Heboh Dayana Vs Fiki Naki, Kenapa Milenial Sekarang Gemar Sensasi?

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVADayana, Youtuber asal Kazakhstan tengah hangat diperbincangkan dan disorot oleh netizen Indonesia. Baik itu Twitter, Instagram, hingga Tiktok, mencuatkan nama Dayana lantaran kisruh yang memanas dengan Youtuber Fiki Naki.

Awal mula keduanya ramai diperbincangkan lantaran Youtuber asal Pekanbaru, Fiki Naki mengajak ngobrol gadis cantik asal Kazakhstan itu. Dayana menyebut mau menikah dengan Fiki Naki hingga berencana datang ke Tanah Air.

Fiki Naki sendiri sudah cukup dikenal lantaran kerap membuat kagum banyak orang dengan kemampuannya berbahasa. Hal yang sama membuat Dayana merasa nyaman mengobrol dengan Fiki Naki, hingga memamerkan kemesraan keduanya saat berdialog.

Keduanya lantas berencana membuat konten bersama mengenai Valentine. Tapi, konflik muncul saat konten tersebut batal dibuat. Perbedaan pendapat dianggap menjadi pemicu keduanya membatalkan kerjasama hingga berujung saling tuding.

Fiki Naki sempat memberikan klarifikasi terkait pembatalan kerja samanya dengan alasan tak sesuai keinginan. Tak lama, Dayana memberikan klarifikasi balik dengan cara penyampaian yang terkesan kurang baik melalui Instagram storiesnya.

"Sebenarnya aku ingin pergi ke Indonesia, namun setelah semua kebencian yang aku terima, aku tidak perlu melakukannya. Aku jadi berpikir aku tidak peduli popularitasku di Indonesia, aku akan lebih populer di Rusia. Sekarang aku sedang menunggu vlogger terkenal dari Rusia. Jadi itulah mengapa aku tidak peduli tentang popularitasku (di Indonesia) karena aku punya banyak teman vlogger yang populer di dekatku dan mereka akan mendukungku," ujar Dayana dalam bahasa Inggris.

Sontak, netizen yang tadinya terenyuh melihat kemesraan Dayana dan Fiki Naki, langsung geram. Netizen menganggap, Dayana hanya mencari sensasi agar pamornya meningkat.

Namun sebenarnya, apa alasan seseorang mencari sensasi melalui konten yang kontroversial? Ternyata, penyebabnya cukup beragam dengan dua alasan yang paling utama.

"Pengakuan dan cari eksistensi diri," jelas Psikolog Sani Budiantini, kepada VIVA.

Dengan berharap bisa dikenal oleh banyak orang, pengakuan pun seolah ingin didapatkan melalui beragam cara. Bahkan, cara yang buruk sekalipun, akan dilakukan demi mendapatkan sorotan dari lingkungan.

"Fokus lagi cari jati diri, jadi butuh pengakuan dari lingkungan. Semakin dikenal semakin senang walau terkadang on the wrong way," jelasnya.

Di sini, peran orangtua pun dibutuhkan, khususnya pada anak yang masih remaja untuk diarahkan menjadi lebih bijak dalam memakai media sosial. Selain itu, berikan penjelasan akan dampak buruk apabila terlalu sering memakai media sosial untuk mencari pengakuan semata.

"Diinfokan dampak baik dan buruk melalui artikel atau sumber yang terpercaya," jelas Sani.