Heboh Praktik Swinger Dosen Jogja, Ini Bahaya Tukar Pasangan Seks

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Seorang dosen di salah satu universitas di Yogyakarta masih hangat dibicarakan lantaran menjadi pelaku praktik swinger dan pelecehan seksual. Hal tersebut terungkap usai korban dosen itu curhat di akun Facebook milik mereka.

Para korban menyebut sang dosen memberi alasan riset di balik praktik swinger. Dosen itu mengaku ingin menjalani risetnya dengan praktik langsung pada korban. Untuk diketahui, swinger artinya aktivitas tukar pasangan saat berhubungan seksual.

"Swinger salah satu perilaku aktivitas seks yang baru terekspos. Di Indonesia baru, di negara Barat sudah tidak asing lagi," ujar CEO Klinik Pramudia, dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV, dalam Media Briefing Virtual.

Lantaran perilaku seksual yang cenderung berganti pasangan, kata Anthony, praktik swinger tentu membawa bahaya penyakit menular seksual. Apalagi jika kontak seksual dalam perilaku swinger tidak mengindahkan kesehatan secara fisik.

Baca juga: Jangan Sepelekan Sperma Berdarah, Ini Bahayanya

"Penyakit kelamin dari aktivitas seks secara bebas akan lebih rentan. Tidak pada satu orang saja (berhubungan seks), risiko terkena penyakit kelamin lebih tinggi," kata Anthony.

Selain itu, seks bebas identik dengan tak mengenal kesehatan intim satu sama lain sehingga risiko tertular akan semakin besar. Beberapa penyakit kelamin yang menurut Anthony cukup sering kasusnya ditemukan antara lain klamidia, sifilis, herpes hingga gonore (GO).

"Enggak ada orang yang ngaku GO ketika melakukan swinger atau tukar pasangan. Bukan hanya GO tapi banyak penyakit kelamin yang bisa dipicu oleh aktivitas seks bebas," paparnya.

Bahaya penyakit kelamin seperti GO bisa memicu infeksi saluran kemih hingga kemandulan. Untuk itu, dokter Anthony menyarankan tetap melakukan aktivitas seksual yang aman dengan satu pasangan dan saling jujur satu sama lain.