Heboh Penyakit Mulut dan Kuku Hewan Ternak, ini Potensi Ancaman untuk Pedagang Warteg

Merdeka.com - Merdeka.com - Pelaku usaha Warung Tegal atau Warteg dibuat khawatir atas penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menjangkiti ribuan hewan ternak di provinsi Jawa Timur dalam beberapa waktu terakhir. Diketahui penyakit ini menjangkiti sapi, kerbau, kambing, domba, kuda, dan babi.

Ketua Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni menyampaikan, penyebaran penyakit mulut dan kuku berpotensi membuat pelanggan kabur. Hal ini karena pelanggan khawatir untuk mengonsumsi aneka makanan olahan daging selama wabah PMK merebak.

"Sementara warteg banyak menyediakan meju makanan yang mengandung daging sapi, kerbau dan lainnya. Seperti bakso yang sebagai bahan isi sayur sop, soto daging, dan oseng lainnya yang kadang kala ada campuran tetelan daging sapi/kerbau," katanya saat dihubungi Merdeka.com, Rabu (11/5).

Maka dari itu, Mukroni meminta pemerintah untuk segera mengatasi wabah penyakit mulut dan kuku yang menyerang hewan ternak. Mengingat, jenis penyakit tersebut mudah menular ke sesama hewan.

"Harapan kami pemerintah segera mengatasi masalah ini karena untuk warung makan seperti warteg tentunya akan berdampak pada pembeli atau konsumen untuk menghindari makan-makanan yang mengandung daging," tutup Mukroni.

Mentan Pastikan Penyakit Mulut dan Kuku Hewan Tidak Menular ke Manusia

penyakit mulut dan kuku hewan tidak menular ke manusia rev1
penyakit mulut dan kuku hewan tidak menular ke manusia rev1.jpg

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, penyakit mulut dan kuku (PMK) ini tidak menular ke manusia meski memiliki tingkat penyebaran yang cepat pada hewan. Untuk itu, dia meminta masyarakat agar tidak panik dalam menghadapi wabah penyakit yang menjangkiti hewan ternak tersebut.

"Kita harus maksimal melakukan sosialisasi kepada masyarakat, bahwa penyakit ini tidak menular pada manusia, dan pernyataan ini diperkuat oleh Menkes (Menteri Kesehatan) saat ratas (rapat terbatas) bersama Presiden tadi dan ini menjadi hal yang sangat penting," ungkap Mentan Syahrul dalam keterangannya, Selasa (16/5).

Mentan Syahrul mengatakan, bahwa pihaknya melalui Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) di Surabaya tengah melakukan penelitian lanjutan untuk memastikan tingkat dan jenis serotype PMK yang teridentifikasi di sejumlah daerah di Jatim ini.

"PMK ini masih dalam penelitian lab veteriner kita di Surabaya secara maksimal, sehingga kita bisa identifikasi ini pada level berapa, jenisnya seperti apa, kita harap hari ini atau besok akan keluar hasilnya," terangnya.

Syahrul merinci dengan hasil laboratorium tersebut, pemerintah akan lebih mudah menentukan vaksin yang tepat. Ia berharap penentuan vaksin dapat memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam negeri. Dengan ini ia memastikan penanggulangan PMK dapat berjalan lebih efektif dan efisien. [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel