HEADLINE: Potensi Klaster Covid-19 Kerumunan Massa di Petamburan, Penanganannya?

·Bacaan 9 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan orang berkumpul di Jalan KS Tubun, Jakarta Barat, Sabtu malam 14 November 2020 lalu. Mereka yang datang dari berbagai daerah di Jakarta itu bergabung dan menyemut untuk menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad dan pernikahan Syarifah Najwa Shihab, putri dari pimpinan FPI, Muhammad Rizieq Shihab.

Usai pernikahan Najwa dengan Irfan Al Idrus rampung, massa kemudian mengikuti rangkaian Maulid Nabi. Lantunan salawat demi salawat yang dipandu tokoh agama pun diikuti para jemaah dengan khusyuk. Hingga Minggu dinihari, sekitar pukul 02.00 WIB, massa pun perlahan mulai membubarkan diri usai mendengarkan ceramah dari Rizieq Shihab.

Namun begitu, usai jemaah bubar, muncul kekhawatiran tersendiri yang menghantui masyarakat. Yaitu adanya potensi penularan covid-19, yang saat ini sedang ganas-ganasnya menyerang Bumi Pertiwi. Bahkan tak hanya di Petamburan, kerumunan saat di Bandara Soekarno-Hatta juga disebut bisa menimbulkan penyebaran virus membahayakan tersebut.

"Jadi tetap ada risiko ya, sejak ada penjemputan di Soekarno-Hatta, sampai akhirnya ada acara maulid dan resepsi pernikahan dari anaknya Habib Rizieq," kata Epidemiologi dari Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (20/11/2020).

Laura mengaku belum dapat memastikan apakah kerumunan massa dalam acara Rizieq Shihab tersebut akan menimbulkan klaster atau tidak. Karena itu, pemerintah harus meningkatkan kapasitas 3 T, yaitu tracing, testing dan treatmen untuk memastikan hal tersebut.

"Saya rasa pemerintah kita perlu meningkatkan kapasitas 3 T-nya, jadi tracing, testing, treatment itu harus dikuatkan," kata dia.

"Kan enggak tahu kalau itu akan menimbulkan klaster atau tidak ketika 3 T tidak dilakukan. Jadi kalau 3 T dilakukan nanti akan ditemukan apakah betul ada klaster dari kegiatan Habib Rizieq, dan juga harapan utamanya tidak hanya menemukan klaster, tapi kemudian bagaimana mengendalikan penyebaran dari klaster tadi," jelas Laura.

Dia mengungkapkan, klaster akan muncul jika didapatkan satu kasus positif yang setelah dilacak kontak erat, ternyata juga positif. Kemudian dari kontak erat yang ditemukan itu akan tracing lagi. "Nah kalau itu ditemukan dalam kelompok besar dari kontak erat, bisa dipastikan akan muncul klaster," ujar dia.

Saat ini, lanjut Laura, baru ditemukan kasus dari Lurah Petamburan Setiyanto yang dinyatakan positif Covid-19. Kalau sudah ditemukan kasus positif, kata dia, mau enggak mau harus dilakukan tracing. Dari tracing ini akan kelihatan apakah betul ada klaster dari kegiatan acara maulid Rizieq Shihab atau tidak.

"Kalau enggak bisa dilakukan secara massal, mungkin bisa dilakukan secara random," ucap dia.

Sementara itu, Ketua Satgas Kewaspadaan dan Kesiagaan Covid- 19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengaku prihatin dengan adanya kerumunan yang terjadi di masyarakat. Karena keramaian itu dikhawatirkan bisa bertambah banyak di kota-kota lainnya.

Namun begitu, Ia menilai massa yang berkumpul dalam acara Maulid Nabi di Petamburan tersebut lebih banyak jumlahnya bila dibandingkan dengan kerumunan massa yang berdemo menolak UU Cipta Kerja.

"Gini, lebih banyak mana kerumunan demo dan Petamburan? Kalau demo lebih banyak, maka Petamburan tak terlalu meningkat. Ada yang saya khawatirkan peningkatan luar biasa itu di pabrik-pabrik, lalu pesantren, gereja ada di Medan dan Bandung, lalu secapa, kantor-kantor. Jadi intinya di ruangan tertutup itu bahaya," ujar dia kepada Liputan6.com, Jumat (20/11/2020).

Jadi sekarang, kata Zubairi, lebih baik disurvei orang-orang yang menghadiri acara Rizieq Shihab tersebut. Kenaikan angka positif covid-19 imbas dari kegiatan itu, kata dia, akan dapat terlihat dalam tenggat waktu dua pekan ke depan.

"Data pernikahan (putri Rizieq Shihab) kita harus tunggu dua minggu lagi. Jadi kalau data di Jakarta meningkat tajam, ya bisa dipastikan akibat kemarin di Petamburan. Kalau masih di bawah angka peningkatan Indonesia, ya nanti dulu ambil kesimpulannya," ujar dia.

Data yang diterima Satgas, per Kamis sore 19 November 2020, untuk wilayah Petamburan Jakarta Pusat telah dilakukan swab terhadap 15 orang. Hasilnya ada 7 orang positif Covid 19, termasuk Lurah Petamburan.

Sedangkan pada Jumat sore (20/11/2020) data mencatat, hasil swab antigen untuk Kluster Mega Mendung adalah yang diperiksa 559 orang, yang positif ada 20 orang. Laporan lain, terdapat 50 orang positif Covid 19 yang mayoritas berdomisili sekitar Tebet.

Untuk itu, Ketua Satgas Doni Monardo berharap kerja sama semua komponen masyarakat di berbagai daerah terutama di DKI Jakarta khususnya para Ketua RT dan Ketua RW untuk menyampaikan pesan kepada keluarga atau pun mereka yang kemarin ikut beraktivitas, mulai dari penjemputan di Bandara Soekarno Hatta, kegiatan Maulid Nabi di Tebet, dan juga di Mega Mendung, serta acara terakhir di Petamburan.

Mereka diminta dengan kesadaran sendiri untuk melaporkan diri kepada Ketua RT dan Ketua RW setempat.

"Pemeriksaan di Puskesmas tanpa dipungut biaya. Pemeriksaan ini sangat penting agar diketahui lebih dini. Jika ada yang positif covid-19 bisa segera isolasi dan tempat isolasi disiapkan pemerintah. Silakan dengan kesadaran dan keikhlasan memeriksa diri ke Puskesmas, demi memutus mata rantai penularan untuk keselamatan bersama," himbau Doni.

Doni menambahkan, pihaknya telah menyalurkan 2.500 swab antigen ke seluruh puskesmas yang berada di daerah-daerah yang berpotensi terjadi peningkatan kasus di DKI, Banten, dan Jabar.

Infografis Kerumunan di Petamburan dan Potensi Klaster Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Kerumunan di Petamburan dan Potensi Klaster Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Lawan dengan Prokes

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Tjandra Yoga Aditama menilai kerumunan massa di Petamburan bisa berpotensi penularan covid-19. Hal itu bisa terjadi bila protokol kesehatan tidak diterapkan termasuk menjaga jarak.

“Kalau jaga jarak tidak dijaga maka potensi penularan lebih besar,” ujar Tjandra kepada Liputan6.com, Jumat (20/11/2020).

Jika kerumunan telah terjadi maka hal yang perlu dilakukan adalah waspada terhadap gejala. Namun begitu, tidak semua orang yang terpapar virus COVID-19 menampilkan gejala.

“Kalau sudah seperti itu maka kita harus cek, ada tidak orang sekitarnya yang sakit. Kalau ada yang sakit, maka yang bersangkutan perlu melakukan karantina diri,” ujar dia.

Jika tidak ada orang yang sakit di sekitar, masyarakat diminta tetap menjaga kesehatannya dengan baik. Sikap kewaspadaan harus tetap dikedepankan demi terhindar dari virus tersebut.

“Soal klaster keluarga atau bukan keluarga, itu cerita lain lagi. Maksud saya, secara umum kalau jaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan tidak dilakukan maka penularan di antara mereka atau di tempat lain lebih mungkin terjadi,” kata Tjandra.

Ia menambahkan, ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan terjadi di berbagai tempat, tidak hanya di Indonesia. Bahkan negara di Eropa sekalipun, masih abai terhadap protokol kesehatan.

“Seperti kita ketahui, Eropa sekarang sedang melangkah ke gelombang kedua, jadi sebagian negara melakukan penguncian kedua,” katanya.

Tjandra mengungkapkan, dalam sebuah Jurnal disebutkan, salah satu penyebab gelombang kedua itu terjadi lantaran masyarakat yang sudah mulai lelah dengan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.

“Salah satu yang banyak diperkirakan menjadi faktor datangnya gelombang kedua adalah restriksi, banyak pelarangan tidak boleh begini tidak boleh begitu, lama-lama orang lelah dan bosan. Dengan demikian orang di Eropa itu tidak patuh lagi dengan protokol,” jelas dia.

Untuk itu, dia menyarankan, sebelum ada vaksin dan obat yang memadai, protokol kesehatan menjadi hal yang harus dilakukan. “Ketika vaksin yang aman belum ada, maka kita harus berpegang pada protokol kesehatan itu.”

Protokol kesehatan, kata Tjandra, sebetulnya bukan hanya 3M saja. Melainkan banyak hal lainnya.

“3T juga termasuk cara mencegah, kalau tes massal dilakukan maka orang yang sakit akan ditemukan kemudian orang sakit itu bisa diisolasi sehingga tidak menyebar ke orang lain," kata dia.

Tjandra mengungkapkan, bila 3 T digalakkan, itu bukan hanya dapat menanggulangi pandemi tapi juga merupakan upaya yang sangat baik untuk pencegahan penularan covid-19.

“Ada satu lagi yang juga perlu, yaitu etiket, seperti cara batuk, tidak bersalaman, itu juga kan bagian dari upaya pencegahan. Hal-hal tersebut adalah upaya yang bisa dilakukan sambil kita menunggu vaksin,” tutupnya.

Klaster Petamburan

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengungkapkan pemerintah telah melakukan swab kepada 15 orang yang ikut dalam kerumunan acara Rizieq Shihab di wilayah Petamburan, Jakarta Pusat hingga Kamis 19 November 2020 sore. Hasilnya, 7 orang positif Covid-19.

"Data yang diterima Satgas, per Kamis sore 19 November, untuk wilayah Petamburan Jakarta Pusat telah dilakukan swab terhadap 15 orang. Ada 7 orang positif Covid-19, termasuk Lurah Petamburan," ujar Doni dalam siaran tertulisnya, Jumat (20/11/2020).

Pemerintah juga telah memeriksa 559 orang dengan swab antigen dari kerumunan di Megamendung. Sementara ini, data Jumat, ada 20 orang yang positif Covid-19.

"Laporan lain, terdapat 50 orang positif Covid 19 yang mayoritas berdomisili sekitar Tebet," ungkap Doni.

Oleh karena itu, Doni mengharapkan kerja sama semua komponen masyarakat di berbagai daerah terutama di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, khususnya para ketua RT dan RW untuk menyampaikan pesan kepada yang kemarin ikut kerumunan, mulai dari penjemputan di Bandara Soekarno Hatta, kegiatan Maulid Nabi di Tebet, dan juga di Mega Mendung, serta acara terakhir di Petamburan.

"Pemeriksaan di Puskesmas tanpa dipungut biaya. Pemeriksaan ini sangat penting agar diketahui lebih dini. Jika ada yang positif bisa segera isolasi dan tempat isolasi disiapkan pemerintah. Silakan dengan kesadaran dan keikhlasan memeriksa diri ke Puskesmas, demi memutus mata rantai penularan untuk keselamatan bersama," kata Doni.

"Hari ini kami telah menyalurkan 2.500 swab antigen ke seluruh puskesmas yang berada di daerah-daerah yang berpotensi terjadi peningkatan kasus di DKI, Banten dan Jabar," tambah dia.

Tracing Usai Kerumunan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Markas DPP Front Pembela Islam (FPI) di Jalan Paksi, Petamburan III, Jakarta Pusat, Sabtu 14 November 2020 malam terlihat ramai dipadati jemaah.

Pantauan video pada YouTube Front TV, tampak ribuan jamaah maulid Nabi memadati tenda yang telah disediakan. Mereka berdesakan meskipun satu sama lain mengenakan masker.

Sesama jamaah tidak ada jaga jarak minimal satu meter sesuai protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Para jamaah juga tampak membawa sejumlah atribut keagamaan.

Usai acara berlangsung, Dinkes DKI segera melakukan tracing di Petamburan, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dilakukan untuk mendeteksi orang-orang yang berpotensi tinggi tertular virus covid-19.

"Sudah kita minta Dinkes untuk melakukan tracing di Petamburan ya," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria saat dihubungi, Selasa 17 November 2020 malam.

Selain itu, Ariza mengakui informasi bahwa Lurah Petamburan berstatus reaktif Covid-19 saat dilakukan rapid test. "Informasinya begitu, reaktif baru rapid test Covid-19, nanti dicek (PCR) lagi," ucapnya.

Kabar Lurah Petamburan Setiyanto positif covid-19 pun terjawab. Dia dinyatakan terpapar virus ini setelah Rumah Sakit Polri Kramat Jati mengeluarkan hasil tes PCR-nya, Rabu 18 November 2020.

"Betul Lurah positif. Jadi, mulai tiga hari ke depan kelurahan kita tutup," kata Wali Kota Jakarta Pusat Bayu Meghantara saat dihubungi di Jakarta.

Meski pelayanan tatap muka dihentikan selama tiga hari namun Kelurahan Petamburan tetap melayani masyarakat dengan sistem drop box sehingga tidak ada layanan yang tertunda.

Pelacakan kasus pun segera dilakukan oleh Puskesmas Tanah Abang untuk mengetahui penyebaran COVID-19 di Kelurahan Petamburan.

"Kemarin sudah menemukan 15 orang dari staf Kelurahan. Lalu hari ini ada lagi sekitar 40 orang itu dari FKDM, ibu-ibu PKK, ada juga Kamtibmas," ujar Kepala Puskesmas Tanah Abang, Sari Ulfa saat ditemui di Puskesmas Tanah Abang, Kamis (19/1/2020).

Meski demikian, jumlah tersebut tidak dipatok dan mungkin akan bertambah, mengingat untuk tracing kasus Lurah Petamburan ini masih bisa diperluas.

"Kemungkinan bisa meluas dari hasil tracing ini. Kita memang mendapatkan arahan tracing diperluas satu orang bisa lebih dari 30 orang. Jadi kita tunggu hasilnya," ujar Sari seperti dilansir dari Antara.

Lebih lanjut, hasil dari pemeriksaan tes usap tracing kasus Kelurahan Petamburan itu akan diketahui dalam waktu 1-2 hari ke depan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: