HEADLINE: Virus Corona Berbahaya dan DBD Mematikan, Kemenkes Siap Hadapi Keduanya?

Liputan6.com, Jakarta Status Virus Corona baru (COVID-19) telah meningkat menjadi pandemi pada 11 Maret 2020. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status tersebut berdasarkan adanya lebih dari 118 ribu kasus penularan di lebih dari 110 negara. WHO mendefinisikan pandemi sebagai penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan, keputusan wabah Virus Corona sebagai pandemi tidak mengubah tindakan global dalam penanganannya. WHO mencemaskan penyebaran dan level kerusakan yang diakibatkan Virus Corona.

Selain itu, kurangnya langkah dan tindakan yang diambil dalam memerangi Virus Corona juga masih mengkhawatirkan. Ghebreyesus memprediksi akan ada peningkatan kasus dan kematian dalam beberapa pekan ke depan.

"COVID-19 dapat dicirikan sebagai pandemi. Kami telah membunyikan bel alarm dengan keras dan jelas," terang Ghebreyesus, seperti dilansir Time.

"Ini bukan hanya krisis kesehatan masyarakat, ini adalah krisis yang akan menyentuh setiap sektor," tambahnya.

Berdasarkan data terkini, kematian akibat Virus Corona baru lebih dari 4 ribu orang. Cina merupakan negara yang warganya paling banyak tertular, kemudian ada Italia di urutan kedua serta Iran di urutan ketiga.

Sementara itu, jumlah pasien yang positif terinfeksi COVID-19 di Indonesia juga terus bertambah. Per 11 Maret 2020, tercatat ada 34 pasien positif COVID-19. Jumlah tersebut merupakan akumulasi sejak diumumkannya kasus pertama dan kedua terkait Virus Corona jenis baru pada 1 Maret 2020.

Di tengah kesiagaan terhadap penyebaran Virus Corona baru ini, masalah kesehatan lain muncul di Tanah Air. Ternyata ada ancaman serius yang juga perlu diwaspadai, yaitu demam berdarah dengue (DBD). Hal tersebut diungkap oleh Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto. Dia mengatakan, permasalahan kesehatan di Indonesia bukan hanya Virus Corona (COVID-19), tapi juga DBD. Bahkan ia mengatakan, yang paling mengancam jiwa masyarakat Indonesia saat ini adalah DBD.

 

Infografis Virus Corona Berbahaya Vs DBD Mematikan. (Liputan6.com/Abdillah)

Dalam rentang tiga bulan, kasus demam berdarah dengue (DBD) telah merenggut 104 orang. Angka tersebut dicatat Kementerian Kesehatan dari Januari sampai awal Maret 2020. Angka ini, jauh dari jumlah kematian akibat COVID-19 yaitu 1 orang.

Jumlah kasus DBD di Indonesia sudah mencapai 16.099 di periode yang sama. Laporan kasus masuk dari 28 provinsi, dengan 370 kabupaten/kota yang terjangkit. Jumlah kasus DBD pun diperkirakan akan terus meningkat.

Empat provinsi yang melaporkan kasus DBD tertinggi, yakni Nusa Tenggara Timur (2.711), Lampung (1.837), Jawa Timur (1.761), dan Jawa Barat (1.420).

Tiga provinsi teratas dengan jumlah kematian DBD tinggi, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT) 32, Jawa Barat 15, dan Jawa Timur 13 kematian.

Terawan mengharapkan peran serta pemerintah daerah dan warga untuk bisa bersama-sama mencegah wabah DBD semakin meluas di wilayah tersebut, sehingga angka kematian karena wabah tersebut bisa ditekan.

 

 

Sama-Sama Demam, Cek Beda Gejala DBD dan COVID-19

Ilustrasi Sakit Flu dan Demam (iStockphoto)

Baik COVID-19 maupun DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Gejala dini seseorang yang terinfeksi demam berdarah dengue (DBD) dan Virus Corona (COVID-19) pun mirip. Hal ini ditandai dengan naiknya suhu tubuh. Orang yang terinfeksi mengalami demam.

Walaupun punya gejala mirip, ada perbedaan di antara DBD dengan Virus Corona. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi mengungkap perbedaannya.

"Untuk yang COVID-19, pastinya seseorang itu dilihat, apakah ada riwayat perjalanan ke daerah-daerah yang terinfeksi wabah, kontak dengan orang yang sudah pernah punya kasus positif Corona atau pernah kontak dengan orang yang punya perjalanan ke daerah wabah Corona," ujar Nadia saat konferensi pers di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (11/3/2020).

"DBD dan COVID-19 juga penyebabnya sama-sama virus. Nah, kalau demam berdarah perlu nyamuk (Aedes aegypti) untuk perantaranya, sedangkan Corona bisa menular dari manusia ke manusia."

Nadia menerangkan, pada prinsipnya DBD dan COVID-19 terjadi infeksi virus. Gejalanya mirip, tapi ada perbedaan.

"Kalau demam berdarah, kita semua tahu, demamnya tiga hari enggak turun-turun. Biasanya hari ke 3 sampai 5, pasien merasa lebih baik karena keringat dinginnya keluar. Padahal, kondisi itu masuk masa-masa syok (masa kritis)," Nadia menambahkan.

"Yang namanya infeksi virus sangat bergantung pada daya tahan tubuh. Itulah kenapa ada orang yang terinfeksi virus dengue ya santai-santai aja dan DBD-nya demam biasa. Tapi ada juga yang kena infeksi dengue, lantas menjadi berat. Kembali lagi pada daya tahan tubuh."

Pada COVID-19, seseorang bisa tidak terjangkit COVID-19 karena kekebalan tubuh kuat.

DBD dan COVID-19 sampai saat ini belum ada obatnya. Vaksin COVID-19 sedang dibuat dan diteliti para ahli dunia. Negara-negara di dunia, seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Rusia ikut membuat Vaksin Corona.

"DBD itu enggak ada obatnya. Kita hanya menangani, bagaimana memperbaiki sistem sirkulasi darah karena keadaan syok. Ini terjadi akibat perdarahan, yang mana keluarnya darah pada sel pembuluh darah agar segera kembali normal," Nadia menerangkan.

"Sama juga kalau COVID-19, bagaimana pneumonia yang dialami pada pasien COVID-19 bisa diatasi."

Selain demam, pasien yang mengarah pada gejala COVID-19 juga disertai kelelahan, nyeri punggung, otot, dan batuk kering. 

Lantas, siapkah Pemerintah menghadapi tantangan dari dua penyakit ini dalam waktu bersamaan?

 

Tangani DBD, Terawan Bawa Tim Dokter ke Sikka

Menkes Terawan Saat mengunjungi pasien DBD di Sikka, NTT. (Foto: Dionisius Wilibardus)

Menghadapi tingginya kasus DBD di Kabupaten Sikka, Menkes melakukan kunjungan ke lokasi tersebut pada Senin (9/3). Terawan membawa serta tim dokter, gabungan 20 dokter TNI dan 10 dokter dari Kemenkes. Dokter-dokter tersebut terdiri dari beberapa spesialis seperti Spesialis Anak, Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Kesehatan Lingkungan.

Mereka membawa perlengkapan logistik berupa obat-obatan dan cairan diperlukan Kabupaten Sikka dan NTT. Barang logistik yang dibawa untuk mengatasi KLB DBD di Sikka yaitu 1 buah mesin fogging, 75 raket elektrik, 30 liter insektisida, 1.000 tes RDT, Repellen 250 buah, 1 ton PMT, 1.500 cairan infus, 1.000 jarum infus dan abocath.

“Saya mau lihat sendiri penanganannya, saya juga membawa tim dokter dari Kemenkes dan TNI kita libatkan bersama, serta dengan membawa obat-obatan untuk mengatasinya” ujar Terawan, mengutip laman Sehat Negeriku.

Di Sikka, lokasi pertama yang dikunjungi Terawan adalah RSUD Dr. TC. Hillers Maumere. Dia sempat berdialog dengan pasien yang sedang dirawat. Terawan mengingatkan agar tetap menjaga diri, kesehatan dan selalu berdoa agar diberi kesembuhan.

Selanjutnya, Terawan meninjau langsung lokasi KLB DBD tersebut. Per tanggal 8 Maret 2020 jumlah kasus mencapai 1.195 dengan jumlah kematian mencapai 13 orang. 

Ia  mengatakan akan mengerahkan tim medis untuk membantu proses pengobatan, proses logistiknya dan juga akan mendorong proses promotif dan preventifnya.

"Kita membawa bantuan peralatan dan obat-obatan seperti yang dilihat dan pemerintah pusat akan terus support sesuai dengan arahan dari Presiden Jokowi. Nanti para dokter dan perawat dari Jakarta akan tinggal di sini sampai masalah DBD selesai," ucapnya.

Terawan berharap agar tim tenaga kesehatan yang bertugas, sipil dan masyarakat sekitar saling membantu dan bahu membahu untuk proses kesembuhan pasien DBD ini.

“Semua tidak akan berjalan baik jika upaya promotif dan preventif tidak dilaksanakan. Kita harus menerapkan gerakan bersama mencegah DBD ini melalui gerakan kebersihan lingkungan,” kata Terawan. 

Sementara, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi juga menegaskan, dalam penanganan DBD, pemerintah daerah masing-masing punya peran.

Apabila dinas kesehatan di kabupaten/kota tidak sanggup menangani DBD, maka Kementerian Kesehatan siap turun tangan langsung.

"Kalau kabupaten/kota enggak siap, ya baru kita turun. Kalau Corona masih (ditangani) secara nasional," tambah Nadia ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, kemarin (11/3/2020).

Untuk mengantisipasi DBD, Kementerian Kesehatan juga mendorong peningkatan kegiatan pencegahan, yaitu upaya pemberantasan sarang nyamuk, baik di rumah sekolah tempat umum dan rumah ibadah.

"Lalu memastikan logistik tes DBD, ada abate, insektisida, dan larvasida mencukupi," jelas Nadia melalui pesan tertulis saat dihubungi Health Liputan6.com melalui pesan singkat pada Selasa (10/3/2020).

Selain itu, meminta pemerintah daerah untuk terus menyiagakan rumah sakit beserta obat-obatan yang diperlukan.

"Menyiagakan rumah sakit untuk antisipasi peningkatan kasus DBD dan memastikan cairan juga alat infus tersedia. Membuat posko Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD bersama dinas kesehatan setempat," ujar Nadia. 

Nadia juga mengingatkan masyarakat, khususnya di DKI Jakarta agar tetap mewaspadai DBD di tengah kesibukan akibat COVID-19.

"Karena curah hujan terkadang masih cukup tinggi dan ini berpotensi DBD. Jangan nanti karena fokus pada Virus Corona malah lengah dengan ancaman DBD," kata Siti Nadia Tamizi, mengutip Antara.

Ini karena kemunculan DBD di DKI Jakarta biasanya terjadi usai adanya peningkatan kasus di berbagai daerah lain.

Siti Nadia mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk tetap wasapada. "Takutnya karena fokus Corona, lalu demam satu atau dua hari dan kemudian tidak menunjukkan gejala, masyarakat tidak menganggap adanya kemungkinan terjangkit demam berdarah," ujarnya.

Pada kasus DBD, fase kritis ialah pada hari ketiga dan keempat, yakni saat penderita merasa sudah sehat. Padahal, terakdang itulah masa-masa masuknya pre-shock DBD.

 

3 Orang Pasien COVID-19 Dinyatakan Sembuh

Ilustrasi orang pakai masker saat wabah Virus Corona COVID-19 di Indonesia. (Liputan6.com/Tanti Yulianingsih)

Hingga Kamis (12/3) petang, belum ada penambahan jumlah individu yang positif COVID-19. Sebaliknya, Juru Bicara untuk Penanganan Virus Corona di Indonesia, Achmad Yurianto, mengabarkan bahwa tiga pasien positif COVID-19 yang dirawat di RSUP Persahabatan dinyatakan sembuh. 

"Secara klinis sudah membaik, tidak ada keluhan. Secara laboratorium, sudah melakukan dua kali pemeriksaan hasilnya negatif," kata Yurianto di RSUP Persahabatan pada Kamis, 12 Maret 2020. 

Tiga orang pasien yang sembuh dari Virus Corona itu adalah pasien nomor 06: pria 39 tahun; pasien nomor 14: pria 50 tahun; pasien nomor 19: pria, 49 tahun. 

Setelah ketiganya dinyatakan sembuh, Yurianto mengatakan mereka tidak membutuhkan perawatan. Akan tetapi, tetap diberikan edukasi agar melakukan pembatasan diri saat kembali ke keluarga.

"Juga melaksanakan latihan fisik yang seimbang, asupan gizi yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya," katanya.

"Ini yang kita minta untuk dilakukan. Kita meyakini yang bersangkutan bisa diedukasi, makanya memberikan izin untuk pulang," Yurianto mengatakan.

Tiga orang yang sudah sembuh dari Corona dibekali surat rujuk balik ke Puskesmas yang dekat dengan tempat tinggalnya. Menurut Yurianto, ini merupakan langkah monitoring.

Selain tiga pasien tersebut, 9 warga negara Indonesia (WNI) ABK Diamond Princess yang menjalani perawatan COVID-19 di Jepang juga telah dinyatakan sembuh. Yuri mengatakan, lima dari sembilan WNI itu telah tiba di Tanah Air. 

"Dalam waktu singkat ini akan disusulkan lagi empat orang. Sudah lepas perawatan tapi masih menunggu ticketing yang ditanggung oleh perusahaannya untuk menuju ke Jakarta," kata Yuri.

 

12 Orang Dalam Pantauan 

Pemerintah menyatakan saat ini ada 12 orang yang menjadi pasien dalam pengawasan (PDP) terkait Virus Corona (Covid-19). Mereka menunjukkan gejala Corona ringan, seperti batuk, demam, dan pilek.

Para pasien dalam pengawasan tersebut pernah berhubungan dengan kasus positif Corona. Sementara, beberapa lainnya diawasi karena baru pulang dari luar negeri. 

"Ada 12 yang kita monitor. Saya belum bisa sebutkan detailnya tapi ada pengawasan spesifik pada 12 orang ini," kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto di Kantor Presiden Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Menurut dia, pemerintah akan melakukan tes kesehatan dengan dua metode yaitu, Polymerace Chain Reaction (PCR) dan genome sequencing. Dua metode ini diperlukan untuk mendapatkan hasil tes spesimen corona yang valid.

"Kalau belum ada kroscek dengan genome kita belum yakin. Dari pemeriksaan terdahulu juga PCR positif, genome negatif. Meski ada juga yang dua-duanya positif," jelas Yurianto.

Meski begitu, dia memastikan bahwa 12 pasien dalam pengawasan Virus Corona telah diisolasi di rumah sakit rujukan. Pemerintah juga telah menelusuri kontak dekat pasien.

"Ini yang menjadi kepentingan kita sudah ada di RS, sudah diisolasi. Ada ruang waktu bagi kita selama genome sequencing, untuk memeriksa kontak dekat dia," tuturnya.  

Yuri mengatakan, setiap negara telah bersiap-siap, menyiapkan sarana dan prasarana kesehatan untuk menghadapi COVID-19.

"Masing-masing negara akan berusaha mengamankan jumlah (sarana-dan prasarana) yang dianggap cukup oleh mereka," ujarnya.

Hal itu termasuk jumlah kebutuhan kit lab pemeriksaan yang masing-masing negara butuhkan. Kemenkes sudah menyiapkan lebih dari 10 ribu kit. Menurut Yuri, jumlahnya akan ditambah lagi. Demikian juga dengan ketersediaan masker. Dia mengatakan, Pemerintah telah menyiapkan lebih dari 15 juta masker.

"Tetapi ini tentunya bukan suatu jumlah yang kita anggap kurang atau cukup. Artinya kita sudah punya stok," ujarnya.

Namun, Yuri menggarisbawahi bahwa yang terpenting adalah mengendalikan penularan lebih keras lagi. "Satu-satunya cara dengan tracing. Contact tracing harus dilakukan lebih kencang lagi, kemudian diisolasi agar tidak jadi kasus baru di masyarakat."

 

Reporter: Lizsa Egeham

Editor: Rita Ayuningtyas, Nila Chrisna Yulika

Saksikan Juga Video Berikut Ini: