HEADLINE: Teror Mencekam di Notre-Dame, Runtuhnya Multikulturalisme Prancis?

·Bacaan 16 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bermula dari Charlie Hebdo. Sebuah majalah Prancis yang memublikasikan kartun Nabi Muhammad SAW. Rentetan teror pun terjadi.

Bukan kali pertama Charlie Hebdo mempublikasikan kartun nabi. Serangan terhadap Charlie Hebdo pada 2011 dan 2015 juga terkait publikasi kartun nabi.

Namun, publikasi dan keputusan cetak ulang kartun serupa pada awal September 2020, menimbulkan rentetan teror. Terbaru adalah penikaman di Basilika Notre-Dame, Nice, Prancis, pada Kamis 29 Oktober, yang menewaskan tiga orang.

Publikasi itu dilakukan Charlie Hebdo sebagai penanda dimulainya persidangan bagi terduga pembantu penyerangan terhadap kantor majalah tersebut pada 2015. Satu di antara sejumlah karikatur tersebut, yang kebanyakan dipublikasikan terlebih dahulu oleh surat kabar Denmark pada 2005 dan baru diterbitkan oleh Charlie Hebdo setahun kemudian, adalah gambaran Nabi Muhammad SAW mengenakan serban menyerupai bom.

Bagi umat Muslim, penggambaran apapun atas Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai penistaan.

Usai Charlie Hebdo mencetak ulang kartun Nabi Muhammad SAW pada awal September 2020, insiden pemenggalan kepala seorang guru sejarah bernama Samuel Paty terjadi. Pemenggalan dilakukan remaja berusia 18 tahun yang menuai kecaman di Prancis.

Sebelum insiden yang terjadi pada 16 Oktober 2020 itu, Paty diketahui telah menjadi subjek kampanye kebencian secara online setelah membahas kartun Nabi Muhammad SAW di kelasnya.

Polisi menahan sejumlah pelajar sekolah yang dicurigai terlibat dalam pembunuhan terhadap Paty, dan orangtua salah satu murid yang diduga melakukan kampanye online untuk melawan guru tersebut, seperti dikutip dari AFP.

Namun pada 19 Oktober, enam orang dibebaskan yang di antaranya adalah empat anggota keluarga tersangka, yakni Abdullakh Anzorov - seorang remaja berusia 18 tahun yang berasal dari Chechnya, Rusia. Anzorov telah ditembak mati polisi setempat tak lama setelah diketahui telah membunuh gurunya.

Menanggapi kasus tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menjanjikan lebih banyak tekanan terhadap ekstremisme Islam di Prancis. "Sesama warga kami mengharapkan tindakan," ujarnya, seraya menambahkan, "Tindakan ini akan ditingkatkan."

Macron telah memberikan penghormatan kepada Paty, dan mengatakan Prancis "tidak akan melepaskan kartun" tersebut.

Penggambaran Nabi Muhammad secara luas dianggap tabu dalam Islam dan menyinggung banyak umat Muslim. Tetapi sekularisme negara atau laïcité yang merupakan pusat identitas nasional Prancis, menilai bahwa pembatasan kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu dapat merusak persatuan.

Merespons pernyataan Macron, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meminta masyarakat Turki untuk memboikot barang-barang Prancis di tengah pertikaian atas sikap Prancis yang lebih keras terhadap Islam radikal.

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi, ia mendesak para pemimpin dunia untuk melindungi Muslim "jika ada penindasan terhadap Muslim di Prancis." Erdogan dengan marah telah mengkritik Presiden Prancis Emmanuel Macron karena berjanji untuk membela sekularisme melawan Islam radikal.

Ajakan Erdogan direspons netizen dari negara-negara Arab maupun Indonesia. Anggota komisi I DPR Fadli Zon turut mendukung adanya boikot produk Prancis.

"Pernyataan Presiden Perancis Macron telah melukai banyak umat Islam di seluruh dunia. Ini contoh pemimpin negara yg Islamophobia diskriminatif n rasis. Mari kita boikot produk2 Perancis!" tulis akun @Fadlizon pada 27 Oktober 2020.

Akademisi Mesir Fadel Soliman yang cukup terkenal di Twitter turut mengajak boikot. Dengan sedikit humoris, ia mengajak agar boikot barang Prancis jika ingin turun berat badan.

Sementara itu, Sekitar 10 ribu orang dari kelompok Islam di Bangladesh berunjuk rasa untuk menentang karikatur Nabi Muhammad SAW di Prancis. Pemimpin kelompok itu turut meminta agar umat Muslim memboikot produk prancis.

Dari rentetan insiden itu, puncaknya terjadi pada Kamis 29 Oktober. 3 orang tewas akibat serangan pisau di sebuah gereja di Kota Nice, Prancis. Perdana Menteri Prancis Jean Castex langsung mengumumkan status darurat akan diberlakukan pada tingkat tertinggi di negara tersebut.

Sementara itu, kantor kejaksaan anti-terorisme Prancis membuka penyelidikan atas kasus penikaman di Nice. Pada hari yang sama, laporan serangan lainnya juga datang dari Kota Avignon dan di Jeddah, Arab Saudi.

Seorang pejabat polisi setempat menerangkan bahwa seorang pria bersenjata ditembak mati oleh petugas di Avignon setelah ia menolak untuk melepaskan senjata, dan ketika tembakan peluru karet gagal menghentikannya. Sementara, kantor berita yang dikelola pemerintah Arab Saudi juga melaporkan seorang pria menikam seorang penjaga di konsulat Prancis di Jeddah.

Infografis Teror Beruntun dan Status Darurat Tertinggi Prancis. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Teror Beruntun dan Status Darurat Tertinggi Prancis. (Liputan6.com/Trieyasni)

Prancis merupakan negara yang memiliki prinsip menjunjung tinggi kebebasan. Prinsip itu tertuang di Deklarasi HAM Prancis yang sudah ada sejak Revolusi Prancis dan sebelum Napoleon Bonaparte berkuasa.

Fenomena clash of civilization (benturan peradaban) lantas terjadi karena prinsip kebebasan berpendapat di Prancis sedang terbentur dengan isu agama. Cendekiawan Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi menilai perlu ada dialog-dialog kebudayaan dan peradaban agar muncul sikap saling empati dari berbagai pihak.

"Jalan tengah perlu dilakukan; dialog-dialog kultural di antara berbagai komunitas untuk menjembatani ketegangan yang ada saat ini, karena dengan dialog tersebut akan muncul suatu sikap empati, simpati, sehingga kemudian kita saling menghargai, sebagaimana Islam diajarkan untuk menghormati Yesus, menghormati Nabi Musa, bahkan kitab-kitab suci mereka," jelas Zuhairi Misrawi kepada Liputan6.com, Jumat (30/10/2020).

Pria yang akrab dipanggil Gus Mis itu menyebut ada isu-isu yang masih tidak dipahami negara barat tentang Islam. Ia berkata masalah itu tak terlepas dari kolonialisme di masa lalu.

Hal ini ia anggap sebagai tanggung jawab bagi umat Muslim dan institusi-institusinya agar Prancis dan dunia barat dapat diberi pemahaman.

"Tanggung jawab dari kita sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim tanggung jawabnya menjelaskan sosok Nabi Muhammad kepada barat. Ini harus menjadi satu kebijakan kita terutama melalui Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia," tegasnya.

Menurut mantan Kepala Kontra Terorisme Inggris, Chris Phillips, rentetan teror penikaman di Prancis merupakan hasil dari percobaan multikulturalisme yang gagal di negara itu. Ia mengatakan, kekerasan mengikuti saat liberal yang dianut Barat bentrok dengan Islam.

"Saya meyakini bahwa Prancis dan Barat membawa banyak hal ini pada diri mereka sendiri. Mereka telah mengundang orang datang ke negara mereka, dan mengizinkan orang datang ke negara mereka yang tidak memiliki proses berpikir untuk akhirnya berasimilasi. Budaya Prancis, Anda menerimanya atau tidak, dan orang-orang ini jelas tidak," kata Phillips seperti dikutip dari RT.com.

Berdasarkan pengalamannya, Phillips terkejut banyaknya Muslim moderat yang melihat kartun Nabi Muhammad SAW sebagai perbuatan yang sangat ofensif dan mempunyai gagasan untuk membalas dendam. Menurut Philipps inti masalahnya adalah ketidakcocokan Islam dan Barat yang liberal.

"Ketika budaya bentrok begitu banyak, dan itu mengarah pada kekerasan semacam ini, pemerintah perlu membuat beberapa keputusan terkait masa depan multikulturalisme dan masyarakat terbuka," ungkap Phillips.

Usai penyerangan yang terjadi di Nice, Presiden Macron menyebut pelaku sebagai teroris Islam. Ia pun mengerahkan pasukan untuk menjaga gereja dan sekolah.

Phillips menilai pengerahan tentara yang dilakukan Macron memang bisa menyakinkan publik dalam jangka pendek. Tetapi menurutnya hampir tidak mungkin menyaring para pelaku yang potensial menyerang di masa depan.

Bahkan menurutnya, lebih sulit lagi untuk mendeportasi atau menahan mereka. Sebab, seperti pengalamannya selama menjabat di Inggris, banyak tersangka yang merupakan teroris adalah warga Inggris juga.

"Kami punya 20 atau 30 ribu orang yang menjadi perhatian di Inggris. Prancis mungkin punya lebih dari itu. Jika Anda pergi Nice, ada kontingen besar Afrika Utara di sana," ujar dia.

Hampir 9% penduduk Prancis adalah Muslim, persentase yang tertinggi di Eropa. Dari 5,7 juta Muslim, tidak diketahui berapa banyak yang memiliki pandangan ekstrem, namun pada 2016, tiga perempat dari semua tersangka radikal dalam daftar pantauan pemerintah adalah Islamis radikal.

Sementara itu, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menyayangkan munculnya karikatur Nabi Muhammad di Prancis. Meski demikian, ia menyebut agar umat Muslim di Prancis tentang tenang dan menghindari provokasi.

"Idealnya tetap cooling down, tidak terpovokasi dengan berbagai isu yang ada, karena biar bagaimanapun mereka bagian dari tradisi di Prancis, maka dia perlu menghormati apa yang menjadi kebijakan pemerintah karena mereka warga negara Prancis," jelas Yon Machmudi kepada Liputan6.com.

"Patut disayangkan adanya kembali karikatur yang mengarah kepada penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW," lanjutnya.

Yon Machmudi juga menganggap pernyataan Presiden Macron terlalu gegabah dan emosional dalam menyikapi apa yang terjadi. Ia berkata tindakan ini dilakukan oleh oknum tertentu, sementara ajaran Islam justru tidak mendukung pelampiasan kekerasan.

"Ini harus dipisahkan antara oknum dan Islam sebagai agama atau umat Islam secara keseluruhan. Umat Islam juga mengecam tindakan pembunuhan itu," jelasnya.

Terkait ajakan boikot dari Erdogan, Yon Machmudi tidak terlalu mempermasalahkan. Hanya, ia berharap agar tidak ada tindakan yang destruktif.

Pagi Mencekam di Gereja Notre-Dame

Polisi menyisir area lapangan Esplanade du Trocadero dekat Menara Eiffel saat lockdown di Paris, Prancis, Rabu (18/3/2020). Sampai Selasa (17/3/2020), Prancis memiliki 6.633 kasus virus corona COVID-19 dengan 148 kematian. (Ludovic MARIN/AFP)
Polisi menyisir area lapangan Esplanade du Trocadero dekat Menara Eiffel saat lockdown di Paris, Prancis, Rabu (18/3/2020). Sampai Selasa (17/3/2020), Prancis memiliki 6.633 kasus virus corona COVID-19 dengan 148 kematian. (Ludovic MARIN/AFP)

Kamis 29 Oktober, sekitar pukul 09.00 waktu setempat, seorang pria dengan pisau menyerang orang-orang yang sedang beribadah di dalam Basilika Notre-Dame, Nice, Prancis. Tiga orang ditemukan tewas termasuk seorang wanita yang dipenggal kepalanya di dalam gereja.

Seorang pria juga ditemukan tewas dalam gereja, sedangkan wanita lain dengan luka tusuk melarikan diri ke bar terdekat, namun tewas tak lama kemudian. Selain itu, beberapa orang lainnya dilaporkan terluka.

Pelaku ditembak polisi yang datang ke lokasi kejadian dengan cepat, dan langsung ditangkap lalu dibawa ke rumah sakit. Dilansir US News yang mengutip Reuters, Jumat (30/10/2020), Kepala Jaksa Anti-teroris Prancis Jean-Francois Ricard mengatakan bahwa "tersangka berada di rumah sakit dalam kondisi kritis."

Menurut sumber keamanan Tunisia dan sumber polisi Prancis, tersangka diidentifikasi sebagai Brahim Aouissaoui.

Richard menerangkan, tersangka adalah seorang pria Tunisia kelahiran 1999 dan tiba di Eropa pada 20 September 2020 di wilayah Lampedusa, pulau Italia di lepas Tunisia, yang diketahui merupakan titik pendaratan utama bagi para migran dari Afrika.

Pelaku, ungkap Richard, memasuki kota tersebut dengan kereta api pada 29 Oktober 2020 dan pergi ke gereja, di mana ia kemudian menikam dan membunuh seorang pria berusia 55 tahun dan memenggal kepala perempuan berusia 60 tahun.

"Dia juga menikam seorang wanita berusia 44 tahun yang melarikan diri ke kafe terdekat tempat dia memberitahu warga setempat sebelum meninggal," terang Ricard.

"Pada penyerang kami menemukan Al-quran dan dua telepon, pisau yang digunakannya - 30 cm dengan ujung tajam 17 cm. Kami juga menemukan tas yang ditinggalkan oleh penyerang. Di samping tas ini ada dua pisau yang tidak digunakan dalam penyerangan," jelasnya.

Salah satu dari tiga korban tewas serangan penusukan di sebuah gereja di Prancis pada 29 Oktober 2020 adalah seorang ibu tiga anak asal Brasil berusia 44 tahun. Dikutip dari AFP, hal tersebut diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri Brasil.

Saat insiden itu, perempuan tersebut berhasil melarikan diri ke bar terdekat, tetapi meninggal tak lama kemudian akibat luka yang dialaminya, menurut sumber polisi.

Sebelum kematiannya, seorang ibu tersebut sempat menyampaikan pesan terakhirnya. "Katakan pada anak-anak saya bahwa saya mencintai mereka," menurut laporan saluran kabel Prancis BFM TV.

"Pemerintah Brasil dengan menyesal mengumumkan bahwa salah satu korban tewas adalah seorang ibu dari tiga anak Brasil berusia 44 tahun, yang tinggal di Prancis," terang Kementerian Luar Negeri Brasil dalam pernyataannya.

Usai insiden, Presiden Emmanuel Macron menyatakan, Prancis akan mengerahkan ribuan tentara lagi untuk melindungi area-area penting seperti tempat ibadah dan sekolah, dengan peringatan keamanan negara yang telah dinaikkan ke level tertinggi.

Dalam pernyataannya, Presiden Macron menyebutkan bahwa Prancis telah diserang "atas nilai-nilai kami, untuk selera kami akan kebebasan, untuk kemampuan di tanah kami untuk memiliki kebebasan berkeyakinan ... Dan saya mengatakannya dengan sangat jelas lagi hari ini: Kami tidak akan memberi tanah apapun".

Sementara itu, Wakil Jaksa Agung di Pengadilan Tingkat Pertama Tunisia Mohsen Dali menerangkan kepada Reuters bahwa Aouissaoui tidak terdaftar oleh polisi di negara tersebut sebagai tersangka militan.

Menurut Mohsen Dali, Aouissaoui diketahui meninggalkan Tunisia pada 14 September 2020 dengan perahu. Ia juga menambahkan, bahwa Tunisia telah memulai penyelidikan forensiknya sendiri atas kasus tersebut.

Kecaman Para Pemimpin Dunia

Pengunjuk rasa di Pakistan membawa spanduk 'Boikot Prancis', dalam aksi protes terhadap penerbitan ulang kartun Nabi Muhammad oleh tabloid Prancis Charlie Hebdo (AFP PHOTO / YONHAP)
Pengunjuk rasa di Pakistan membawa spanduk 'Boikot Prancis', dalam aksi protes terhadap penerbitan ulang kartun Nabi Muhammad oleh tabloid Prancis Charlie Hebdo (AFP PHOTO / YONHAP)

Teror penikaman mematikan terjadi di Nice, Prancis, pada Kamis 29 Oktober, yang menewaskan tiga orang. Serangan yang disebut para penyidik Prancis sebagai aksi terorisme itu dikutuk keras para pemimpin dari seluruh dunia.

Serangan penikaman itu terjadi pada peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan serangan teror ketiga yang terjadi dalam dua bulan di Prancis menyusul kritik keras umat Muslim atas karikatur Nabi Muhammad yang dicetak ulang majalah satir Prancis Charlie Hebdo pada September 2020.

Presiden Prancis Emmanuel Macron selama ini menegaskan akan tetap berpegang teguh pada tradisi dan hukum sekuler Prancis, yang menjamin kebebasan berbicara yang memungkinkan publikasi seperti Charlie Hebdo dapat dilakukan. Macron juga mengatakan agama Islam tengah mengalami krisis di seluruh dunia dan meminta warga muslim Prancis agar bersikap loyal kepada konstitusi republik.

Di bawah prinsip-prinsip sekularisme Prancis atau laïcité, institusi keagamaan tidak memiliki pengaruh atas kebijakan publik yang diemban pemerintah. Idenya adalah untuk menjamin kesetaraan semua kelompok agama dan keyakinan di mata hukum. Macron menuduh minoritas muslim Prancis sedang mengalami "separatisme Islam," di mana warga lebih menaati hukum Syariah ketimbang konstitusi negara.

Namun, para pemimpin negara mayoritas Muslim, seperti Turki dan Pakistan, menuduh Macron "Islamophobia".

Solidaritas EropaKanselir Jerman Angela Merkel mengatakan dia "sangat terguncang" oleh "pembunuhan mengerikan" di gereja di Nice, dan menyatakan rasa berdukanya bagi kerabat korban yang terbunuh.

"Bangsa Prancis memiliki solidaritas Jerman di saat-saat sulit ini," kata Merkel melalui juru bicaranya Steffan Seibart di Twitter.

Terlepas dari pertengkaran diplomatik antara kedua negara, Turki adalah salah satu negara yang pertama kali menyampaikan rasa belasungkawa kepada para korban.

"Kami berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Prancis melawan teror dan kekerasan," kata pernyataan kementerian luar negeri Turki, seperti dilansir DW, Jumat (30/10/2020).

Juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin, menuliskan cuitan dalam bahasa Turki dan Prancis, "Kami akan memerangi semua jenis teror dan ekstremisme dengan tekad dan solidaritas."

Arab Saudi juga mengeluarkan pernyataan yang mengutuk "tindakan ekstremis" yang "bertentangan dengan semua agama," seraya menambahkan bahwa penting untuk menghindari "semua praktik yang menghasilkan kekerasan karena kebencian dan ekstremisme."

Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mahmood Qureshi, mengatakan kepada wartawan bahwa Pakistan "mengutuk kekerasan dimanapun itu terjadi."

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menuliskan cuitan dalam Bahasa Inggris bahwa "lingkaran setan" dari ujaran kebencian, provokasi dan kekerasan harus "diganti dengan akal dan kewarasan."

"Kita harus menyadari bahwa radikalisme menghasilkan lebih banyak radikalisme, dan perdamaian tidak dapat dicapai dengan provokasi yang buruk," tambahnya.

Tunisia, negara asal tersangka pembunuhan juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan "mengutuk keras insiden teroris di Nice" dan menyatakan "solidaritas dengan rakyat dan pemerintah Prancis."

Negara Afrika Utara itu juga menolak "semua bentuk terorisme dan ekstremisme," seraya menyatakan penolakan atas "ekploitasi iedologis dan politik terhadap agama," demikian menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri.

Paus Francis, pemimpin Gereja Katolik mengatakan bahwa dia berdoa untuk keluarga mereka yang terbunuh di Katedral Notre Dame Nice, seraya menambahkan bahwa "terorisme dan kekerasan tidak akan pernah bisa diterima."

"Serangan hari ini telah menabur kematian di tempat penuh cinta dan pelipur lara. Paus menyadari situasi ini dan ikut berduka dengan komunitas Katolik," kata juru bicara Vatikan Matteo Bruni.

Paus mengatakan dia mendesak orang-orang di Prancis untuk "bersatu memerangi kejahatan dengan kebaikan."

Teror penikaman maut di Kota Nice juga mendapat kecaman dari pemerintah Indonesia. "Indonesia menyampaikan simpati dan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga korban," ungkap Kementerian Luar Negeri RI dalam keterangan yang dirilis.

Menyusul aksi kekerasan tersebut, KBRI Paris dan KJRI Marseille segera berkoordinasi dengan aparat setempat serta simpul-simpul WNI termasuk Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) untuk memastikan kondisi para WNI. "Hingga saat ini, tidak terdapat informasi adanya korban WNI dalam serangan tersebut," ujar Kemlu.

Tercatat terdapat total 4.023 WNI yang menetap di Prancis, dan 25 orang di antaranya tinggal di Nice dan sekitarnya.

Menteri Agama Fachrul Razi juga mengimbau agar umat Islam di Indonesia tak terpancing dengan pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Dia pun meminta umat Muslim di Tanah Air tak melakukan tindakan kekerasan, demi mengutuk pernyataan Macron.

"Tunjukkan sikap tegas dengan tetap menjunjung tinggi watak umat beragama yang menolak tindak kekerasan," ujar Fachrul.

Dia mengingatkan, Islam tak membenarkan tindakan main hakim sendiri, apalagi dengan melakukan pembunuhan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

"Keagungan Islam tidak bisa ditegakkan dengan melanggar nilai-nilai kemanusiaan," kata Fachrul.

Dia juga mendukung sikap Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang memanggil Duta Besar Perancis dan menyampaikan kecaman terhadap pernyataan Macron yang dinilai menghina Islam.

"Setiap umat beragama harus menghormati simbol-simbol agama yang dianggap suci oleh pemeluk agama lain, termasuk terkait pemahaman visualisasi Nabi Muhammad," kata Fachrul.

Fachrul menuturkan, menghina simbol agama adalah tindakan kriminal. Pelakunya harus bertanggung jawab atas perbuatannya dan harus ditindak sesuai ketentuan hukum.

"Kebebasan berpendapat atau berekspresi tidak boleh dilakukan melampaui batas atau kebablasan sehingga mencederai kehormatan, kesucian, dan kesakralan nilai dan simbol agama apapun," kata dia.

Diketahui, Presiden Perancis Emmanuel Macron mendapat kecaman. Macron menyatakan tak akan melarang penerbitan kartun Nabi Muhammad. Selain itu, Macron juga menyebut Islam sebagai agama yang mengalami krisis di seluruh dunia.

Teror Penikaman di Prancis Sejak 2015

Seorang demonstran memegang bendera Prancis dengan slogan
Seorang demonstran memegang bendera Prancis dengan slogan

Seorang penyerang bersenjatakan pisau memenggal kepala seorang wanita dan membunuh dua orang lainnya dalam serangan diduga aksi teroris di sebuah gereja di kota Nice, Paris, Prancis, pada Kamis 29 Oktober 2020.

Insiden penikaman atau serangan dengan senjata tajam bukan pertama kali terjadi di Prancis. Berikut rekap serangan pisau di Prancis sejak 2015, dikutip dari Channel News Asia, Jumat (30/10/2020):

Tahun 2020

16 Oktober: Seorang guru dipenggal di dekat sekolah di pinggiran Paris. Penyerang ditembak mati oleh polisi.

Jaksa penuntut mengatakan mereka memperlakukan insiden itu sebagai "pembunuhan yang terkait dengan organisasi teroris".

Polisi mengatakan korban baru-baru ini memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad di kelas.

25 September: Seorang pria bersenjatakan pisau secara serius melukai dua orang dalam dugaan serangan teror di luar bekas kantor mingguan satir Prancis Charlie Hebdo di Paris.

Serangan itu terjadi tiga minggu setelah persidangan terhadap pria yang dituduh sebagai kaki tangan dalam pembantaian staf surat kabar tahun 2015.

4 April: Di tenggara Romans-sur-Isere, kota tepi sungai, seorang pengungsi Sudan berusia 33 tahun melakukan aksi penikaman di siang hari bolong, menewaskan dua orang.

Setelah mengamuk, penyerang ditangkap tanpa perlawanan dan jaksa melakukan penyelidikan atas "pembunuhan yang terkait dengan perusahaan teroris" dan "hubungan dengan pelaku kejahatan teroris".

4 Januari: Seorang pria bersenjata pisau mengamuk di sebuah taman di selatan Paris, membunuh seorang pria yang berjalan bersama istrinya dan melukai dua orang lainnya sebelum ditembak mati oleh polisi.

Penyelidik antiteror mengambil alih penyelidikan tersebut menyusul bukti bahwa Nathan C yang berusia 22 tahun baru-baru ini masuk Islam.

Tahun 2019

3 Oktober: Mickael Harpon, seorang ahli komputer yang saat itu berusia 45 tahun dari departemen pengumpulan-intelijen kepolisian Paris, menggunakan pisau dapur dan pengupas tiram untuk membunuh empat rekannya.

Amukan 30 menitnya berakhir ketika seorang petugas menembaknya hingga mati.

Ternyata Harpon telah masuk Islam sekitar 10 tahun sebelumnya, dan memiliki koneksi dalam gerakan Salafi ultra-konservatif.

Tahun 2018

12 Mei: Khamzat Azimov yang kala itu berusia 20 tahun, seorang Prancis yang dinaturalisasi asal Chechnya, menikam hingga tewas seorang pria berusia 29 tahun di Distrik Opera Paris yang sibuk sebelum ditembak mati oleh polisi.

Kelompok ISIS mengaku bertanggung jawab.

Tahun 2017

1 Oktober: Seorang dari Tunisia yang saat itu berusia 29 tahun membunuh dua wanita muda dengan pisau di stasiun kereta api utama di selatan kota Marseille.

Dia ditembak mati oleh tentara. ISIS mengklaim serangannya.

Pembunuhan mengerikan di gereja di Saint-Etienne du Rouvray membuat trauma kota, tetapi penduduk mengatakanPembunuhan mengerikan terhadap seorang pendeta berusia 85 tahun di gereja di Saint-Etienne du Rouvray membuat trauma kota.

Tahun 2016

26 Juli: Dua remaja menggorok leher seorang pendeta berusia 85 tahun di depan para jemaah di sebuah gereja di kota barat Saint-Etienne-du-Rouvray.

Remaja yang kala itu berusia 19 tahun, kemudian dibunuh oleh polisi dan tindakan mereka diklaim oleh kelompok ISIS yang telah mereka sumpah setia dalam sebuah video.

13 Juni: Seorang anak berusia 25 tahun menggunakan pisau untuk membunuh seorang polisi dan rekannya di rumah mereka di Magnanville, barat Paris, di depan putra mereka yang masih kecil.

Dia dibunuh oleh tim SWAT polisi. Di media sosial beredar klaim bahwa dalangnya atas nama ISIS.

Tahun 2015

26 Juni: Seorang penyerang berusia 35 tahun memenggal kepala bosnya dan memperlihatkan kepala yang terpenggal, dikelilingi oleh dua bendera Islam, di Saint-Quentin-Fallavier di tenggara Prancis.

Dia dilaporkan bunuh diri di sel penjaranya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: