HEADLINE: Wacana Sekolah Kembali Dibuka Juli 2020, Apa Strategi Kemendikbud?

Liputan6.com, Jakarta - Muhammad Ridwan rindu untuk kembali belajar di sekolah.  Sejak Pemerintah Provinsi DKI meliburkan kegiatan belajar mengajar per Senin 16 Maret 2020 lalu, akibat pandemi Covid-19, siswa kelas XI SMK di bilangan Jakarta Pusat ini menghabiskan waktunya hanya di rumah.

Perasaan jenuh menggelayut. Terlebih hingga kini belum diketahui kapan pandemi berakhir. "Jenuh di rumah mulu. Mudah-mudahan sekolah cepat dibuka lagi," kata dia saat berbincang-bincang dengan Liputan6.com, Selasa (19/5/2020).

Terkait kabar rencana sekolah dibuka kembali pada Juli 2020, dia langsung antusias. Ridwan menyatakan siap mematuhi protokol kesehatan bilamana itu diterapkan saat masuk sekolah. "Jalani saja, siap jalanin semuanya," ujar dia.

Hal senada disampaikan Fifi Luthfiyati. Siswi kelas IX di SMPN daerah Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur ini merasa jemu berada di rumah. Kendati komunikasi dengan guru dan rekan sekelasnya tetap terjalin melalui WhatsApp.

"Sudah bosan di rumah, ingin sekolah," keluhnya saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (19/5/2020).

Kendati demikian, dia mengaku takut jika sekolah kembali dibuka di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini. Fifi berharap, kegiatan belajar mengajar dapat kembali dilaksanakan kala virus ini sudah benar-benar minggat dari Indonesia.

"Korban corona makin banyak, takutnya penularan makin banyak juga. Jadi tunggu pandemi berakhir dulu," ucap dia.

Namun dirinya mengaku siap bila pemerintah menetapkan akan kembali membuka sekolah pada Juli 2020 mendatang. Tentunya, hal itu harus dibarengi dengan protokol kesehatan bagi semua elemen kependidikan.

"Siap ikuti protokol kesehatan. Sebab ini kan juga buat keselamatan semua," kata dia.

Wacana sekolah kembali aktif pada Juli 2020 digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Rencana itu, kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Hamid Muhammad, sudah dibahas sejak awal Mei 2020.

"Sudah dibahas minggu lalu. Tinggal tunggu keputusan pemerintah kalau sudah final," kata Hamid saat dikonfirmasi Liputan6.com, Rabu 13 Mei 2020.

Menurut Hamid, saat ini pihaknya sedang mempersiapkan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kemendikbud juga masih terus mengkoordinasikannya dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan.

"Tunggu pengumuman resmi saja, masih dikoordinasikan ke BNPB dan Kemenkes," jelas Hamid.

Namun begitu, perkembangan agenda tersebut hingga kini belum juga terdengar gaungnya. Saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (19/5/2020), Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud, Evy Mulyani mengungkapkan, hal itu masih belum menjadi kepastian.

"Mengingat saat ini belum dapat ditentukan kapan pandemi akan berakhir, serta sesuai dengan pernyataan Kepala BNPB selaku Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penangan COVID-19 Doni Monardo pada 12 Mei, maka prediksi-prediksi berdasarkan hasil kajian yang telah dibuat pemerintah masih berpotensi berubah," kata dia.

Kemendikbud, kata Evy, masih terus berkoordinasi dengan pihak terkait. Kajian tentang berbagai kemungkinan pun dilakukan demi keselamatan anak didik dari bahaya Covid-19 ini.

"Kemendikbud secara aktif melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengkaji berbagai kemungkinan atau skenario. Keamanan, keselamatan, dan kesehatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan menjadi pertimbangan utama," ujar dia.

Nantinya, jika rencana masuk kembali sekolah pada Juli 2020 itu sudah final, pada saatnya akan diumumkan secara resmi. Keputusan ini bakal diambil setelah rapat kabinet digelar.

"Pada prinsipnya keputusan pembukaan sekolah akan diputuskan oleh pemerintah melalui rapat kabinet yang dipimpin Bapak Presiden RI. Hal tersebut telah ditegaskan Kantor Staf Kepresidenan," ucap dia.

Kemendikbud sebelumnya sudah memiliki tiga skenario tentang pembukaan kembali proses bejalar mengajar di sekolah. Ketiga skenario tersebut dipilih dan dipertimbangkan dengan baik dan penuh hati-hati. Ketiga skenario tersebut pertama, jika Covid-19 berakhir pada akhir Juni 2020, siswa masuk sekolah tahun pelajaran di minggu ketiga Juli 2020.

Kedua, jika Covid-19 berlangsung sampai September 2020, siswa belajar di rumah dilaksanakan sampai September. Dan terakhir, semua siswa belajar di rumah selama satu semester penuh jika Covid-19 sampai akhir tahun 2020.

 

IDI Minta Hati-Hati

Sementara itu, Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban menilai rencana sekolah kembali dibuka pada Juli 2020 menjadi opsi terakhir setelah adanya pelonggaran PSBB. Karena pada prinsipnya, langkah tersebut dilakukan setelah kasus Covid-19 turun drastis, khususnya mengenai angka kematian dan jumlah kasus positifnya.

"Memang semua menduga dan berharap bahwa Juli sudah turun, walaupun Singapura bilang masih mungkin juga Agustus dan September baru selesai gitu ya untuk Indonesia, jadi kalau kemudian pada seminggu terakhir ini banyak cluster baru, saya kira mendingan hati-hati," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (19/5/2020).

Dia menambahkan, ada beberapa klaster baru yang terjadi di Surabaya maupun Malang, Jawa Timur. Selain itu, ada juga penumpukan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Kondisi ini, kata Zubairi, bisa menimbulkan peningkatan jumlah kasus Covid-19.

"Itu memang masih ada kemungkinan, dua tiga minggu ke depan masih akan meningkat tinggi," ucap dia.

Namun begitu, Zubairi menilai tak ada salahnya jika Kemendikbud membuat rencana aktivitas belajar mengajar akan kembali dibuka pada Juli 2020 mendatang. Tapi rencana itu bersifat longgar alias tidak memaksakan kehendak.

"Jadi ketika ada perubahan dari grafik menurun drastis ya bisa, tapi kalau tidak, dan tidak terlalu yakin lebih baik ditunda saja," ucap dia.

Rencana kebijakan itu jika nantinya tetap dilakukan, dapat dilalui secara bertahap. Fase pertama bisa menyentuh jenjang sekolah-sekolah di level terbawah.

"Mungkin yang lebih kecil, katakanlah preschool atau TK, kemudian mulai lebih tinggi. Biasanya pihak keluarga tidak wajib, boleh masuk atau tidak, di awal-awal itu. Jadi menurut saya untuk sekolah, lebih baik hati-hati," ucap dia.

"Kalau sampai kuliah, (usia) di bawah 23-24, yang dikhawatirkan dia membawa virus ke rumah. Menularkan ke kakaknya, ke ibunya, ke kakek neneknya, itu yang dikhawatirkan, sehingga timbul kasus-kasus klaster baru di rumah," imbuh Zubairi.

Dia menerangkan, penerapan protokol kesehatan mutlak diterapkan jika Juli 2020 aktivitas sekolah kembali normal. Selain social distancing dan penggunaan masker, juga bisa diterapkan pembatasan jam waktu belajar.

"Jadi mungkin harus dibatasi, katakanlah satu pelajaran 45 menit, berkurang jadi 30 menit saja, break keluar dulu, karena kalau kita belajar dari berbagai ledakan kasus yang berat itu karena bersama-sama di suatu ruangan yang cukup lama, seperti di kapal pesiar, sudah lebih dari 40 kapal pesiar yang ledakannya sampai ribuan orang yang terinfeksi," jelas dia.

Sekolah, lanjut Zubairi, memiliki pola yang mirip dengan masjid dan gereja, yaitu di ruangan tertutup. Pembelajaran kasus dapat diambil dari Masjid di Taman Sari Jakbar dan juga tablig akbar di Malaysia. Sejarah juga mencatat, Korea Selatan separuhnya yang terinfeksi terkait dengan sebuah gereja.

"Ada sekitar lima ribu orang terkait dengan sebaran di gereja. Kemudian di Prancis, di gereja menyumbang 2.000 kasus, sebenernya tinggal diabsen saja," ucap dia.

Intinya, tegas dia, virus ini tidak mengenal agama namun akan menyebar cepat dari orang ke orang yang berada cukup lama di dalam ruangan yang tertutup. "Dan sekolah termasuk dalam kelompok ini," kata dia.

Pelajaran dari China dan Prancis

Sejumlah siswa kelas 12 menyemangati diri mereka sendiri di Guangqumen Middle School, Beijing, China, Senin (27/4/2020). Sekolah menengah atas di Beijing memulai kembali kegiatan belajar di kelas untuk siswa tingkat akhir yang akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. (Xinhua/Chen Zhonghao)

Mayoritas sekolah-sekolah di China kembali berkegiatan normal usai berbulan-bulan menjalankan segalanya dari rumah selama pandemi Covid-19. Seiring menurunnya kasus baru yang dilaporkan, pemerintah Tiongkok pun akhirnya memutuskan untuk melonggarkan aturan.

Namun, penyebaran penyakit tentu tidak dapat berhenti sepenuhnya begitu saja. Tentu masih ada protokol kesehatan yang dijalani sebagai langkah preventif munculnya penyebaran virus.

Untuk itu, sekolah-sekolah di sana pun menjalani protokol kesehatan sesuai standar WHO. 

Mengutip unggahan video dari CGTN, Selasa (19/5/2020), terlihat seorang siswa laki-laki yang baru tiba di sekolah dan hendak memasuki kelas. Sebelum memasuki sekolah, seorang guru menunggunya di depan gerbang di mana guru tersebut akan melakukan desinfektasi sol sepatu dan membuang masker sekali pakai yang dikenakan murid. 

Selanjutnya, guru kedua bertugas untuk membantu siswa melakukan desinfeksi tangan menggunakan cairan pembersih yang telah disiapkan.

Guru ketiga kemudian akan mendampingi siswa untuk melakukan desinfeksi tubuh, baik bagian depan dan belakang.

Langkah terakhir, siswa akan melakukan pengecekan suhu tubuh sebelum akhirnya bisa masuk ke gedung sekolah. Baru setelah itu, siswa bisa masuk ke ruang kelas. 

Menurut video tersebut, siswa yang menunjukan gejalan penyakit akan diminta pulang. 

Menurut India Today, langkah seperti ini akan menjadi hal yang wajib dilakukan pada masa mendatang di seluruh dunia. 

Standar yang dikeluarkan WHO ini tentu semata-mata untuk mengantisipasi penyebaran penyakit, yang tentunya wajib dilakukan oleh semua sekolah di seluruh dunia ketika nanti keadaannya telah kembali normal. 

Sekolah Dibuka, Kasus Bertambah di Prancis

Apa yang terjadi di Prancis bisa jadi peringatan yang harus diantisipasi. Sejak 11 Mei, 1,4 juta anak di Prancis kembali ke sekolah. Namun, hingga Senin 18 Mei, pelonggaran lockdown atau karantina wilayah itu malah menambah 70 kasus positif Virus Corona Covid-19 di kalangan siswa.

Mereka yang positif berasal dari kelas penitipan anak dan sekolah dasar di Prancis. Akibatnya, banyak taman kanak-kanak dan sekolah dasar ditutup kembali dalam sepekan setelah virus terdeteksi di kalangan siswa.

Meski begitu, lebih dari 50 ribu siswa sekolah menengah juga kembali ke sekolah pada Senin 18 Mei, sepekan setelah pencabutan karantina nasional.

Berbicara kepada Radio RTL, Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer mengatakan, penutupan segera beberapa sekolah merupakan sebuah gambaran nyata bahwa lembaga pendidikan mengikuti pedoman dan protokol yang ketat. "Setelah pembukaan pertama, diperlukan kehati-hatian," ujar Blanquer.

Dia menambahkan, kasus-kasus baru kemungkinan besar dibawa dari luar sekolah. Siswa yang kembali ke sekolah adalah mereka yang berada di kelas lima dan enam, berasal dari zona hijau saja karena mereka dinyatakan lebih aman dari penyebaran virus.

Hingga saat ini, jumlah kematian akibat COVID-19 di Prancis mencapai 28.108, dengan jumlah total kasus mencapai 142.411. Sementara itu, 61.213 pasien dinyatakan sembuh.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: