HEADLINE: Waspada Klaster Covid-19 Tempat Wisata Usai Libur Lebaran, Antisipasinya?

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta - Andi tak sabar lagi ingin membawa anak dan istrinya menghidu angin laut. Berwisata ke Ancol di hari kedua Lebaran menjadi resep paling manjur untuk mengobati kekecewaan tak bisa mudik ke kampung halaman. Meski sebenarnya takut virus corona, Andi tak punya pilihan lain, dia harus pergi cuci mata, keluar dari kesumpekan, sebelum akhirnya kembali kepada rutinitas kerja.

Andi menjadi gambaran umum, yang dalam pandangan psikolog Abraham Maslow disebut sebagai, perilaku manusia modern. Di tengah kebutuhan manusia moderen dengan segala macam kompleksitasnya, dalam kondisi terjepit sekali pun, mereka selalu merasa ada yang kurang dan terus berusaha keras memenuhinya.

Berwisata menjadi salah satu kebutuhan paling esensial manusia moderen di antara kebutuhan pokok lainnya. Aktivitas ini bagi manusia moderen menjadi semacam live balancing dari rutinitas keseharian yang membosankan.

Pada dasarnya berwisata adalah hak asasi semua orang. Bahkan aktivitas ini dilindungi undang-undang dan pemerintah wajib memberikan informasi kepariwisataan, perlindungan hukum, keamanan dan keselamatan kepada wisatawan. Inilah yang kemudian membuat Ancol diserbu wisatawan di hari kedua Lebaran.

Rika Lestari, Corporate Communication Taman Impian Jaya Ancol kepada Liputan6.com mengatakan, saat pekan libur Lebaran pihaknya memberlakukan kuota pengunjung demi mengurangi kerumunan yang bisa menjadi awal penyebaran virus Corona.

"Kami berlakukan kuota minimal 30 persen pengunjung. Pengunjung yang datang juga mengalir, ada yang datang dan ada yang pergi. Jadi angka yang ada di Ancol ini masih di bawah 30 persen," katanya.

Sebelum pandemi, kata Rika, Ancol punya kapasitas maksimal hingga 120.000 orang, jadi 30 persen dari jumlah tersebut sebanyak 40.000 orang. Sampai sore di hari kedua Lebaran, tercatat pengunjung Ancol mencapai 28.000 orang. Rika menyebut angka itu masih jauh di bawah kuota yang telah ditetapkan yakni 30 persen kapasitas.

Meski demikian, pantauan Liputan6.com saat itu di lokasi, pengunjung banyak yang berkerumunan dan abai protokol kesehatan. Petugas bahkan harus berulang kali mengingatkan pengunjung untuk tetap menjaga jarak dan tetap memakai masker.

Meski belum terlihat lonjakan kasus positif Covid-19 imbas dari kerumunan tempat wisata saat libur Lebaran, nampaknya tiap pemerintah daerah perlu bersiap untuk menghadapi situasi dan kondisi terburuk yang bakal terjadi, termasuk munculnya klaster Covid-19 baru.

Angka Kematian Covid-19 Meningkat di Garut Usai Lebaran

Epidemiolog dan para ahli sudah mewanti-wanti jauh-jauh hari, setiap usai liburan, tren angka positif Covid-19 selalu meningkat. Garut menjadi contoh paling dekat yang lain. Belum seminggu selesai Ramadan, Kabupaten Garut, Jawa Barat mendapat peringkat tertinggi kasus kematian pasien Covid-19 di Indonesia.

Angka itu diperoleh berdasarkan data terbaru tim gugus tugas pencegahan Covid-19 hingga Sabtu, 15 Mei 2021. Tercatat, angka kematian pasien di Garut mencapai 382 kematian atau 4,2 persen, di atas angka kematian pasien covid-19 secara nasional yang hanya 2,76 persen.

"Angka kematian kita adalah tertinggi di Indonesia, melebihi angka 4 persen, yang positif sekarang 9.083 orang, yang meninggal dunia 382 orang, jadi sudah 4,2 persen," ungkap Bupati Garut Rudy Gunawan, Senin (17/5/2021).

Untuk menekan penyebaran Covid-19 di Garut, pihaknya segera menghidupkan kembali Satgas di lingkungan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), termasuk menetapkan siaga 1 untuk seluruh puskesmas.

"Saya katakan dan nyatakan sekarang ini adalah darurat 1 atau siaga 1 untuk para puskesmas," katanya.

Sebagai upaya koordinasi lanjutan sekaligus pengawasan secara berkala, rencananya seluruh pejabat di tiap puskesmas di Kabupaten Garut wajib melaporkan perkembangan kepada bupati melalui daring.

“Kalau tidak besok Zoom dengan para kepala Puskesmas, untuk melakukan langkah proaktif,” papar dia.

Rudy berharap dengan adanya instruksi itu, seluruh petugas medis di tiap puskesmas kembali siaga untuk memberikan pelayanan optimal bagi seluruh pasien Covid-19.

“Jangan sampai nanti yang terkonfirmasi itu dalam keadaan yang sudah kondisi tubuhnya melemah, sehingga sulit untuk diobati, terlambat diobati sehingga mengakibatkan meninggal dunia,” kata dia.

Rudy berharap, dengan upaya itu, melonjaknya pasien Covid-19 serta penyebarannya bisa segera diantisipasi sejak dini.

“Langkah kita adalah menghentikan, membuat sesuatu yang ikhtiar, supaya angka kematian diturunkan, (karena) angka kematian kita sekarang sudah tinggi,” ungkapnya.

Selain mengoptimalkan potensi tenaga medis di seluruh rumah sakit, puskesmas, pemda Garut bakal mengoptimalkan peran dinas kesehatan, termasuk meminta kesadaran dan sikap bijak dari seluruh masyarakat, untuk kembali bersiaga menekan penyebaran Covid-19 di Garut.

"Memang kemarin selama Sabtu-Minggu terutama pascalebaran terjadi penumpukan kerumunan yang tentu seharusnya itu tidak terjadi," Wakil Bupati Garut Helmi Budiman menambahkan.

Menurutnya, kondisi itu di luar prediksi dan perkiraan semua pihak, terutama di tengah upaya penyekatan dan larangan mudik.

"Kalau ada hal yang memang terlaporkan perlu isolasi mandiri kalau perawatan kita rujukan agar angka kematian kita juga tidak tinggi," katanya.

Langkah Strategis Pemkab Garut

Untuk mengantisipai terjadinya outbreak atau lonjakan penderita pasien Covid-19 setelah libur Lebaran, Pemkab Garut telah menyiapkan sekitar 100 tempat tidur tambahan untuk pasien Covid-19.

"Kami mempersiapkan rusun dan saya mohon Dinkes juga menyiapkan nakesnya yang biasa nanti kita antisipasi supaya ketika terjadi outbreak," ujar Bupati Garut Rudy Gunawan, Selasa (18/5/2021).

Terus meningkatnya jumlah positif Covid-19 usai Lebaran, membuat Pemda Garut berbenah. Rudy khawatir lonjakan pasien Covid-19 akan terjadi di beberapa pekan ke depan.

"Mungkin sampai 14 hari ke depan ini masih deg-degan, kami sudah mempersiapkan untuk daerah yang 4 zona merah," ujarnya.

Untuk menekan penyebaran Covid-19, saat ini lembaganya telah mengintruksikan seluruh puskesmas dan tenaga kesehatan kembali siaga 1, sebagai bentuk kewaspadaan, saat ancaman lonjakan penderita Covid-19 kembali mengganas di Garut.

"Tentu ini merupakan bagian penting bagaimana kita mengantisipasi supaya dalam satu minggu ke depan kita agak tenang, sebab 1 minggu dan 2 minggu kita agak repot nih," katanya.

Selain menyiapkan 100 tempat tidur tambahan, Rudy juga meminta seluruh tenaga kesehatan bersiap dengan kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.

"Kita sudah mempersiapkan Rusun untuk dilakukan proses itu," ujarnya.

Tidak hanya itu, jika rumah sakit umum daerah RSUD dr Slamet Garut melebihi kapasitas, keberadaan RSU rujukan Covid-19 RS Medina di Kecamatan Wanaraja milik bupati, bisa difungsikan sesuai dengan kebutuhan.

Bahkan khusus RSU Medina sebagai rumah sakit rujukan Covid-19 di Garut, Rudy mengaku bakal segera menambah 2 ventilator baru, melengkapi 2 ventilator yang saat ini sudah ada.

"Hari ini kami sudah mendaftarkan ke Kementrian Kesehatann untuk mendapatkan 6 digit kode, sebagai bentuk fasilitas kesehatan, yang jadi rumah sakit rujukan Covid-19," katanya.

Seperti diketahui, data tim gugus tugas pencegahan Covid-19 di Kabupaten Garut mencatat, angka kematian pasien Covid-19 di Kabupaten Garut melonjak drastis menjadi 4,2 persen (382 kematian) melebihi angka nasional yang hanya 2,76 persen.

"Angka kematian kita adalah tertinggi di Indonesia, melebihi angka 4 persen, yang positif sekarang 9.083 orang, yang meninggal dunia 382 orang, jadi sudah 4,2 persen," ungkap Rudy.

Pandangan Epidemiolog

Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan, lonjakan kasus dan kematian akibat Covid-19 yang terjadi di Garut merupakan representasi apa yang terjadi di Indonesia. Dicky menduga kenaikan kasus konfirmasi Covid-19 dan kematian bukan karena libur Lebaran saja tapi sudah lama sebelumnya.

"Ketika kota-kota kecil seperti Garut sudah memiliki kasus serius terutama angka kematian di atas rata-rata angka dunia dan nasional, ini menunjukkan kasusnya sudah lama kronis," kata Dicky kepada Liputan6.com, Rabu (19/5/2021).

Dicky menyebut penularan kasus sudah masuk ke tingkat terendah yakni komunitas sejak April 2020. Namun, penghentian kasus tidak pernah tuntas alhasil virus SARS-CoV-2 terus ada di masyarakat.

"Sebagian besar kasus infeksi tidak bisa ditemukan, ketika tidak bisa ditemukan bagaimana bisa menyelesaikan," kata kandidat doktor dari Griffith University Australia itu.

Mengingat transimisi sudah berada di rumah-rumah, Dicky menyarankan adanya kader-kader yang menjangkau ke rumah untuk membantu mendeteksi kasus Covid-19.

"Dalam konteks Garut, kita harus temukan dan putuskan kasusnya. Sekali lagi, di kasus kita ini enggak akan membeludak di rumah sakit, enggak gitu di Indonesia, tapi ada di rumah-rumah. Makanya perlu penjangkauan kader ke rumah," tuturnya.

Dicky berharap ada peningkatan tes Covid-19 di kalangan masyarakat Garut sehingga bisa terdeteksi orang yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Bila memang APBD terbatas, pemerintah daerah bisa meminta warga melakukan isolasi mandiri selama 10-14 hari.

"Dukung meraka untuk berada di dalam rumah 10-14 hari, terutama masyarakat miksin agar bisa tetap makan," saran Dicky.

Mengenai upaya Bupati Garut menyiagakan Puskesmas, hal itu memang sudah seharusnya. "Kesiapan puskesmas iya, tapi cari sumber penularan ke sumbernya ya ke rumah-rumah tangga," katanya.

Infografis

Infografis Ancaman Klaster Covid-19 di Lokasi Wisata. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Ancaman Klaster Covid-19 di Lokasi Wisata. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak juga video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel