali seperti sedia kala, melainkan harus kompromi dengan perubahan-perubahan.

"Pascapandemi, kita juga harus siap dengan perubahan, di antaranya dengan terus menjaga kesehatan, menguatkan imun tubuh, menjaga keseimbangan kerja serta hidup sederhana. Alam mengajarkan kita untuk hidup secukupnya di tengah pandemi ini. Kita harus berkompromi dengan tetap menjaga protokol kesehatan," tegas Nabil.

Yang jelas, lanjut dia, dengan semua informasi yang sudah sangat terbuka terkait status vaksin, tak ada lagi harusnya yang menolak menjalani vaksinasi yang diprogramkan pemerintah. Dia sendiri menegaskan siap divaksinasi.

"Sedari awal, saya sudah menyatakan bahwa saya bersedia untuk divaksin. Terlebih setelah terbitnya EUA (Emergency Use Authorization) dari BPOM. Apalagi, sebelumnya MUI sudah memberikan fatwa halal dan suci atas vaksin Sinovac," Nabil memungkasi.

Pemimpin Dunia Penerima Vaksin

Raja Salman dari Arab Saudi disuntik vaksin COVID-19 Pfizer pada 8 Januari 2021 (Saudi Press Agency)
Raja Salman dari Arab Saudi disuntik vaksin COVID-19 Pfizer pada 8 Januari 2021 (Saudi Press Agency)

Meski menjadi orang pertama yang menerima vaksin Covid-19 di Indonesia, Presiden Joko Widodo atau Jokowi bukanlah kepala negara atau kepala pemerintahan pertama yang melakukan itu. Sejumlah nama pemimpin dunia sudah lebih dulu divaksinasi sejak tahun lalu. Berikut nama-nama mereka yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

1. Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa

Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa yang telah menerima vaksinasi Covid-19, Rabu 16 Desember 2020, membuatnya sebagai pemimpin dunia pertama yang menerima imunisasi tersebut. Tidak ada gambar yang dipublikasikan saat raja divaksinasi atau secara spesifik menyebut vaksin yang diterimanya.

"Tuhan telah menganugerahkan Bahrain masyarakat yang memiliki tingkat kesadaran dan ketelitian tinggi untuk mematuhi semua tindakan pencegahan dan arahan yang dikeluarkan oleh gugus tugas nasional medis untuk mengatasi virus Corona, yang telah berdampak besar kepada kemampuan kerajaan untuk membatasi penyebarannya di masyarakat," sebut pernyataan Raja Al Khalifa dikutip dari Kantor Berita Bahrain.

Beberapa hari sebelumnya, Minggu 13 Desember 2020, Bahrain telah menyetujui penggunaan vaksin Covid-19 dari Tiongkok yaitu Sinopharm, setelah persetujuan sebelumnya untuk vaksin Pfizer-BioNTech.

Kantor Berita Bahrain menyatakan vaksin Sinopharm akan tersedia di kerajaan Teluk Persia itu. Namun, hasil studi vaksin Sinopharm hanya sedikit diketahui, sejalan dengan Uni Emirat Arab (UEA) yang mengumumkan vaksin tersebut memiliki tingkat efektivitas 86% tapi tanpa memberikan rincian.

2. Wakil Presiden AS Mike Pence

Mike Pence dan istriny, Karen Pence menerima vaksinasi pertama Covid-19 pada Jumat 18 Desember 2020 dan ditayangkan langsung di televisi. Penyuntikan vaksin virus corona tersebut merupakan upaya untuk meyakinkan masyarakat bahwa vaksin tersebut aman dan efektif. Pence dan istrinya divaksinasi di Gedung Kantor Eksekutif Eisenhower di kompleks Gedung Putih.

Pence mengatakan kepada staf yang melakukan vaksinasi itu, "Saya tidak merasakan apa pun. Bagus."

Vaksin yang diberikan kepada Pence dan istrinya adalah vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech yang sudah disetujui penggunaan daruratnya oleh Badan Pengawan Obat dan Makanan AS (FDA).

3. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Vaksinasi Covid-19 mulai dilaksanakan di Israel, Sabtu 19 Desember 2020. Pelaksanaan program itu ditandai dengan penyuntikan vaksin virus Corona kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Menurut laporan Al Jazeera, Netanyahu dengan demikian menjadi orang pertama di Israel yang menerima vaksin Covid-19.

"Saya yang meminta untuk divaksin pertama kali, bersama dengan Menteri Kesehatan Yuli Edelstein. Hal itu untuk memberikan contoh kepada masyarakat sekaligus membujuk mereka untuk ikut vaksinasi," ujar Netanyahu, Minggu (20/12/2020).

4. Presiden Terpilih AS Joe Biden

Presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden menerima dosis pertama vaksin Covid-19 Pfizer Inc, Senin 21 Desember 2020, di sebuah rumah sakit di Newark, Delaware. Dia mendesak warga Amerika untuk mendapatkan vaksin tersebut jika tersedia.

Biden mengatakan dia akan berjuang melawan virus Corona, yang telah menewaskan lebih dari 315.000 warga Amerika dan menginfeksi lebih dari 17,5 juta jiwa, dan jadi prioritas utamanya ketika mulai menjabat pada 20 Januari 2021.

Dengan baju hitam lengan panjangnya yang digulung, Biden menerima suntikan dari Tabe Mase, perawat dan kepala Pelayanan Kesehatan Karyawan di Rumah Sakit Christiana di Newark, Delaware, di depan wartawan dan disiarkan secara langsung di televisi.

Bahkan, Senin (11/1/2021) lalu Biden sudah menerima dosis kedua vaksin Covid-19, empat minggu setelah dia diberikan suntikan pertama. Biden disuntik dosis kedua vaksin Pfizer-BioNTech di sebuah rumah sakit di Newark, Delaware, negara bagian yang menjadi tempat kelahirannya dan markas transisinya berada.

5. Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong

Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menerima dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech pada hari Jumat (8/1/2021) di Rumah Sakit Umum Singapura (SGH) pada peluncuran resmi vaksinasi untuk petugas kesehatan.

Institusi kesehatan umum, termasuk rumah sakit dan poliklinik, di Singapura akan memulai vaksinasi untuk staf mereka pada hari itu. SGH memperkirakan sekitar 90 karyawannya akan mendapatkan vaksinasi pada hari pertama vaksinasi ini.

Dikutip dari Channel News Asia, peluncuran resmi dilakukan setelah uji coba skala kecil di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular, di mana 40 karyawan menerima suntikan mereka pada 30 Desember 2020.

6. Raja Arab Saudi Salman bi Abdulaziz al-Saud

Pada hari yang sama dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Raja Arab Saudi Salman bi Abdulaziz al-Saud juga menerima dosis pertama vaksin Covid-19 dari Pfizer-BioNTench pada Jumat (8/1/2021).

Menteri Kesehatan Arab Saudi Tawfiq Al-Rabiah berterima kasih kepada Raja Salman lantaran penerimaan vaksin tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan demi kepentingan warga masyarakat sejak awal pandemi hingga saat ini.

"Hari ini, Raja menerima vaksin untuk mencegah dirinya terpapar virus, dan inisiatif ini menegaskan bahwa kerajaan mengutamakan pencegahan dibandingkan pengobatan," ungkap Al-Rabiah.

7. Ratu Inggris Elizabeth II

Sehari berselang, Ratu Inggris Elizabeth II dan suaminya Pangeran Philip menerima vaksinasi Covid-19, Sabtu (9/1/2021). Pihak dari Istana Buckingham mengatakan bahwa Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip mendapat suntikan vaksin Covid-19 di Kastil Windsor. Proses tersebut melibatkan seorang dokter keluarga kerajaan.

Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip adalah dua dari 1,5 juta orang di Inggris yang sejauh ini telah menerima vaksin virus Corona. Vaksinasi ini merupakan salah satu program imunisasi terbesar dalam sejarah Inggris.

Dalam program tersebut pemerintah Inggris menyatakan bahwa pemberian vaksin Covid-19 diprioritaskan kepada orang tua, pengasuh dan petugas kesehatan.

8. Presiden Indonesia Joko Widodo

Bertempat di Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerima suntikan pertama pada Rabu (13/1/2021) pagi. Tidak sendirian, sejumlah tokoh ikut mendampingi Presiden saat divaksinasi dengan vaksin Sinovac buatan China itu.

Mereka antara lain Menkes Budi Gunadi Sadikin, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Idham Azis, Ketua IDI Daeng M Faqih, Kepala BPOM Penny Kusumastuti, Sekjen MUI (Muhammadiyah) Amirsyah Tambunan, Rais Syuriah PBNU Ahmad Ishomuddin, serta wakil dari kalangan milenial Raffi Ahmad.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: