HEADLINE: Kasus COVID-19 Varian Omicron di Indonesia Terus Bertambah, Antisipasi Lonjakan?

·Bacaan 10 menit

Liputan6.com, Jakarta - Rasa-rasanya sulit jadi negara 'bersih' alias nol kasus varian Omicron di tengah pagebluk COVID-19. Belum sebulan sejak temuan pertama kasus COVID-19 varian baru Omicron di Indonesia, saat ini sudah tercatat 414 orang terpapar B.1.1.529.

Kasus pertama terdeteksi di Indonesia pada 15 Desember 2021 pada petugas kebersihan di RS Darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta. Dalam kurun waktu 27 hari, dari 1 menjadi 414 kasus Omicron.

Mayoritas yang terpapar Omicron adalah mereka pelaku perjalanan luar negeri (PPLN). Dari 414, 383 orang adalah mereka yang datang dari luar negeri. Terbanyak adalah PPLN yang datang dari Arab Saudi, Turki, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab.

Melihat temuan fakta yang ada, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat tetap waspada. Jangan sampai Omicron membawa Indonesia kembali dalam lonjakan kasus yang besar.

"Walau kita berhasil mengendalikan pandemi namun kita harus hati-hati, waspada terhadap kemungkinan risiko pandemi karena varian Omicron," kata Jokowi dalam pidato HUT ke-49 PDI Perjuangan secara virtual pada Senin, 10 Januari 2022.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin malah sudah melihat besar kemungkinan Indonesia bakal alami kenaikan kasus karena Omicron. Ia memprediksi bakal terjadi gelombang Omicron dalam waktu dekat.

"Kita akan menghadapi gelombang dari Omicron ini," kata Budi dalam konferensi pers update PPKM pada Senin, 10 Januari 2022.

Namun, Budi meminta agar masyarakat tidak panik karena pemerintah sudah menyiapkan penanganannya dengan baik.

"Tidak usah panik, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik," katanya.

Budi yakin meski gelombang Omicron naik dengan cepat tapi akan turun dengan cepat pula. Selain itu, pemerintah sudah mempelajari pola penularan Omicron berdasarkan kondisi di sejumlah negara.

Infografis Prediksi Lonjakan Kasus Covid-19 di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Prediksi Lonjakan Kasus Covid-19 di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)

Perlu Terapkan Lockdwon?

Kasus Omicron yang terdeteksi memang paling banyak dicatat di DKI Jakarta. Berdasarkan data per 9 Januari 2022, dari 407 orang yang terinfeksi, 86 persen atau 350 orang adalah pelaku perjalanan luar negeri.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyatakan apabila penyebaran Omicron semakin meluas, maka akan ada opsi penerapan lockdown lokal atau micro lockdown di Jakarta.

“Nanti kalau ada penyebaran baru ini tentu ada kebijakan yang ditetapkan sesuai aturan di antaranya bisa saja dilakukan lockdown lokal di tempat tertentu,” kata Ariza pada wartawan, Senin (10/1/2022).

Ariza belum membeberkan syarat dan detail lockdown lokal, ia menyebut kebijakan itu baru akan diterapkan bila ada lonjakan.

“Nanti kita akan tindaklanjuti lagi, kita akan liat situasi kondisinya sesuai fakta dan data yang ada. Prinsipnya semua bekerja yang terbaik, memastikan warga ga terpapar virus,” katanya.

Sementara itu, Dinkes DKI juga menyatakan adanya penerapan penguncian wilayah berskala mikro atau micro lockdown di beberapa lokasi menyusul peningkatan kasus Omicron.

"Dari wilayah diterapkan 'micro lockdown' yang dikelola pimpinan setempat dan masyarakat di sana," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dwi Oktavia.

Saat ini, kebijakan mikro lockdown diberlakukan di RW 002 Kelurahan Krukut, Tamansari, Jakarta Barat. Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Ady Wibowo menerangkan, Satgas COVID-19 tingkat Kota Jakarta Barat menerapkan mikro lockdown sejak Sabtu 8 Agustus 2022.

"Kita sudah aktifkan hari Sabtu lalu pembatasan mobilitas, testing, tracing, dan treatment juga sudah kita lakukan. Kita berlakukan mikro lockdown sesuai perkembangan situasi," ujar Ady kepada wartawan, Minggu 9 Januari 2022.

Penerapan micro lockdown dilakukan meningat ada 36 warga di Krukut terinfeksi COVID-19, satu diantaranya probable Omicron.

Kendati begitu, 35 warga yang dinyatakan positif COVID-19 itu belum bisa dipastikan apakah terinfeksi varian Omicron atau bukan. Namun menurut Ilham, gejala yang dialami warganya tidak berat.

"Gejala-gejalanya sih enggak terlalu berat, kebanyakan pilek, flu, sakit kepala. Enggak ada yang sampai butuh bantuan oksigen, enggak sampai ke situ," terang Lurah Krukut Ilham Nurkarin.

Indonesia Optimistis Kendalikan Omicron

Infografis Jurus Kemenkes Cegah Laju Omicron. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Jurus Kemenkes Cegah Laju Omicron. (Liputan6.com/Abdillah)

Jika di kemudian hari kasus Omicron meledak, Budi yakin gelombang Omicron naik dengan cepat tapi akan turun dengan cepat pula. Selain itu, pemerintah sudah mempelajari pola penularan Omicron berdasarkan kondisi di sejumlah negara.

Senada dengan Budi, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan optimistis Indonesia bisa hadapi Omicron dengan baik. Namun, ia menyarankan dilakukan upaya agar tidak membuat kasus Omicron makin banyak.

"Sistem kesehatan cukup siap hadapi Omicron yang ancam kehidupan kita. Namun, langkah preventif adalah kunci utama," kata Luhut dalam konferensi pers Senin, 10 Januari 2022.

Menurut Luhut, meski ada kecenderungan gejala pada pasien Omicron ringan tapi jika banyak orang sakit dalam waktu bersamaan hal tersebut tentu akan berbahaya. Maka dari itu upaya pencegahan perlu dilakukan dengan pengetatan pintu masuk, disiplin karantina dari yang luar negeri, serta penerapan 3T.

Luhut juga sudah meminta pemerintah daerah bekerja lebih dini untuk mempersiapkan berbagai hal mulai dari rumah sakit hingga obat-obatan dalam menghadapi kenaikan kasus Omicron.

"Kami sudah minta daerah untuk persiapkan rumah sakit, tempat isolasi terpusat untuk memitigasi hal yang tidak diinginkan," kata Luhut.

Terkait hal itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi memastikan, pemerintah sudah menyediakan obat hingga fasilitas kesehatan untuk menghadapi Omicron.

"Sudah ada persiapan dan buffer tambahan (obat hingga hingga fasilitas kesehatan) berdasarkan kondisi varian Delta kemarin," kata Nadia pada Desember 2021.

"Kesiapsiagaan dilakukan di hilir dengan memastikan ketersediaan tempat perawatan isolasi dan intensif tercukupi, termasuk obat-obatan dan ketersediaan ventilator serta oksigen," jelasnya.

Melihat data sementara dari 414 pasien Omicron di RI, Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa gejala varian Omicron cenderung tidak separah Delta.

Sebagian besar tanpa gejala dan gejala ringan. Hanya dua kasus sedang yang membutuhkan bantuan oksigen. Maka dari itu Kemenkes pun melakukan penyesuaian jurus untuk menghadapi varian Omicron.

"Memang kenaikan transmisi Omicron akan jauh lebih tinggi dari Delta. Tetapi yang dirawat jauh lebih sedikit. Sehingga strategi layanan kesehatan akan digeser," kata Budi.

"Sebelumnya fokus ke rumah sakit, sekarang fokusnya ke rumah karena akan banyak orang yang terkena dan tidak perlu ke rumah sakit," tambahnya.

Pemerintah juga telah melakukan kerja sama dengan 17 layanan telemedisin. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan pasien positif COVID-19 yang dirawat di rumah tetap mendapatkan pelayanan dengan yang seharusnya.

"Kami juga sudah bekerja sama dengan 17 platform telemedisin untuk memastikan agar orang yang harus dirawat di rumah tetap bisa mendapatkan akses untuk konsultasi kedokteran dan juga mendapatkan akses untuk delivery obatnya," kata Budi.

Tak hanya itu, Budi menambahkan, pemerintah juga telah bekerja sama dengan Kimia Farma untuk memastikan obat-obatan tersebut bisa sampai pada pasien yang melakukan perawatan di rumah.

Selain itu, Budi dan Luhut sama-sama mengatakan bahwa peran serta masyarakat adalah hal penting dalam menekan kasus Omicron yang tengah beredar di saat varian Delta masih jadi penyebab kasus COVID-19 di RI. Budi dan Luhut meminta masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan dan segera vaksin bagi yang belum.

"Paling penting percepat vaksinasi keluarga kita, rekan-rekan kita yang belum mendapatkan vaksinasi," kata Budi.

Skrining dan Karantina Tanpa Pandang Bulu

Infografis Waspada Lonjakan Kasus Covid-19 Varian Omicron di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Waspada Lonjakan Kasus Covid-19 Varian Omicron di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)

Mengingat sebagian besar kasus Omicron datang dari PPLN, maka pemerintah mengetatkan skrining dan karantina di pintu masuk kedatangan.

"Demi menekan laju penularan Omicron, Pemerintah Indonesia terus meningkatkan upaya skrining ketat di pintu-pintu masuk negara serta menegakkan peraturan karantina tanpa pandang bulu," tegas Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito di Media Center, IS Plaza, Jakarta, ditulis Senin (10/1/2022).

Satgas COVID-19 juga mengimbau Pemerintah dan Satgas COVID-19 Daerah untuk menggencarkan upaya 3T (testing, tracing, treatment) agar dapat menghindari lonjakan kasus COVID-19 di komunitas akibat varian Omicron.

Kementerian Perhubungan RI pun memprediksi kedatangan ke Indonesia akan mulai meningkat signifikan per tanggal 5 Januari 2022 hingga beberapa minggu ke depan. Setidaknya sampai minggu ketiga bulan Januari 2022.

"Langkah antisipasi harus direncanakan sedemikian rupa, termasuk keputusan menunda segala bentuk perjalanan yang tidak mendesak dan terencana, terlebih lagi dalam jumlah besar," terang Wiku.

"Karena akan memberikan risiko terhadap keberhasilan pengendalian COVID-19 pasca libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru)."

Salah satu upaya upaya menekan peluang importasi kasus COVID-19, terutama varian Omicron, Polri meluncurkan Aplikasi Monitoring Karantina pada 6 Januari 2022 di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

"Aplikasi ini bentuk kolaborasi lintas sektor untuk memastikan karantina dijalankan secara disiplin dan tidak ada transmisi lokal, khususnya terkait varian Omicron melalui upaya penyatuan data menjadi satu sistem sebagai visi bersama satu data nasional," Wiku Adisasmito menambahkan.

WNA dari 14 Negara Dilarang Masuk RI

Presiden Jokowi, Luhut, hingga Budi Gunadi dalam banyak kesempatan juga meminta agar masyarakat tidak bepergian dulu ke luar negeri mengingat di sana banyak kasus Omicron. Selain itu, Indonesia juga memperketat pintu masuk dengan mengeluarkan aturan menutup pintu masuk sementara terhadap Warga Negara Asing (WNA) dari 14 negara yang terdeteksi laporan kasus transmisi Omicron tinggi.

Ketentuan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Satgas Penanganan COVID-19 No. 1 Tahun 2022 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Luar Negeri pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

"Surat edaran terbaru ini menegaskan penutupan sementara masuknya WNA yang pernah tinggal atau mengunjungi selama 14 hari di negara atau wilayah kasus Omicron," ujar Wiku melalui pernyataan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Kamis, 6 Januari 2022.

Secara rinci, sesuai surat edaran terbaru yang diteken Ketua Satgas COVID-19 Letjen TNI Suharyanto tertanggal 4 Januari 2022, penutupan sementara ditujukan kepada negara dengan tiga kriteria.

Pertama, yang telah mengkonfirmasi adanya transmisi komunitas varian Omicron, seperti Afrika Selatan, Bostwana, Norwegia, dan Prancis.

Kedua, negara yang secara geografis dekat dengan transmisi varian Omicron, misal Angola, Zambia, Zimbabwe, Malawi, Mozambique, Namibia, Eswatini, Lesotho.

Ketiga, negara dengan jumlah kasus Omicron lebih dari 10.000, yakni Inggris dan Denmark.

Selain surat edaran, ada juga Surat Keputusan Ketua Satgas Penanganan COVID-19 No.2 Tahun 2022 tentang tentang Pintu Masuk (Entry Point), Tempat Karantina dan Kewajiban RT-PCR bagi Warga Negara Indonesia Pelaku Perjalanan Luar Negeri yang juga diterbitkan.

Lewat SK itu maka ada penetapan pintu masuk ke wilayah Negara Kesatuan Repulbik Indonesia bagi WNI pelaku perjalanan luar negeri.

"Jadi, hanya melalui 9 portal, antara lain, Bandara Soekarno Hatta di Banten, Juanda di Jawa Timur, Sam Ratulangi di Sulawesi Utara. Pelabuhan Laut Batam di Kepulauan Riau, Tanjung Pinang di Kepulauan Riau, Nunukan di Kalimantan Utara," tambahnya.

"Selanjutnya, di Pos Lintas Batas Negara Aruk di Kalimantan Barat, Entikong di Kalimantan Barat, dan Motaain di Nusa Tenggara Timur."

Pakar Epidemiologi: Perkuat Deteksi Dini Kasus di Komunitas

Pakar epidemiologi dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengapresiasi kinerja pemerintah dalam mengendalikan Omicron di pintu masuk darat, laut dan udara pada yang baru saja datang dari luar negeri. Para PPLN memang wajib menjalani tes PCR dan karantina guna mencegah penularan di masyarakat.

Menurut Dicky, seharusnya sistem skrining aktif juga dijalankan di komunitas di dalam negeri. Bila hanya terkonsentrasi di pintu masuk sementara pelacakan di dalam negeri tidak diperkuat itu bisa membuat kasus Omicron merajalela.

"Jangankan banyak kasus, satu kasus lokal saja kita lemah dalam mendeteksi dini, ini bisa membuat virus Omicron leluasa bersirkulasi," kata Dicky dalam pesan suara kepada Health-Liputan6.com.

"Kalau sudah transmisi lokal sulit sekali diredam seperti varian Omicron ini," lanjutnya.

Dicky juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa Omicron bukanlah varian ringan. Setiap varian dari COVID-19 bisa memiliki potensi terhadap sakit berat, badai sitokin bahkan kematian.

"Sejak awal saya sudah katakan Omicron jelas tidak ringan. Baru-baru ini di Australia ada atlet 23 tahun sudah divaksinasi, tidak punya komorbid tapi meninggal karena Omicron," kata Dicky.

Ia mengatakan kondisi rawan di Indonesia kemungkinan bisa terjadi sekitar Februari dan Maret 2022. Pada saat itu banyak penduduk yang sudah mulai menurun antibodi terhadap virus SARS-CoV-2 baik yang didapat dari vaksinasi dan maupun terpapar langsung COVID-19 sebelumnya.

"Di situ Omicron dan Delta bisa menimbulkan risiko bila tidak dimitigasi dari sekarang," tandasnya.

Bila upaya pencegahan bisa dilakukan dari sekarang, semoga saja Indonesia tidak mengalami masa krisis seperti India.

Salah satu negara Asia yang terdampak Omicron adalah India. Negara ini mencatat kenaikan kasus COVID-19 tercepat dengan peningkatan infeksi meningkat hingga enam kali lipat dalam sepekan terakhir. Hal ini dipicu oleh penyebaran varian Omicron yang semakin cepat di negara tersebut.

Dalam seminggu India melaporkan lebih dari 780 ribu kasus COVID-19. Selain itu, angka kematian juga meningkat selama seminggu, dari 495 kasus kematian pada minggu lalu kemudian naik menjadi 761.

Wilayah di India yang mencatat kasus COVID-19 tertinggi adalah Maharashtra. Setelah itu, Bengal juga mencatat jumlah kasus tertinggi kedua, hampir enam kali lebih banyak dari minggu sebelumnya.

Tak hanya itu, New Delhi juga mencatat kenaikan kasus hingga sembilan kali lipat.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel