Heboh Impor Beras, Mendag Lutfi: Bulog Harus Punya Stok 1,5 Juta Ton

Raden Jihad Akbar, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVAImpor beras yang dilakukan Pemerintah menuai sorotan publik beberapa waktu ini. Impor itu diketahui untuk memenuhi persediaan kebutuhan hingga Lebaran mendatang.

Merespons hal tersebut, Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, menegaskan bahwa Pemerintah tidak pernah mengatakan bahwa saat ini stok beras yang ada di Bulog itu dalam kondisi kurang atau lebih.

"Saya ulangi pokoknya, kita tidak pernah bilang bahwa kita ini lebih atau kurang (stok berasnya). Kita bilang bahwa Bulog mesti mempunyai iron stock 1,5 juta ton," kata Lutfi dalam telekonferensi, Jumat 19 Maret 2021.

Lutfi menambahkan, hal itu sudah menjadi pemahaman umum yang juga telah diterapkan selama bertahun-tahun hingga saat ini, di mana semua pihak mengetahui ketentuan bahwa Bulog harus mempunyai iron stock 1,5 juta ton. Yang dalam pemenuhannya, Bulog akan melakukan pengadaan beras baik dari produksi lokal maupun internasional.

Baca juga: Bagasi Penumpang Pelni Gratis hingga 40 Kg, Begini Ketentuannya

"Jadi kita bilang sama Bulog, 'Bulog, kamu perlunya sekian'. Kemudian kita hitung sekarang apa yang mau kita capai," ujarnya.

Dalam menentukan capaian itu, Lutfi menjelaskan sejumlah hal yang dijadikan tolak ukur oleh Pemerintah. Pertama, yakni dengan melihat stok beras yang tersedia di awal tahun.

Kemudian, angka ramalan (produksi beras), yang telah diumumkan BPS beberapa waktu lalu, di mana mereka mengatakan bahwa tahun ini kemungkinan (produksi beras) sama bagusnya dengan tahun lalu.

"Ketiga, ini adalah soal harga. Kalau harga terjadi kenaikan, kamu akan marah-marahin saya juga karena itu salah satu barang terpenting yang dikonsumsi masyarakat Indonesia," kata Lutfi.

Baru setelahnya, Lutfi menjelaskan, bahwa akan ada penugasan kepada Bulog untuk pengadaan stok beras. Sesuai pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan berdasarkan hal-hal yang telah disebut sebelumnya tersebut.

"Dan ini adalah penugasan khusus. Jadi kita mau pisahkan bahwa saya enggak melihat bahwa Bulog apa lagi Kementan, dengan statement-nya itu, ada yang beda dengan Kemendag. Saya tidak lihat ada perbedaan. Yang ada sekarang adalah bahwa keputusan Bulog mempunyai iron stok itu, sudah jadi pakem dari tahun ke tahun," ujar Lutfi.

Karenanya, Lutfi mengaku bahwa meskipun belum lama menjabat sebagai Menteri Perdagangan, dinamika sebagaimana yang marak dibicarakan publik soal wacana impor beras tersebut memang lumrah adanya.

Terlebih, lanjut Lutfi, di era sebelumnya, Bulog memiliki mekanisme penggunaan stok beras yang tidak hanya melalui operasi pasar dan operasi khusus (saat terjadi bencana alam). Namun, juga mekanisme lain melalui Raskin (Beras untuk Rumah Tangga Miskin) yang kemudian menjadi Rastra (Beras untuk Keluarga Sejahtera).

"Tapi hari ini, Bulog tidak mempunyai 'discharging mechanism' seperti itu," ujarnya.