Heboh Hujan Es di Purwokerto, Pasar Manis dan Pusat Perbelanjaan Rusak

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Purwokerto - Warganet di Banyumas dibikin heboh oleh fenomena hujan es di Purwokerto, Sabtu sore (10/4/2021). Tak pelak femomena alam yang jarang terjadi ini viral di media sosial.

Hujan es turun bersama angin kencang dan petir. Hujan es turun antara lain di Desa Purwosari, Kecamatan Baturraden dan Kelurahan Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara.

Masalahnya, hujan es itu juga bersamaan dengan turunnya hujan deras disertai angin kencang, yang memorak-porandakan Pasar Manis dan sebuah pusat perbelanjaan di Purwokerto.

Di pasar Manis, gunungan sisi timur lepas terempas angin kencang. Gunungan dari seng dan rangka baja ringan ini menimpa tiga kios pedagang.

"Tidak ada korban jiwa karena saat kejadian sudah tidak ada aktivitas di pasar," ujar Kordinator Tagana Banyumas, Ady Candra.

Selain pasar angin kencang juga merusak atap sebuah pusat perbelanjaan. Air hujan mengguyur para pengunjung.

Air hujan menggenangi lantai. Dalam sebuah video amatir warga, tampak para pengunjung berlarian menghindari guyuran air. Pohon peneduh di sebelah timur area parkir pusat perbelanjaan ini juga tumbang.

Di Perumahan Karangpucung Indah, Purwokerto Selatan, luapan Sungai Bener merendam rumah warga. Warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi hingga air surut.

"Sekitar tiga jam air kembali surut, warga mulai kembali ke rumah," ucapnya.

Di Desa Sawangan Wetan, Kecamatan Patikraja dua rumah warga tertimpa pohon jengkol. Rumah milik Rasunem dan Warto rusakpada bagian atap. Namun karena mulai petang, evakuasi pohon rencananya akan dilakukan keesokan harinya.

Kepala BPBD Banyumas, Titi Puji Astuti, mengatakan, cuaca ekstrem telah diprediksi BMKG. Meskipun demikian, pihaknya tidak bisa membendung dampak cuaca ekstrem tersebut.

"Ini persis seperti yang diprediksi BMKG," kata Titik.

BMKG Jelaskan Muasal Fenomena Hujan Es

Hujan es disertai hujan lebat dan angin kencang memorakporandakan Pasar Manis dan sebuah pusat perbelanjaan di Purwokerto, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Fortasi)
Hujan es disertai hujan lebat dan angin kencang memorakporandakan Pasar Manis dan sebuah pusat perbelanjaan di Purwokerto, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Fortasi)

Rendi Krisnawan, Prakirawan Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap mengatakan, hujan es terjadi karena pembekuan butiran air dari awan cumulonimbus. Awan cumulonimbus terbentuk dari proses penguapan permukaan air laut dan perairan lain. Uap air terangkat massa udara ke atmosfer bahkan stratosfer.

Uap air berubah menjadi butiran air pada proses pengembunan. Pada ketinggian tertentu, suhu udara mencapai di bawah nol derajat celcius. Suhu rendah membuat butiran air itu membeku menjadi butiran es.

Massa udara tak sanggup menahan butiran es sehingga butiran es itu jatuh. Butiran es ini yang kemudian menjadi hujan es.

"Siklon seroja dan odette di Samudra Hindia juga memengaruhi pergerakan angin yang akhirnya memengaruhi pertumbuhan awan di atas pulau Jawa," kata Rendi.

Bberdasar pantauan satelit, di atas wilayah Banyumas terbentuk awan Cumulonimbus. Awan Cumulonimbus tersebut terpantau cukup tebal dengan puncak pembentukannya mencapai minus 80 derajat Celsius di Banyumas sisi barat.

“Awan ini cukup tebal sehingga berpotensi memicu hujan lebat disertai angin kencang dan petir,” ucap dia.

Selain di Banyumas, berdasar pantauan satelit awan Cumulonimbus juga terbentuk di atas Cilacap. Bahkan, ketebalannya melebihi awan Cumulonimbus di atas Banyumas.

“Pada puncaknya mencapai minus 100 derajat Celsius," dia mengungkapkan.

Rendi mengemukakan, dalam kondisi tertentu, karena suhu yang sangat dingin terbentuknya awan Cumulonimbus akan memicu terjadinya hujan es, seperti yang dilaporkan terjadi di Purwokerto.

Simak Video Pilihan Berikut Ini: