HEADLINE: Potensi Varian Baru Virus COVID-19 Lebih Mematikan, Vaksin Tetap Efektif?

·Bacaan 11 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson jelang akhir pekan lalu menyampaikan kabar kurang menyenangkan soal varian baru COVID-19. Selain lebih menular, Boris menyebutkan ada potensi varian baru virus Corona yang dikenal sebagai B117 lebih mematikan.

"Kami telah diberi tahu, bahwa selain menyebar lebih cepat, tampaknya ada beberapa bukti bahwa varian baru virus Corona yang ditemukan di London dan wilayah tenggara Inggris, terkait dengan tingkat kematian yang lebih tinggi," ujar Johnson dalam konferensi pers, Jumat, 22 Januari 2021.

Sejumlah peneliti dari berbagai universitas seperti Public Health England, Imperial College London, London School of Hygiene and Tropical Medicine dan University of Exeter mencoba untuk membuktikan seberapa mematikan varian baru virus Corona ini.

Bukti-bukti tersebut kemudian dinilai oleh ilmuwan dari New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (Nervtag). Kelompok itu menyimpulkan ada "kemungkinan realistis" bahwa virus telah menjadi lebih mematikan, tetapi ini jauh dari pasti.

Kepala Penasihat Ilmiah Pemerintah Inggris Sir Patrick Vallance angkat bicara. Sir Patrick menggambarkan data sejauh ini "belum kuat".

"Saya ingin menekankan bahwa ada banyak ketidakpastian seputar angka-angka ini. Kami punya banyak pekerjaan untuk mendapatkan penanganan tepat," katanya mengutip laman BBC.

Meski data belum kuat, Patrick mengatakan perlu kewaspadaan bilamana memang varian baru virus tersebut lebih mematikan.

"Jelas ada kekhawatiran bahwa ini meningkatkan mortalitas serta peningkatan penularan COVID-19," katanya.

Patrick menjelaskan, saat pasien positif COVID-19 varian baru dirawat di rumah sakit, kemungkinan ia akan meninggal menjadi lebih besar ketimbang pasien COVID-19 dengan varian yang sebelumnya.

"Tidak ada bukti nyata peningkatan mortalitas bagi pasien yang dirawat di rumah sakit. Namun, ketika dilihat dari data mereka yang positif, terbukti ada peningkatan risiko (kematian) bagi mereka yang terpapar varian baru, dibandingkan varian lama," terangnya.

Patrick menyebutkan, varian baru virus Corona yang 30-70 persen lebih menular itu memiliki kemungkinan 30 persen lebih mematikan dari varian lama.

Patrick menjelaskan lagi bahwa sekitar 10 dari 1.000 pria berusia 60-an yang positif COVID-19 varian lama akan meninggal. Sementara untuk varian baru, jumlahnya meningkat hingga 13 atau 14 per 1.000 orang.

Infografis Varian Baru Virus Covid-19 Lebih Mematikan? (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Varian Baru Virus Covid-19 Lebih Mematikan? (Liputan6.com/Trieyasni)

Varian Baru, Bukti Virus Corona Bermutasi

SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19 merupakan jenis virus ribonucleic acid (RNA) yang memiliki materi genetik berantai tunggal. Oleh karena strukturnya tersebut, virus Corona baru ini lebih mudah bermutasi.

Mutasi sendiri merupakan bagian dari evolusi virus. William Schaffner, seorang penasihat Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat bagian vaksin mengatakan bahwa meski ada mutasi, virus tersebut tetaplah hal yang sama.

Schaffner menganalogikan dengan seseorang yang berganti mantel. "Ini seperti manusia. Saya misalnya, bisa mengenakan mantel cokelat kemudian berganti mantel abu-abu. Namun, saya tetaplah Bill Schaccner. Saya bisa melakukan perubahan, tapi saya tetaplah orang yang sama," tuturnya mengutip 9News.

Sementara itu, Profesor Mikrobiologi di Universitas Reading, Inggris, Simon Clarke, mengatakan, sangat umum bagi virus, tidak terkecuali virus Corona penyebab COVID-19 untuk bermutasi.

“Ketika mereka menyebabkan infeksi, mereka masuk ke dalam sel kita dan mengambil alih sel untuk membuat lebih banyak salinan dari diri mereka sendiri untuk berkembang biak, dan setiap kali mereka melakukan itu satu set materi genetik baru dibuat untuk setiap virus baru,” kata Simon dikutip dari situs NBC News.

Kehadiran varian baru virus Corona merupakan bukti bahwa virus tersebut bermutasi. Mutasi virus Corona telah muncul di berbagai negara. Awalnya, Inggris mendeteksi varian baru dari Kent pada September 2020.

Varian COVID-19, B117 itu lebih menular dan menyebar ke berbagai negara. Seiring berjalannya waktu, negara-negara turut melaporkan varian domestik, seperti Afrika Selatan dan Brasil.

Kehadiran varian baru ini membuat berbagai negara menerapkan larangan sementara untuk kedatangan dari negara tertentu.

Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand juga sudah mendeteksi varian baru. Setidaknya 62 negara yang telah mencatat adanya mutasi COVID-19. Hampir semuanya mendeteksi mutasi itu pada Desember 2020.

Perusahaan Vaksin Angkat Bicara

Vaksin COVID-19 Pfizer Inc and BioNTech (ARIANA DREHSLER/AFP)
Vaksin COVID-19 Pfizer Inc and BioNTech (ARIANA DREHSLER/AFP)

Inggris menjadi pionir dalam pelaksanaan program vaksinasi dengan memberikan izin penggunaan darurat vaksin Pfizer-BioNTech. Negara ini melakukan vaksinasi pertama pada lansia dan tenaga kesehatan sejak Selasa, 8 Desember 2020. Namun, kehadiran varian baru virus Corona ini tentu memunculkan kekhawatiran mengenai khasiat vaksin yang digunakan.

Pfizer-BioNTech menjawab keraguan tersebut dengan melakukan studi. Berdasarkan publikasi laporan Pfizer-BioNTech disebutkan 'tidak ada perbedaan yang siginifikan secara biologis dalam aktivitas netralisasi antara B117 dan strain asli virus Corona.

Moderna, perusahaan farmasi yang juga menyediakan vaksin COVID-19 yang salah satunya dipakai di Amerika Serikat juga menyampaikan bahwa vaksin mereka melindungi varian baru virus Corona dari Inggris dan Afrika Selatan.

Perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa vaksinnya menghasilkan tanggapan kekebalan terhadap "semua varian kunci yang muncul diuji" dan tidak ada pengurangan yang signifikan dalam antibodi penawar terhadap varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris.

Dalam percobaan di laboratorium, darah penerima vaksin COVID-19 jauh kurang efisien dalam membuat antibodi penawar terhadap varian Afrika Selatan. Tapi Moderna mengatakan itu masih di atas level yang diharapkan dapat melindungi.

"Meskipun demikian, perusahaan sedang mengembangkan dosis penguat yang dapat memerangi varian Afrika Selatan dan varian yang muncul di masa depan," seperti disampaikan Pfizer-BioNTech.

Tanggapan Ilmuwan Tanah Air

Varian baru virus Corona di Inggris membawa kekhawatiran kepada para ilmuwan di berbagai negara karena diduga dapat lebih mematikan dari varian sebelumnya. Kekhawatiran ini turut dirasakan para ilmuwan di Indonesia, seperti disampaikan Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Klinik Universitas Indonesia (UI), Prof dr Amin Soebandrio PhD, SpMK.

“Tentu (khawatir), kami berusaha untuk meningkatkan surveilans molekuler untuk segera mengidentifikasi kalau memang virus itu ada di Indonesia,” ujar Amin kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Rabu (27/1/2021).

Walau sejauh ini virus Corona varian baru yang muncul di Inggris belum ditemukan di Indonesia tapi kewaspadaan harus tetap ada, katanya.

“Saya tidak bilang tidak ada (di Indonesia) ya, tapi belum ditemukan karena memang bisa ada di seluruh negara,” ujarnya.

Menurutnya, virus Corona dari Inggris awalnya dikhawatirkan lebih menular, kemudian lebih berat kasusnya, dan sekarang dikhawatirkan lebih cepat mematikan. “Tentu kita harus meningkatkan kewaspadaan walaupun itu belum terlalu meluas," Amin menekankan.

Amin, menambahkan, pada dasarnya dalam satu pandemi jika suatu virus sangat mematikan maka penularannya akan tidak seluas yang kurang mematikan.

“Saya ambil contoh Ebola yang sangat mematikan. Karena dia sangat mematikan, jadi, orang yang terkena itu kurang menularkan ke orang lain dibandingkan dengan virus yang tidak terlalu mematikan maka orang yang terkena masih bisa bergerak ke sana ke mari,” kata Amin.

Varian Baru, Berpotensi Memengaruhi Efektivitas Vaksin?

Banner Infografis Varian Baru Virus Covid-19 Lebih Mematikan? (Liputan6.com/Trieyasni)
Banner Infografis Varian Baru Virus Covid-19 Lebih Mematikan? (Liputan6.com/Trieyasni)

Virus Corona penyebab COVID-19 yang muncul di Inggris juga dikhawatirkan dapat memengaruhi efektivitas vaksin.

“Itu juga dikhawatirkan karena mengenai beberapa bagian spike dari protein termasuk receptor binding domain-nya (RBD) hal ini yang harus dipantau terus," Amin menjelaskan.

Pada akhir tahun lalu, Pfizer menemukan bahwa ternyata vaksin yang dikembangkan itu masih efektif. Artinya, vaksin masih bisa mengenali varian virus tersebut.

“Kalau antibodi alami dari orang yang sakit kuat atau tidaknya terhadap varian tersebut belum ada bukti testing,” katanya.

Intinya, lanjut Amin, berbagai kekhawatiran terhadap varian baru itu memang harus diperhatikan, tapi apapun virusnya, tugas masyarakat tetap sama yaitu menjalani protokol kesehatan.

“Menjalankan protokol kesehatan dan 3T (treating, tracing, testing) tidak boleh berubah dan sekalipun ada vaksin, protokol dan 3T tetap harus dijalankan dengan ketat,” ujarnya.

“Karena kalau kita bertanya kapan pandemi akan selesai itu ketika kita sudah berdisiplin semuanya,” kata Amin.

Sementara itu, Ketua Tim Uji Klinis Vaksin Sinovac dan Biofarma, Prof Kusnandi Rusmil, mengaku, tidak begitu khawatir mengenai varian baru virus Corona.

Kusnandi mengatakan vaksin COVID-19 yang sudah tersedia saat ini dibuat sesuai dengan virus Corona yang ada di Wuhan, Cina. Jika seiring berjalannya waktu ternyata virus Corona dari Inggris yang lebih mendominasi di Tanah Air, tinggal bikin vaksin baru sesuai dengan jenis virusnya.

"Untuk setahun ini tidak khawatir. Karena bentuk virusnya tidak berubah banyak. Tahun depan kita bikin vaksin baru sesuai dengan virusnya," kata Kusnandi saat dihubungi Health Liputan.com melalui sambungan telepon pada Rabu, 27 Januari 2021.

"Virus itu akan bermutasi, mutasi, mutasi, karena sifat virus adalah mutasi untuk memertahankan hidupnya," Kusnandi menambahkan.

Pria yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung mengatakan dalam setahun ini virus Corona di Indonesia tidak akan banyak berubah, sehingga vaksin COVID-19 yang tersedia masih sangat berguna.

"Kalau dalam setahun ini masih ter-cover, karena bentuk virusnya tidak berubah banyak," kata Kusnandi.

Namun, enam bulan ke depan, Kusnandi akan kembali melihat sampai seberapa jauh terjadi perubahannya. Kusnandi dan tim akan memeriksa darah 1.620 orang relawan dari vaksin Sinovac.

Kusnandi pun mengumpamakan virus Corona sebagai kendaraan bergerak, "Dia itu keluarnya dalam bentuk sedan, tapi karena lama-lama berubah, berubah, dan berubah karena mutasi, lama kelamaan jadi truk. Akan tetapi dalam setahun itu belum jadi truk, masih sedan. Masih bisalah masuk garasi. Ibaratnya masih bisa dibekep di dalam garasi."

Vaksinasi tidak sekali untuk seumur hidup. Harus diulang-ulang. Begitu juga dengan vaksinasi COVID-19.

"Karena yang digunakan ini adalah vaksin yang dimatikan, bukan vaksin hidup. Kalau vaksin hidup tidak usah diulang, karena vaksin mati harus diulang," katanya.

"Kayak vaksinasi pada anak saja, diulang-diulang. Umur dua, tiga, empat bulan, terus umur 18 bulan diulang lagi. Terus pas masuk ke SD masih disuntik lagi, nanti kelas 6 disuntik lagi. Ketika sudah jadi ibu hamil disuntik lagi. Nah, kalau sudah enam kali suntik, seumur hidup daya tahannya," Kusnandi menjelaskan.

Paling Penting, Sukseskan Vaksinasi COVID-19 dan Patuh 3M

Tenaga kesehatan memeriksa tensi darah sebelum disuntik vaksin Coronavac di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Rabu (20/1/2021). Vaksinasi kepada 2.630 tenaga kesehatan menjadi prioritas karena bersinggungan langsung dengan pasien. (Liputan6.com/Fery Pradolo)
Tenaga kesehatan memeriksa tensi darah sebelum disuntik vaksin Coronavac di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Rabu (20/1/2021). Vaksinasi kepada 2.630 tenaga kesehatan menjadi prioritas karena bersinggungan langsung dengan pasien. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Terpenting saat ini, Kusnandi mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak ragu-ragu melakukan vaksinasi COVID-19. Sebab, vaksinasi merupakan cara lain dalam melawan penyakit yang disebabkan SARS-CoV-2 tersebut.

"Sekarang kita ada vaksin. Uji cobanya menyatakan sekarang itu sudah efektif 65,3 persen. Artinya apa? Kalau kita dikasih vaksin, kita akan terlindungi 65 persen. " kata Kusnandi.

Kusnandi menekankan agar membuang semua keraguan akan vaksin Corona yang ada saat itu. Sebab, 65,3 persen diperoleh dari penelitian, bukan asal main kasih-kasih angka sembarang.

"Yang bilang itu BPOM. BPOM pastinya dari WHO dapat izinnya," ujarnya.

"Masalah mutasi (virus Corona), nanti diteliti lagi. Yang sekarang ini kan virus yang sekarang, itu efektivitasnya 65,3 persen. Artinya, kalau kita disuntik, 65,3 persen kita akan terlindungi. Selebihnya akan terlindungi tetapi tidak langsung. Tidak langsung itu terkena dari herd immunity," Kusnandi menekankan.

Penting untuk diketahui, imunisasi atau vaksinasi akan membuat kita kebal. Kalau hanya kita yang divaksinasi, kita saja yang kebal, orang lain tidak.

Akan tetapi kalau yang melakukan vaksinasi sekitar 80 persen atau 70 persen dari jumlah rakyat Indonesia, orang yang tidak diimunisasi ikut terlindungi.

"Bukan kebal, tapi ikut terlindungi," ujarnya.

Kusnandi mengingatkan bahwa virus Corona ada. Baru setahun pandemi COVID-19 menghajar seluruh dunia, jutaan orang yang kena. Di Indonesia saja sudah 1 juta kasus COVID-19 pada Selasa, 26 Januari 2021.

"Di luaran sudah 100 jutaan. Yang meninggal sudah banyak. Jadi, jangan takut sama vaksinnya, tapi sama penyakitnya. Obat belum ada. Jadi, sekarang kita berusaha bikin vaksin dululah. Nah, jadi jangan takut diimunisasi. Imunisasi untuk melindungi diri kita, melindungi diri anak-anak kita, teman-teman kita, kalau kita diimunisasi kita terlindungi dan tidak menularkan ke orang lain," kata dia.

"Semakin banyak yang diimunisasi, akan timbul herd immunity, jadi, lama-lama virus ini akan hilang. 3M jangan lupa. Makan yang banyak, makan yang sehat, olahraga ringan, dan jangan kumpul-kumpul," Kusnandi menekankan.

WHO: Varian Baru Virus Corona, Upaya Pengendalian Tetap Sama

World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa apapun varian baru virus Corona yang ada saat ini, strategi pencegahan COVID-19 yang telah dilakukan selama ini tetap bermanfaat.

"Semua yang kita pelajari tentang varian-varian ini, tidak mengubah pendekatan kita dalam mengendalikan COVID," kata Maria Van Kerkhove, Technical Lead COVID-19 WHO dalam konferensi persnya pada Senin (25/1/2021) waktu setempat.

Van Kerhove mengatakan ada empat elemen yang dikerjakan negara-negara di dunia dalam menangani pandemi COVID-19, yaitu pencegahan, pengendalian, perawatan, dan vaksinasi.

Ia mengatakan, masih butuh waktu panjang untuk melihat dampak dari vaksinasi terhadap pandemi. Namun, masih ada cara lain dalam menangani wabah COVID-19 ini.

"Kita harus, saat ini juga, mencegah sebanyak mungkin kasus yang kita bisa," ujarnya.

"Tidak hanya untuk menjaga agar diri kita tetap mana tetapi juga melindungi orang tercinta kita, mereka yang punya kondisi bawaan, mereka yang berisiko tinggi mengalami gejala parah dan meninggal."

Selain itu dalam elemen pengendalian, yang dilakukan adalah melakukan tes untuk menemukan kasus aktif dengan cepat, serta memastikan apakah individu terinfeksi atau tidak.

"Pastikan mereka yang ada dalam perawatan klinis dan mendapatkan assesmen, oksigen, deksamethasone apabila mereka bergejala parah atau kritis, dan lebih banyak terapeutik secara daring."

Van Kerhove juga mengatakan bahwa setiap individu harus memastikan mereka melakukan pencegahan seperti mencuci tangan, menjaga jarak fisik, dan memakai masker.

Ia menambahkan bahwa semua orang masih memiliki kendali terhadap virus corona, tidak peduli dimana pun asalnya.

"Anda masih punya kendali terhadap apa yang Anda lakukan sehari-hari, terhadap paparan yang mungkin terjadi atau tidak. Anda punya informasi, pengetahuan, dan peralatan, untuk mencegah diri Anda dan yang Anda cintai dari terinfeksi."

"Bahkan dengan varian baru ini dan apa yang kita pahami tentang varian ini, langkah-langkah pengendalian tersebut berguna," pungkas Van Kerkhove.

Simak Juga Video Berikut Ini: