Heboh, Awan Berbentuk seperti Gelombang Tsunami di Langit Kalbar

Bayu Nugraha, Ngadri (Kalimantan Barat)
·Bacaan 3 menit

VIVA – Penampakan fenomena alam berupa awan berbentuk seperti gelombang tsunami membuat geger warga Desa Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada Kamis sore, 28 Januari 2021.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio Pontianak, Sutikno mengatakan, awan berbentuk seperti gelombang tsunami, yang terlihat di Desa Sungai Asam secara ilmiah dalam dunia meteorologi, dinamakan dengan awan Arcus.

Fitur awan Arcus dapat ditemukan di antara jenis awan Cumulonimbus dan Cumulus. Awan Arcus merupakan awan yang lazim terjadi, meskipun frekuensi kejadiannya jarang, memiliki tinggi dasar awan yang rendah, serta formasi pembentukannya horizontal memanjang seolah-olah seperti gelombang.

"Berdasarkan laporan warga, terdapat fenomena langka terjadi di langit Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya pada Kamis kemarin sore, 28 Januari dengan kemunculan awan berbentuk seperti gelombang tsunami. Secara ilmiah dalam dunia meteorologi, fenomena ini dinamakan dengan awan Arcus," ujar Sutikno kepada VIVA, Jumat, 29 Januari 2021.

Ia mengatakan, sebelumnya teramati juga awan jenis ini pernah terlihat di wilayah Kalbar yaitu pada 6 Desember 2015 di Stasiun Meteorologi Supadio, lalu 26 September 2020 di Sanggau, selanjutnya 9 Oktober 2020 di Kota Pontianak, dan yang sempat viral nasional di Aceh pada 10 Agustus 2020.

Fenomena awan Arcus terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer di sepanjang pertemuan massa udara, yang lebih dingin dengan massa udara yang lebih hangat serta lembap, sehingga membentuk tipe awan yang memiliki pola pembentukan horizontal memanjang. Kondisi tersebut dapat terjadi salah satunya karena adanya fenomena angin laut dalam skala yang luas mendorong massa udara ke daratan.

"Kondisi cuaca di sekitar wilayah Sungai Raya terjadi hujan mulai pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB. Kemudian, terlihat pada pantauan radar cuaca terdapat sel awan Cumulonimbus berbentuk memanjang yang biasa disebut squalline dari arah utara, dari sekitar wilayah Kabupaten Mempawah pada pukul 15.40 WIB dan bergerak menuju ke Kota Pontianak sekitar pukul 16.30 WIB,” tuturnya.

“Berlanjut menuju wilayah Sungai Raya pada pukul 17.00 WIB. Diduga pada sekitar pukul 17.00 WIB ini terbentuknya awan Arcus, karena wilayah Sungai Raya sudah dingin akibat telah terjadinya hujan sebelumnya," ujarnya.

Sutikno melanjutkan, fenomena awan Arcus ini dapat menimbulkan angin kencang dan hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir di sekitar pertumbuhan awan. Kecepatan angin maksimum yang tercatat di Stasiun Meteorologi Supadio sebesar 15 knot (setara 28 km/jam), sementara di Kota Pontianak maksimum 17 knot (setara 30 km/jam). Akumulasi jumlah curah hujan di Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak selama 24 jam sebesar 27,6 mm, kategori hujan intensitas sedang.

Diprakirakan kondisi cuaca tujuh hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan di sebagian besar wilayah Kalbar, dengan intensitas ringan hingga lebat. Potensi hujan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan dominan terjadi di wilayah Kalimantan Barat bagian timur, seperti Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sintang, Kabupaten Melawi, Kabupaten Sekadau, dan sekitarnya.

"Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat tersebut. Potensi hujan yang bisa disertai angin kencang berdurasi singkat diprakirakan masih berpotensi terjadi di wilayah pesisir barat Kalimantan Barat, khususnya pada kejadian hujan intensitas sedang hingga lebat pada siang hingga sore hari,” katanya.

"Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak membuka layanan informasi cuaca 24 jam dapat menghubungi melalui call center 0561 - 721142, lalu situs https://www.bmkg.go.id, serta media sosial Facebook dan Instagram @infoBMKGKalbar atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG,terdekat," tuturnya.

Baca juga: Begini Dahsyatnya Luncuran Awan Panas Gunung Merapi