HEADLINE: Kerusuhan Capitol Hill Gagal Jegal Joe Biden, Jadi Cacat Politik Donald Trump?

·Bacaan 16 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mencekam. Suara ledakan, desingan peluru, dan teriakan protes massa, mengubah gedung Capitol Hill bak zona perang. Insiden memalukan pada Rabu 6 Januari siang, yang akan dikenang sepanjang sejarah politik Amerika.

Di gedung Kongres Amerika Serikat itu, para senator dan legislator kocar-kacir menyelamatkan diri. Ratusan orang yang membawa bendera dengan potret wajah Donald Trump, menyerbu tempat berlangsungnya penetapan Joe Biden sebagai Presiden ke-46 AS.

Awalnya, massa pendukung Donald Trump itu menggelar demonstrasi di depan gedung Capitol Hill. Hari itu, rapat gabungan Senat dan DPR AS tengah melangsungkan penghitungan hasil pemungutan suara elektoral Pemilu 2020.

Sekitar pukul 13.00 waktu Amerika, ratusan pendukung Trump tiba-tiba menerobos penghalang yang dipasang kepolisian di sepanjang kompleks Capitol Hill. Sebagian massa lainnya saling dorong dengan aparat kepolisian antihuru-hara. Beberapa dari mereka meneriaki para petugas dengan sebutan "pengkhianat".

Sejumlah pengunjuk rasa juga tampak mencoba memanjat sisi gedung, dan suara hantaman benda juga terdengar beberapa kali. Para pendukung Trump juga terlihat mendorong pagar besi dan polisi.

Untuk mengendalikan situasi, sejumlah aparat menyemprotkan cairan merica kepada kerumunan massa. Gas air mata juga terlihat ditembakkan di tengah bentrokan.

Kalah jumlah, polisi dan petugas keamanan kewalahan. Setelah bentrok sekitar 90 menit, para demonstran berhasil memasuki gedung.

Anggota Kongres AS yang berada dalam gedung langsung diminta aparat keamanan merunduk dan menghindari jendela yang dikhawatirkan dibobol massa. Tak lama, penghuni gedung Capitol Hill dievakuasi polisi. Wakil Presiden AS Mike Pence, juga ikut dievakuasi dari ruang sidang saat sedang memimpin penghitungan suara elektoral. Mereka dibawa ke Pangkalan Angkatan Darat terdekat di Washington, Fort McNair.

Pada pukul 15.00 waktu setempat, kerusuhan kian sengit di Capitol Hill. Polisi mulai menodongkan senjata ke sejumlah orang yang berupaya menerobos barikade. Seorang pendukung Trump juga terlihat berdiri di panggung Senat pada sore harinya.

Seorang wanita yang hingga kini belum teridentifikasi, tewas setelah tertembak di halaman Capitol Hill. Tiga orang lainnya juga tewas akibat situasi darurat medis selama kerusuhan. Sementara, beberapa petugas kepolisian juga ikut terluka dalam bentrokan itu.

Untuk membubarkan massa dan mengakhiri kerusuhan, polisi akhirnya menggunakan granat asap di sisi gedung Senat di Capitol Hill. Gedung Senat dilaporkan baru bisa steril dari perusuh sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Aparat baru bisa mengamankan kompleks Gedung Capitol Hill dari massa Trump sekitar pukul 17.40.

Anggota Kongres pun mulai kembali ke Capitol Hill setelah kompleks gedung tersebut steril dari perusuh. Kongres kembali melanjutkan penghitungan suara elektoral sekitar pukul 20.00 dan resmi menetapkan Joe Biden sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat.

Infografis Rusuh di Capitol Hill AS. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Rusuh di Capitol Hill AS. (Liputan6.com/Trieyasni)

Kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol Hill, Washington D.C, Amerika Serikat ini, memiliki dampak bagi kondisi politik Amerika Serikat. Namun, menurut Pengamat Politik Amerika Serikat sekaligus Ketua Pusat Kajian AS Universitas Indonesia Suzie Sudarman, dampak kerusuhan itu tidak akan berpengaruh kepada jalannya pemerintahan Joe Biden.

"Kalau presidennya sudah terpilih secara formal, enggak ada lagi dampaknya. Itu hanya masalah orang yang mau menjahati Biden, dan nggak bisa ada pengaruh terhadap Kongres juga atau kesulitan bagi Biden dalam menjabat," ujarnya ketika dihubungi Liputan6.com, Kamis (7/1/2021).

Ia menilai, dampak negatif dari kerusuhan di Capitol Hill ini justru akan dirasakan Donald Trump. Kerusuhan ini tidak akan membantu Donald Trump mempertahankan posisinya dan menurunkan elektabilitasnya dalam Pemilu 2024.

"Riots atau kerusuhan ini justru mencerminkan Donald Trump yang berambisi untuk mencalonkan diri kembali pada 2024, itu akan dikurangi kemungkinannya. Mereka kan sedang diskusi tentang Amandemen 25, apakah ia disuruh meletakkan jabatan presiden dan memberikan maaf kepada Trump, atau justru di-impeach kembali," jelas Suzie.

Donald Trump bisa disebut sebagai salah satu sumbu penyulut aksi kerusuhan yang terjadi. Namun apakah ia bisa menerima sanksi atas tuduhan tersebut?

"Ini kan masalahnya jadi masalah partai lagi, apakah partai Republik mau vote untuk menjatuhkan dia dalam impeachment," papar Suzie.

Ia mengatakan bahwa salah satu hal yang paling mungkin adalah Amandemen nomor 25 yang meminta Trump mengundurkan diri dan Mike Pence menggantikannya selama dua minggu, lalu memberikan maaf kepada Trump.

Hal ini dijelaskan menjadi riskan pula, lantaran Donald Trump masih memegang kekuasaan tertinggi dan bukan tidak mungkin bahwa ia akan melakukan perang nuklir dalam kekuasaannya. "Ini yang membuat bekas 10 menteri pertahanan menulis surat bahwa Trump jangan sampai macam-macam, menggunakan tentara untuk mencampuri urusan pemilihan umum," kata Suzie.

Selain kerusuhan di luar Capitol Hill, di dalam gedung kongres, rapat gabungan pengesahan kemenang Joe Biden juga berlangsung panas. Sebanyak 12 Senator dan 140 Anggota DPR dari Partai Republik menentang pengesahan Electoral College dari Arizona, Pennsylvania, dan Georgia sebelum adanya audit.

Menurut Pemerhati Politik Amerika Serikat Didin Nasirudin, penolakan para anggota Kongres pro-Trump di rapat gabungan ini merupakan upaya terakhir Trump dan para pendukungnya untuk menganulir hasil Pilpres 2020. Meski didukung lebih dari 150 anggota Kongres Partai Republik, upaya pamungkas Trump dan CS untuk menjegal Biden dipastikan gagal karena Partai Demokrat menguasai mayoritas kursi DPR, sedangkan sebagian besar Senator Partai Republik tidak mendukung tindakan inkonsitusional.

"Namun, tingginya dukungan terhadap upaya inkonstitusional yang sia-sia ini menyiratkan arti penting: Donald Trump sangat ditakuti dan akan menentukan arah politik partai setelah meninggalkan Gedung Putih," ungkap Didin.

Menurutnya, tekad Trump untuk terus aktif di politik pasca-Gedung Putih, baik sebagai upaya untuk kembali maju menjadi capres di 2024 atau sekadar menjadi 'kingmaker' di pemilu sela 2022 dan pilpres 2024, bisa menjadi pedang bermata dua. Pada satu sisi, aktivitas Trump melalui sosial media, Political Action Committee maupun media (Trump TV seperti banyak dirumorkan, atau program TV rutin di Fox News, Newmax dan One America News Network) mampu memobilisasi pemilih konservatif, sehingga Partai Republik bisa menguasasi Senat dan DPR AS pada midterm election 2022 dan mengantarkan Trump atau capres Partai Republik lain yang didukung Trump menjadi pemenang pilpres 2024.

Dilihat dari berbagai sisi, sambungnya, Pilpres 2020 menjadi referendum bagi kepemimpinan Trump menciptakan rekor dalam hal tingkat partisipasi pemilih (voter turnout) yang mencapai 66,7% tertinggi dalam 120 tahun, dengan jumlah pemilih menembus 150 juta dan dana kampanye pilpres mencapai US$4 miliar, jauh di dana kampanye pilpres-pilpres sebelumnya yang tidak pernah menyentuh US$2 miliar.

Namun, "Penyerbuan ruang rapat Kongres dan vandalism yang dilakukan para fans berat presiden di Capitol Hill Building hari ini bisa menjadi cacat politik serius yang akan menurunkan 'nilai jual' Trump setelah tidak menjabat," Didin memungkasi.

Pernyataan Trump Menyulut Kerusuhan

Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdiri di atas kendaraan polisi di Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Kericuhan terjadi saat massa pendukung Donald Trump merangsek masuk ke dalam Gedung Capitol Hill. (AP Photo/Julio Cortez)
Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdiri di atas kendaraan polisi di Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Kericuhan terjadi saat massa pendukung Donald Trump merangsek masuk ke dalam Gedung Capitol Hill. (AP Photo/Julio Cortez)

Kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol Hill AS pada Rabu 6 Januari 2021 merupakan tragedi yang diduga didorong Donald Trump beberapa jam sebelumnya dan menolak untuk mengutuk kejadian itu sesudahnya.

Kerusuhan ini telah memakan korban jiwa, bahkan mengirim anggota Kongres merunduk untuk berlindung dan evakuasi paksa setelah bom pipa ditemukan di gedung perkantoran terdekat.

Trump, yang menolak untuk mengakui kekalahannya dari Presiden terpilih Demokrat Joe Biden, telah berkali-kali mendesak para pendukungnya untuk datang ke Washington untuk rapat umum pada hari Rabu, hari di mana Dewan Perwakilan dan Senat AS dijadwalkan untuk mengesahkan hasil dari Perguruan Tinggi Pemilihan.

"Secara statistik tidak mungkin kalah dalam Pemilu 2020," ujar Trump dalam tweet-nya pada 20 Desember. "Protes besar di DC pada 6 Januari. Berada di sana, akan menjadi liar!"

Mereka berjumlah ribuan dan mendengar presiden mendesak mereka untuk berbaris di gedung Capitol untuk mengungkapkan kemarahan mereka pada proses pemungutan suara dan untuk menekan pejabat terpilih mereka untuk menolak hasil.

"Kami akan berjalan ke Capitol dan kami akan mendukung senator pemberani kami dan anggota Kongres dan wanita," kata Trump kepada kerumunan, berbicara dengan Gedung Putih sebagai latar belakang.

Muncul di rapat umum terakhirnya sebagai presiden yang duduk, Trump mendesak para pendukungnya "untuk bertarung."

"Kami tidak akan pernah menyerah, kami tidak akan pernah menyerah," kata Trump, menyenangkan kerumunan dengan menyebut kemenangan Demokrat sebagai produk dari apa yang dia sebut "ledakan omong kosong."

Melansir laman CNN, Kamis (7/1/2021), kerusuhan yang terjadi 14 hari sebelum akhir masa kepresidenannya, merupakan suatu insiden yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kejadian itu pun mendorong seruan baru untuk pemakzulan Donald Trump dan pembicaraan baru tentang Amandemen ke-25 yang akan menggulingkannya dari jabatannya.

Beberapa staf senior Gedung Putih mengundurkan diri dan banyak lagi - termasuk penasihat keamanan nasional Presiden - juga mempertimbangkan untuk mundur sebagai protes.

Dalam banyak hal, kejadian tersebut adalah puncak alami dari sebuah kepresidenan yang dibangun di atas pengabaian norma-norma demokrasi, antagonis terhadap lembaga-lembaga pemerintah, dan ketidaktahuan yang disengaja terhadap kecenderungan kekerasan sayap kanan.

Massa menyela tindakan yang akan mengesahkan kemenangan Presiden terpilih Joe Biden dan meresmikan kekalahan Donald Trump.

Tapi meski kejadian ini merupakan suatu hal yang bisa diprediksi, tetap saja itu merupakan titik terendah bagi demokrasi Amerika.

Presiden yang melalui tweet dan videonya, hanya memberikan teguran ringan sambil berusaha membenarkan kejahatan yang dilakukan atas namanya.

Pesan dan videonya kemudian dihapus oleh Twitter dan Facebook dalam apa yang dikatakan perusahaan teknologi tersebut sebagai upaya untuk mencegah lebih banyak kekerasan. Saat ini, akun Twitter Trump untuk sementara ditangguhkan.

Donald Trump juga diketahui merilis video yang direkam untuk mendesak massa pendukungnya.

Banyak di antara mereka yang membawa bendera Trump atau mengenakan perlengkapan bertuliskan Donald Trump - untuk "pulang," sambil terus menyuarakan keluhan mereka tentang hasil pemilu yang dianggap curang.

Selain menghasutnya, Trump tampak tidak terlibat dari huru-hara.

Sebaliknya, tampaknya wakil presiden, yang dievakuasi dari lantai Senat tempat dia memimpin penghitungan Electoral College, bertanggung jawab untuk mengoordinasikan tanggapan pemerintah.

Dalam videonya, Trump justru terlihat memuji massa yang masuk ke Capitol menggunakan kekerasan, mencuri barang-barang dari ruangan dan berpose untuk foto di ruang legislatif.

"Kami mencintaimu," kata Trump. "Kamu sangat spesial."

Kemudian, dia sepertinya membenarkan tindakan tersebut dalam sebuah tweet dengan menulis, "Ini adalah hal-hal dan peristiwa yang terjadi ketika kemenangan pemilihan umum yang sakral begitu saja dan dengan kejam dilucuti."

Ajakan tersebut berbeda jauh dari bagaimana Pence berbicara kepada para perusuh selama sambutan dari lantai Senat.

"Kepada mereka yang mendatangkan malapetaka di Capitol hari ini: Kamu tidak menang," katanya.

5 Fakta Serbuan Massa Donald Trump ke Capitol Hill

Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di pintu masuk samping Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Sejumlah polisi DC pun jadi korban, mereka dibawa ke rumah sakit setelah terkena semprotan merica. (AP Photo/Julio Cortez)
Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di pintu masuk samping Capitol Hill, Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Sejumlah polisi DC pun jadi korban, mereka dibawa ke rumah sakit setelah terkena semprotan merica. (AP Photo/Julio Cortez)

Kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol Hill, Washington D.C, Amerika Serikat telah menjadi isu paling hangat di dunia politik saat ini.

Tak hanya di Amerika Serikat, para pemimpin dunia pun ikut memberikan reaksi mereka terkait hal ini.

Diketahui, insiden pada Rabu 6 Januari waktu AS itu terjadi ketika Kongres hendak mengesahkan kemenangan presiden terpilih Joe Biden. Seketika, massa pendukung Donald Trump pun menyerbu gedung tersebut dan menyatakan ketidakterimaan mereka terkait hal tersebut.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah sejumlah fakta soal kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol Hill, Washington D.C, Amerika Serikat:

1. Terjadi Ketika Kongres Hendak Sahkan Kemenangan Joe Biden

Para pengunjuk rasa naik ke tangga Capitol sekitar 14.15 waktu setempat (19.15 GMT), mendorong melewati barikade dan petugas dengan perlengkapan anti huru hara untuk menembus gedung.

Tindakan itu menargetkan sesi gabungan Kongres yang diadakan untuk mengesahkan kemenangan pemilihan Biden pada 3 November. Invasi itu membuat anggota Kongres berebut untuk berlindung di bawah kursi mereka saat gas air mata ditembakkan.

Massa, yang beberapa di antaranya mengenakan pelindung tubuh - menggunakan bahan kimia yang mengiritasi untuk menyerang polisi, menurut Kepala Polisi Metropolitan Washington Robert Contee.

Mereka berteriak dan melambaikan bendera pro-Trump dan AS saat mereka menjelajahi aula, menuntut hasil pemilihan presiden dibatalkan.

2. Polisi Kewalahan hingga Temuan Bom Pipa

Beberapa ribu pasukan Garda Nasional, agen FBI, dan Dinas Rahasia AS dikerahkan untuk membantu polisi Capitol yang kewalahan.

Dalam insiden tersebut dua bom pipa berhasil ditemukan, satu dari kantor Komite Nasional Demokrat, tidak jauh dari Capitol, dan satu dari markas besar Komite Nasional Republik di dekatnya.

3. Kerusuhan Berlangsung Kurang Lebih 3 Jam

Pendudukan di Gedung Capitol berlangsung lebih dari tiga jam sebelum gedung itu diamankan oleh penegak hukum.

Tetapi ada sedikit tanda bahwa para pengunjuk rasa mengindahkan seruan Trump untuk pulang, meskipun jam malam di seluruh kota diumumkan oleh walikota dari pukul 18:00 hingga 06:00.

4. 52 Orang Ditangkap dan 4 Orang Tewas

Empat orang tewas di halaman Capitol Amerika Serikat pada Rabu (6/1) dan 52 orang telah ditangkap, Kepala Departemen Kepolisian Metropolitan Robert J Contee mengatakan pada Rabu malam.

Dalam konferensi pers larut malam, Contee menolak untuk mengidentifikasi wanita yang ditembak dan dibunuh oleh petugas Kepolisian Capitol dengan mengatakan pemberitahuan dari keluarga terdekat masih menunggu.

Wanita itu ditembak ketika massa mencoba menerobos pintu yang dibarikade di Capitol di mana polisi bersenjata di sisi lain. Dia dirawat di rumah sakit dengan luka tembak dan kemudian meninggal.

Tiga orang lainnya meninggal pada Rabu karena keadaan darurat medis, tambah Contee.

5. Akun Media Sosial Donald Trump Ditangguhkan

Twitter pada Rabu 6 Januari 2021 menghapus beberapa twit Presiden Donald Trump yang bereaksi terhadap kekerasan di Capitol Hill AS.

Di antara twit yang dihapus adalah video yang diposting Donald Trump Rabu sore kepada para pendukungnya. Termasuk yang mengatakan Wakil Presiden Mike Pence tidak memiliki "keberanian" untuk melakukan apa yang diperlukan.

Penghapusan tersebut dilakukan setelah Facebook dan YouTube menghapus video Trump teruntuk para pendukungnya, dan di tengah seruan oleh Anti-Defamation League dan NAACP agar akun media sosial Trump segera ditangguhkan.

Tak lama kemudian, Twitter mengatakan pihaknya telah mengunci akun Presiden Trump selama 12 jam, dan memperingatkan untuk pertama kalinya bahwa bisa saja ditangguhkan secara permanen.

Kunci sementara mencerminkan pelanggaran Donald Trump terhadap aturan Twitter, kata perusahaan itu.

"Kami telah meminta penghapusan tiga Tweet @realDonaldTrump yang diposting sebelumnya hari ini karena pelanggaran berat dan berulang terhadap Kebijakan Integritas Sipil kami," kata Twitter.

"Ini berarti akun @realDonaldTrump akan dikunci selama 12 jam setelah penghapusan twit ini. Jika twit tidak dihapus, akun tersebut akan tetap terkunci."

Twitter menambahkan bahwa "pelanggaran di masa mendatang ... akan mengakibatkan penangguhan permanen akun @realDonaldTrump".

Pengumuman tersebut menandai eskalasi besar-besaran oleh Twitter terhadap akun Trump dan menanggapi seruan oleh kelompok hak sipil agar Trump dilarang dari platform tersebut.

10 Kerusuhan Politik di Ibu Kota AS

Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerbu Capitol Hill di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Kericuhan mengakibatkan seorang wanita tewas di ditembak di dalam Capitol. (AP Photo/John Minchillo)
Massa pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerbu Capitol Hill di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021). Kericuhan mengakibatkan seorang wanita tewas di ditembak di dalam Capitol. (AP Photo/John Minchillo)

Washington D.C adalah rumah bagi ibu kota negara. Selain itu, gedung Capitol Hill juga telah menjadi tempat bagi Senat dan DPR AS dalam membuat, memperdebatkan dan mengesahkan undang-undang sekaligus membantu mengatur negara.

Pada Rabu 6 Januari 2021 waktu setempat, massa pendukung Presiden Donald Trump, yang secara palsu mengklaim telah memenangkan pemilihan telah menyerbu gedung Capitol.

Tapi ini bukan pertama kalinya ibu kota AS mengalami kekerasan politik.

Dari serangan kekerasan terhadap politikus, kebakaran, ledakan, hingga penembakan tanpa pandang bulu, Washington D.C. telah mengalami berbagai insiden gejolak politik.

Mengutip laman Live Science, Kamis (7/1/2021), berikut adalah sejumlah momen ketika Washington D.C mengalami kerusuhan politik:

1. Pembakaran Capitol Hill

Selama Perang 1812 melawan Inggris, pasukan penyerang berbaris ke Washington D.C dan membakar Capitol AS pada 24 Agustus 1814. Demikian menurut sorotan sejarah Senat AS.

Tentara Inggris juga membakar Istana Presiden dan landmark AS lainnya dengan obor dan pasta mesiu, hingga meninggalkan ibu kota dalam reruntuhan.

Pada akhirnya, yang bisa memadamkan api tersebut adalah hujan badai yang sangat deras.

2. Pertarungan Politik secara Fisik

Ada daftar panjang di mana terjadi peristiwa kekerasan politik yang dihasut oleh para politikus.

Misalnya, pada tahun 1856, Perwakilan AS Preston Brooks dari Carolina Selatan menggunakan tongkat untuk secara brutal menyerang Senator AS Charles Sumner dari Massachusetts yang merupakan seorang abolisionis, mengikuti pidato Sumner tentang apakah Kansas harus menjadi budak atau negara bebas.

Dalam contoh lain, pada tahun 1902, Senator junior John McLaurin dari South Carolina menyebut senator senior negara bagiannya, Ben Tillman, pembohong. Tillman segera meninju McLaurin di bagian rahang, dan "ruangan itu meledak dalam kekacauan ketika para anggota berjuang untuk memisahkan kedua anggota delegasi Carolina Selatan," senat AS melaporkan.

3. Ledakan Bom di Senat

Pada tanggal 2 Juli 1915, mantan profesor Jerman di Universitas Harvard, Eric Muenter, menyelinap ke Ruang Resepsi Senat dan meninggalkan tiga batang dinamit.

Faktanya, Muenter ingin meledakkan Kamar Senat, namun dikunci, jadi dia meninggalkan bahan peledak di ruangan sebelah.

Bom meledak sebelum tengah malam, dan tidak ada yang terluka (meskipun seorang perwira Capitol terlempar dari kursinya).

Dengan menggunakan nama samaran, Muenter membingkai tindakannya sebagai "seruan untuk perdamaian" selama Perang Dunia I, dalam sebuah surat kepada Washington Evening Star. Setelah upaya pembunuhan terhadap JP Morgan, Muenter dipenjara, di mana kemudian dia mengambil nyawanya sendiri.

4. Veteran Perang Dunia Pertama Menuju Washington D.C

Setelah Perang Dunia I, sekitar 25.000 veteran AS berkumpul di luar Kongres pada tahun 1932 dalam upaya untuk menerima bonus gaji yang dijanjikan kepada mereka dalam undang-undang sebelumnya. Di bawah undang-undang itu, bonus dijadwalkan pada tahun 1945, tetapi masa Depresi membuat mereka sangat membutuhkan uang.

Bonus dipercepat melewati DPR, tetapi tidak melalui Senat.

Para demonstran kecewa, tetapi bubar dengan damai, dengan beberapa di antaranya mendirikan kemah di dekat Capitol Hill. Bulan berikutnya, pasukan federal bersenjata, yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur, Mayor Dwight Eisenhower dan George Patton, "membakar kamp para veteran, menewaskan beberapa orang dan melukai banyak orang," menurut catatan Senat.

5. Pemboman oleh Weather Underground

Pada awal 1970-an, kelompok anti-Perang Vietnam yang dikenal sebagai Weather Underground menanam serangkaian bahan peledak di sekitar Washington D.C, menurut ensiklopedia Britannica.

Kelompok itu juga meledakkan bahan peledak di kota-kota besar AS lainnya.

Tiga dari anggota pendiri mereka secara tidak sengaja meledakkan diri mereka sendiri pada tahun 1970, saat membuat bom di New York City.

6. Separatisme Puerto Rico

Pada 1 Maret 1954, empat separatis Puerto Rico memasuki lantai gedung DPR selama pemungutan suara yang akan datang. Sebagai bagian dari Partai Nasionalis Puerto Rico, orang-orang ini menginginkan Puerto Rico merdeka, bukan lagi menjadi bagian dari wilayah AS.

Sore itu, para nasionalis Puerto Rico, bersenjatakan pistol, menembak tanpa pandang bulu ke dalam DPR, melukai lima anggota kongres. Keempat penyerang kemudian ditangkap.

7. Bom di Gedung Capitol Hill

Pada November 1983, sebuah bom merusak bagian sayap utara Capitol. Tepat sebelum ledakan, seorang penelepon yang mengaku sebagai anggota "Unit Perlawanan Bersenjata" mengatakan, bom itu dipasang untuk memprotes tindakan militer AS di Grenada dan Lebanon.

Bom tersebut menyebabkan kerusakan senilai $ 250.000, tetapi tidak ada yang terluka.

Setelah penyelidikan selama lima tahun, dakwaan diajukan terhadap enam orang yang diyakini berada di balik serangan itu. Setelah pemboman, keamanan ditingkatkan; sebelumnya, area di luar Kamar Senat terbuka untuk umum, tetapi sekarang hanya terbuka untuk mereka yang memiliki izin.

8. Serangan di Capitol Hill

Pada bulan Juli 1998, seorang penyerang bersenjata menerobos keamanan dan berlari menuju kantor Mayority Whip Rep. Tom DeLay, dari Texas. Dalam upaya mereka untuk menghentikan penyerang, dua petugas Polisi Capitol tewas saat menjalankan tugas. Mereka adalah Petugas Jacob Chestnut, Jr. dan Detektif John Gibson.

Seorang turis wanita juga terluka, begitu pula pria bersenjata, Russell Eugene Weston Jr. yang didiagnosis menderita skizofrenia paranoid dan dinyatakan tidak layak untuk diadili, menurut Forbes. Weston sekarang ditahan di pusat medis federal.

Kedua petugas itu dimakamkan di Pemakaman Nasional Arlington.

9. Terorisme 9/11 dan Antraks

Pada 11 September 2001, tragedi melanda negara itu ketika teroris membajak pesawat komersial dan menabrakkannya ke World Trade Center di New York dan Pentagon di Arlington, Virginia. Pesawat keempat, yang dikenal sebagai United Airlines Flight 93, jatuh di Pennsylvania sebelum mencapai target yang dimaksudkan - kemungkinan gedung Capitol Amerika Serikat, menurut National Park Service.

Tak lama kemudian, virus antraks yang mematikan ditemukan di Capitol Hill, termasuk di kantor Pimpinan Mayoritas Senat Tom Daschle, South Dakota, yang dikirimi surat bertabur bubuk putih halus. Senator Patrick Leahy dari Vermont, juga dikirimi spora antraks.

10. Massa Pendukung Donald Trump Serang Capitol Hill

Pada 6 Januari 2020, pendukung Presiden Trump menyerbu Capitol AS setelah dia mendesak mereka pada rapat umum untuk berbaris di sana, menurut The Washington Post.

Mereka melakukan ini saat Senat tengah memperdebatkan suara electoral college yang diharapkan menjamin kemenangan Presiden Terpilih Joe Biden.

Beberapa politisi menulis tweet tentang kerusuhan tersebut, termasuk Rep. Dan Kildee dari Michigan.

Selama kekacauan itu, seorang wanita ditembak dan kemudian meninggal, The New York Times melaporkan.

Saksikan video pilihan di bawah ini: