HEADLINE: Waspada Fenomena La Nina Seiring Musim Hujan, Antisipasi di Daerah?

·Bacaan 13 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga di berbagai daerah di Indonesia, untuk waspada terhadap fenomena La Nina, yang menyebabkan curah hujan meningkat jelang akhir tahun. Berkaca dari kejadian La Nina tahun lalu, hasil kajian BMKG memprediksi, fenomena yang sama juga diprediksi terjadi tahun ini. Dampaknya akan ada peningkatan curah hujan bulanan berkisar antara 20-70 persen di atas normalnya.

Info dari laman BMKG juga menyebut, berdasarkan monitoring perkembangan data terbaru suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur, saat ini nilai anomali telah melewati ambang batas La Nina, yaitu sebesar -0.61 pada Dasarian I Oktober 2021.

Kondisi itu, kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, akan terus berkembang dan masyarakat perlu bersiap dan terus waspada dengan kehadiran La Nina tahun ini yang diprakirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah-sedang, setidaknya hingga Februari 2022.

"Maka perlu kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi lanjutan dari curah hujan tinggi, yaitu bencana hidrometeorologi," katanya.

Dwikorita juga mengingatkan pemerintah daerah, masyarakat, dan semua pihak terkait, soal pengurangan risiko dan dampai bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Pemda perlu mengambil langkah sigap menyiapkan langkah pencegahan dan mitigasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi, antara lain banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung, maupun badai tropis.

Sementara itu, berdasarkan data jejaring stasiun pengamatan hujan BMKG yang ada di seluruh wilayah Indonesia, hingga Dasarian I (sepuluh hari pertama) Oktober 2021, sebanyak 19,3 persen wilayah di Indonesia sudah memasuki musim hujan. Antara lain Aceh bagian tengah, Sumatera Utara, sebagian besar Riau, Sumatera Barat, Jambi, sebagian besar Sumtera Selatan, Lampung bagian barat, Banten bagian timur, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah bagian barat, sebagian kecil Jawa Timur bagian selatan, sebagian Bali, Kalimantan Utara, sebagian besar Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian selatan dan timur, Kalimantan tengah bagian timur, Pulau Taliabu, dan Pulau Seram bagian selatan.

BMKG juga menyebut, daerah-daerah yang telah memasuki periode musim hujan pada Oktober ini meliputi wilayah Aceh bagian timur, Riau bagian tenggara, Jambi bagian barat, Sumatera Selatan bagian tenggara, Bangka Belitung, Banten bagian barat, Jawa Barat bagian tengah, Jawa Tengah bagian barat dan tengah, sebagian DI Yogyakarta dan sebagian kecil Jawa Timur, Kalimantan Tengah bagian timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Sedangkan beberapa wilayah Indonesia lainnya, akan memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2021 secara bertahap dalam waktu yang tidak bersamaan. Namun secara umum, sampai November 2021 diprakirakan 87,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Kemudian pada akhir Desember 2021, BMKG memprakirakan 96,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Sementara periode puncak musim hujan diprediksi akan dominan terjadi pada Januari dan Februari 2022.

Plt Deputi Bidang Klimatologi Urip Haryoko mewanti-wanti warga untuk selalu waspada, pasalnya pada Oktober ini beberapa wilayah di Indonesia, antara lain di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Selatan tengah mengalami periode transisi, atau peralihan musim, dari musim kemarau ke musim hujan.

"Pada periode peralihan musim ini, sering muncul fenomena cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, angin puting beliung, angin kencang meskipun periodenya singkat tapi sering memicu terjadinya bencana hidrometeorologi," katanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Fenomena La Nina dan IOD

Rahmat Subekti, peneliti cuaca di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Raden Inten Lampung, kepada Liputan6.com pernah mengatakan, secara umum La Nina lebih berdampak di daerah Indonesia bagian tengah dan timur. Untuk wilayah Sumatera, La Nina lemah hingga moderate, dan dampaknya tidak sekuat di wilayah tengah dan timur Indonesia.

"Tapi tetap perlu diwaspadai peningkatan curah hujan akibat La Nina moderate ini," katanya.

Lebih jauh, Rahmat menjelaskan, La Nina fenomena alam yang terjadi Samudera Pasifik. Lokasinya yang jauh dari Pulau Sumatera, turut mempengarungi besarnya dampak yang bakal terjadi.

"Ada fenomena serupa La Nina, tapi terjadi di Samudera Hindia, Namanya Indian Ocean Dipole. Ini secara umum pengaruh dan dampaknya kuat di Indonesia bagian barat, salah satunya Pulau Sumatera," katanya.

Sama halnya seperti fenomena La Nina, Indian Ocean Dipole terjadi karena perbedaan suhu muka laut di lautan sebelah timut pantai Afrika dan kawasan laut barat Indonesia.

Saat suhu muka laut pada salah satu kawasan tersebut menjadi lebih panas atau dingin dari biasanya, maka akan menyebabkan perubahan sirkulasi udara dan juga arus laut, yang berbeda dari kondiri biasanya. Perubahan sirkulasi inilah yang kemudian membawa dampak kondisi iklim, khususnya di Indonesia bagian barat.

Suhu muka laut yang menjadi lebih panas ini juga mempengaruhi tekanan udara di atas lautan yang hangat tersebut menjadi lebih rendah. Maka akan terjadi aliran udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Dalam konteks fenomena IOD, maka massa udara akan mengalir ke wilayah Indonesia, yakni Pulau Sumatera, jika suhu muka laut id perairan barat Indonesia lebih hangat.

IOD sendiri punya tiga fase, yaitu netral, positif, dan negatif. Pada fase negatif, suhu muka laut di barat Indonesia menjadi lebih hangat dari biasanya. Selisih suhu muka laut, antara muka alut pantai timur Afrika dan pantai barat Indonesia akan lebih kecil dari minus 0,5 derajat Celsius. Hal ini menimbulkan curah hujan yang berbeda dari biasanya di wilayah barat Indonesia hingga Australia.

Rahmat tidak bisa memastikan sejauh mana fenomena Indian Ocean Dipole berdampak pada peningkatan curah hujan di Indonesia bagian barat, namun yang pasti perubahan iklim yang terjadi bisa memperburuk keadaan.

"Kami memantau sampai pengaruh pada informasi waspada peningkatan curah hujan saja. Soal bagaimana hujan ini bisa menimbulkan banjir bandang, itu sudah menjadi ranah BPBD, atau dengan KLHK jika kaitannya dengan tutupan hutan," katanya.

Perubahan Iklim Perparah Keadaan

Sementara itu, Peneliti Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan, cuaca ekstrem yang sering terjadi belakangan ini menjadi salah satu dampak krisis iklim di Indonesia.

Bahkan laporan terbaru Panel Antar-Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) PBB, menemukan perubahan iklim mengintensifkan siklus hidrologi atau air di alam. Jadi sangat sering terjadi suatu wilayah akan mendapatkan curah hujan ekstrem yang bisa menyebabkan banjir, namun di saat musim kemarau wilayah tersebut akan mengalami kekeringan yang intens.

"Perubahan iklim juga akan menyebabkan pola curah hujan di wilayah tropis berubah dan intensitasnya tergantung dengan wilayah," katanya.

Daerah pesisir juga akan mengalami dampak dari kenaikan tinggi muka laut sepanjang abad ke-21 yang berkontribusi terhadap banjir pantai yang lebih sering di daerah pesisir serta menyebabkan erosi pantai. Dia juga mengingatkan bahwa untuk kota seperti Jakarta, Makassar, Medan dan Surabaya juga akan mengalami respons berbeda.

"Terutama di kota sendiri sudah ada fenomena yang disebut dengan fenomena panas perkotaan," jelasnya.

Secara umum saat ini rata-rata suhu udara permukaan Indonesia lebih rendah dari rata-rata global. Namun, jika dilihat secara spesifik per kota seperti Jakarta maka ditemukan tingkatnya lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. "Kalau kita lihat kota per kota seperti Jakarta itu akan 1,4 derajat Celsius lebih kuat, dibandingkan rata-rata global," katanya.'

IPCC melalui Sekjen PBB Antonio Guterres pada 9 Agustus 2021 juga telah memberikan peringatan keras berupa ‘Kode Merah Bagi Umat Manusia’ terkait perubahan iklim yang belakangan masif terjadi. Tentu peringatan ini bukan hanya untuk beberapa negara saja, melainkan juga untuk semua negara, termasuk Indonesia.

Bahkan, yang menyedihkan, forum ilmiah itu juga menyebut, 20 tahun ke depan cuaca ekstrem yang terjadi karena perubahan iklim tidak bisa lagi dikendalikan, jika manusia masih saja melakukan aktivitas menyebar emisi karbon secara ekstrem. Saat musim hujan seperti sekarang ini, intensitas turunnya air bisa sangat tingi sehingga menyebabkan banjir bandang. Peristiwa banjir bandang yang terjadi di NTT belum lama ini seharusnya bisa menjadi warning bagi orang Indonesia, untuk mulai bergerak mengurangi terjadinya perubahan iklim, dengan cara mengurangi emisi karbon dan merawat hutan.

Sudah seharusnya KTT COP26, yang akan digelar bakal waktu dekat, menjadi momentum bagi negara-negara di dunia untuk berkomitmen mengatasi isu perubahan iklim dan mengurangi emisi karbon. Inggris, sebagai penyelenggara acara menegaskan komitmennya dan mengajak negara-negara di dunia untuk terus menghasilkan tindakan nyata. Indonesia pun diajak untuk menghasilkan upaya konkret untuk hal ini.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Owen Jenkins juga mengapresiasi penanganan yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menangani isu perubahan iklim.

"Saya sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menangani isu ini, terlebih karena Indonesia sangat rapuh dalam hal ini," ujarnya dalam media briefing terkait KTT COP26, Kamis (28/10/2021).

Owen Jenkins juga menegaskan, Inggris telah menunjukkan komitmen penuhnya untuk mengurangi emisi global. Dalam upayanya, negara-negara di dunia diharapkan untuk menurunkan suhu global mencapai di bawah 1,5 derajat celcius. Selain itu, isu-isu yang juga diangkat lainnya terkait perubahan iklim adalah soal penggundulan hutan hingga mencairnya suhu bumi.

Dalam pandangan Owen, Indonesia punya potensi menjadi negara adidaya iklim dengan kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya. Maka dari itu, Inggris menyatakan dukungannya bagi Indonesia dan sejumlah negara berkembang lainnya dalam mewujudkan upaya untuk mengurangi emisi global.

"Kami sangat memahami bahwa Indonesia dan negara berkembang lainnya membutuhkan dukungan, membutuhkan biaya, membutuhkan investasi untuk mencapainya. Dan itu adalah sesuatu yang sangat ingin kami berikan dan dukung," ujar Owen.

Owen Jenkins juga sangat yakin kepada Indonesia atas ambisinya mengurangi emisi karbon, khususnya yang berkaitan dengan kehutanan dan penggunaan lahan.

Reporter: Benedikta Miranti

Infografis Musim Hujan Datang La Nina Mengintai

Infografis Musim Hujan Datang, La Nina Mengintai. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Musim Hujan Datang, La Nina Mengintai. (Liputan6.com/Trieyasni)

Antisipasi di Daerah

Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati jauh-jauh hari telah mewanti-wanti pemda selaku pemegang kebijakan di daerah, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap adanya potensi lanjutan dari curah hujan tinggi, yaitu bencana hidrometeorologi.

Pemerintah Kota Madiun, Jawa Timur, misalnya, telah menggelar apel kesiapsiagaan bencana dan 'memanaskan mesin' badan penanggulangan bencana di daerahnya.

"BMKG sudah menyampaikan akan ada hujan lebat. Bahkan, disertai angin dan petir. Karenanya, kita juga harus siap. Petugas kita turunkan untuk melakukan langkah-langkah antisipasi," ujar Wali Kota Madiun Maidi dalam kegiatan Apel Kesiapsiagaan Bencana di Taman Edukasi dan Wisata Ngrowo Bening Kota Madiun, Rabu (27/10/2021).

Naidi mengatakan, petugas BPBD Kota Madiun dan OPD terkait lainnya akan langsung bergerak sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Mulai pengecekan aliran sungai, pengecekan dan pemangkasan pohon-pohon besar, dan potensi kebencanaan lainnya.

Potensi bencana masih tetap ada di Kota Madiun. Mulai banjir, angin puting beliung, hingga pohon tumbang. Karenanya, pemda setempat terus berupaya mengambil langkah antisipasi.

"Sebanyak 70 persen pohon yang tinggi-tinggi dan rawan tumbang sudah kita pangkas. Sudah kita rapikan tidak lebih dari 7 meter. Ini untuk antisipasi pohon tumbang," katanya. Selain itu, pembangunan tangkis atau talud di sejumlah titik aliran sungai juga terus dikebut.

Wali kota berharap pembangunan sudah selesai sebelum hujan turun. Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sampah, lanjutnya, sering kali menjadi penyebab banjir di sejumlah titik karena menyumbat aliran sungai hingga air meluber ke permukiman warga.

Ia menambahkan, apel kesiapsiagaan bencana tersebut juga untuk melihat sejauh mana petugas BPBD Kota Madiun dalam menghadapi bencana yang rawan terjadi saat musim hujan.

Karenanya, melalui kegiatan tersebut Wali Kota Maid juga mengecek kesiapan peralatan dan infrastruktur yang dimiliki Pemkot Madiun untuk menanggulangi bencana.

"Peralatan penanganan bencana kita lengkapi. Tak kalah penting, masyarakat juga terus kita imbau agar ikut menjaga lingkungan," katanya.

Terkait wilayah rawan banjir, Maidi menyebut masih di Kota Madiun wilayah timur dan utara. Yakni, Kelurahan Kelun, Tawangrejo, Pilangbango, dan Rejomulyo. Wilayah-wilayah tersebut mendapat kiriman air dari Gunung Wilis dan Ponorogo.

"Bencana bisa datang kapan saja. Prinsipnya, kita yang harus siap dan waspada," kata dia.

Sementara, Apel Kesiapsiagaan Bencana di Taman Edukasi dan Wisata Ngrowo Bening tersebut melibatkan sebanyak 400 personel yang berasal dari BPBD, Satpol PP, Pemadam Kebakaran, PMI, Tagana, Pramuka, TNI, kepolisian, dan relawan.

Dalam apel tersebut juga dilakukan simulasi penanganan kebakaran dan penyelamatan korban. Apel juga ditinjau oleh Forkopimda Kota Madiun.

Relawan Tangguh Bencana

Sama seperti Madiun, sadar akan bahaya fenomena La Nina yang bisa menyebabkan bencana turunan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Jawa Barat, menyiagakan relawan tangguh bencana (Retana) di masing-masing wilayah rawan bencana alam banjir, khususnya di wilayah selatan, untuk siaga dan waspada serta segera melakukan evakuasi jika melihat air sungai meluap.

"Kita imbau Retana untuk segera nengevakuasi warga di bantaran sungai, jika melihat air sungai terus meninggi hingga merendam perkampungan warga. Termasuk melaporkan situasi terkini, sehingga berbagai upaya dan penanganan segera dilakukan, " kata Plt Kepala BPBD Cianjur, Tedi Artiawan, Rabu (27/10/2021).

Tedi menjelaskan, sebagian besar wilayah Cianjur, masuk dalam zona merah bencana mulai dari utara hingga selatan Cianjur, mulai dari pergerakan tanah, longsor, banjir dan gelombang tinggi di pesisir selatan yang sempat menyebabkan abrasi dan merendam perkampungan warga.

Sehingga pihaknya menugaskan seluruh Retana di masing-masing desa dan kecamatan untuk jeli membaca tanda alam akan terjadinya bencana, terlebih selama dua pekan terakhir, curah hujan cukup tinggi dengan intensitas lama, harus sangat diwaspadai karena dapat memicu terjadinya bencana.

"Meski hingga saat ini, kami belum menetapkan status siaga bencana karena masih menunggu dari BMKG. Namun upaya pencegahan dengan menempatkan Retana di wilayah rawan bencana, setidaknya dapat menghindari jatuhnya korban jiwa, " katanya.

Sementara hingga dua pekan terakhir, pihaknya mencatat 8 peristiwa bencana alam melanda Cianjur, sebagian besar dipicu hujan deras dengan intensitas lebih dari 2 jam, menyebabkan banjir dan longsor di wilayah utara termasuk pergerakan tanah dan banjir di wilayah selatan serta pergerakan tanah.

"Sebagian besar sudah teratasi, rumah warga yang rusak akibat banjir dan terancam longsor, sudah kembali ditempati. Namun kami mengimbau seluruh warga di Cianjur, untuk segera mengungsi ke tempat aman, jika melihat tanda alam akan terjadinya bencana, " kata Tedi.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jabar, punya cara sendiri dalam mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bakal terjadi. Antara lain mengantisipasi adanya potensi bencana di jalur wisata menuju kawasan Lembang saat wilayah Bandung Raya memasuki masa musim hujan.

Kepala BPBD KBB Duddy Prabowo, Kamis mengatakan antisipasi itu diperlukan mengingat cuaca ekstrem ini berpotensi menimbulkan bencana seperti banjir bandang, angin kencang, hingga pohon tumbang yang membahayakan kendaraan.

"Kami juga mengantisipasi itu di daerah wisata ya, karena kan sekarang PPKM sudah Level 2, objek wisata sudah bisa beroperasi, apalagi mayoritas area wisata di kawasan Lembang itu kan alam terbuka," kata Duddy di Bandung.

Dalam satu bulan terakhir, Duddy pun mencatat ada empat kali peristiwa bencana di kawasan Lembang dalam satu bulan terakhir.. Keempat peristiwa itu terjadi di Desa Cikole, Desa Jayagiri, dan titik lainnya yang dekat dengan sejumlah objek wisata.

Bencana yang terjadi di kawasan Lembang itu mulai dari banjir, longsor, dan banjir bandang. Akibatnya puluhan rumah terdampak rusak sedang hingga rusak berat akibat fenomena tersebut.

Menurutnya, kondisi geografis di sejumlah titik itu mendukung terjadinya peristiwa longsor dan banjir bandang itu karena KBB merupakan wilayah perbukitan dan pegunungan yang memiliki kemiringan mulai dari 25 derajat hingga 40 derajat.

Adapun menurutnya potensi bencana itu juga tidak hanya rawan di kawasan Lembang. Menurutnya seluruh kecamatan di KBB pun memiliki potensi yang sama.

Selain di Lembang, BPBD mencatat ada tiga peristiwa bencana mulai dari longsor hingga banjir bandang dalam satu bulan terakhir. Tiga titik itu yakni di Desa Pakuhaji Kecamatan Ngamprah, Desa Weninggalih Kecamatan Sindangkerta, dan di Desa Gununghalu Kecamatan Gununghalu.

"Kami mengimbau kepada warga masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan pada saat awal musim maupun puncak musim hujan yang diperkirakan akan terjadi pada bulan Januari 2022, terutama bagi masyarakat yang bertempat tinggal di lokasi-lokasi yang rawan terjadi longsor dan banjir bandang," katanya.

Penambahan Posko Bencana

Di Sumatera Selatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Komering Ulu, berencana menambah posko penanggulangan bencana alam di setiap kecamatan.

Kepala BPBD Ogan Komering Ulu (OKU) Amzar Kristopa di Baturaja, Rabu, menjelaskan bahwa penambahan posko ini untuk mempermudah dalam penanggulangan bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor.

Menurut dia, saat ini BPBD OKU baru mendirikan lima posko penanggulangan bencana di lima kecamatan meliputi Kecamatan Ulu Ogan, Pengandonan, Semidang Aji, Lengkiti, dan Lubuk Batang.

"Kecamatan ini dipetakan sebagai daerah rawan banjir dan tanah longsor pada musim hujan," katanya.

Ke depan pihaknya akan menambah posko di Kecamatan Muara Jaya dan Peninjauan serta kecamatan lainnya khususnya yang dekat dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ogan karena daerah ini berpotensi terjadi bencana bencana banjir dan tanah longsor pada musim hujan.

Dijelaskan pula bahwa di setiap posko akan dilengkapi peralatan penanggulangan bencana, termasuk personel BPBD, dibantu tim sukarelawan yang disiagakan untuk hadapi bencana alam.

Sukarelawan di setiap posko ini, kata dia, bertugas mengantisipasi sekaligus memantau titik rawan bencana di wilayah masing-masing agar dapat menanggulangi bencana sedini mungkin.

Selain itu, mereka juga bertugas membantu BPBD OKU dalam aksi penanggulangan bencana, termasuk mengevakuasi korban jika terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Dengan penambahan posko ini, dia berharap bencana alam dapat menanggulangi kejadian tersebut sedini mungkin sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Infografis Antisipasi Potensi Bencana Alam Akibat La Nina

Infografis Antisipasi Potensi Bencana Alam Akibat La Nina. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Antisipasi Potensi Bencana Alam Akibat La Nina. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel