Heboh Teror Hewan Misterius di Gunungkidul

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Gunungkidul - Serangan hewan misterius di Gunungkidul terus terjadi, pada pekan ini setidaknya ada 15 ekor kambing milik warga di Kalurahan Purwodadi, Tepus, Gunungkidul mati akibat digigit hewan misterius tersebut. Para peternak merugi hingga puluhan juta rupiah.

Lurah Purwodadi, Sagiyanto menambahkan, sejak adanya serangan hewan misterius yang mengakibatkan belasan kambing mati di wilayahnya, kini warga mulai waspada. Sebagian warga membawa pulang ternaknya hingga situasi kondusif kembali.

Menurut Sagi, hewan liar tersebut belum diketahui pasti jenis dan bentuknya. Namun, namun banyak warga menduga hewan tersebut adalah anjing liar yang sengaja dilepas warga untuk mengusir kera ekor panjang di ladang penduduk yang berada di dekat laut selatan.

“Secara pasti hewan tersebut seperti apa tidak ada yang tau, tapi banyak warga yang bilang ini sejenis anjing atau srigala begitu,” ucap Sagi.

Selain itu, yang diherankan warga sendiri adalah kambing-kambing tersebut tidak dimakan habis. Namun hanya dilukai di bagian leher atau bagian yang mudah digigit seperti paha kaki maupun perut yang mengakibatkan luka robek yang cukup besar.

“Gak dimakan, Cuma di gigit terus ditinggalkan,” ujarnya.

Pada beberapa hari yang lalu setidaknya ada 15 ekor kambing milik warga di 2 lokasi yang menjadi sasaran hewan misterius tersebut. Ada dalam satu kandang mati semua yang berjumlah 7 ekor kambing, namun satu kandang lainya yang berjumlah 8 ekor saat pemilik datang sudah dalam keadaan luka luka dan 3 diantaranya mati.

“Yang mati 3 yang masih hidup 5, takut mati juga akhirnya dijual kambingnya," ucap dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ratusan Kambing Jadi Korban

Sagi menambahkan, serangan hewan misterius tersebut memang sering terjadi sejak bulan Juni hingga bulan September, tiap tahun. Sagi menyampaikan bahwa 3 tahun lalu di wilayah Purwodadi setidaknya ratusan ekor kambing mati dengan ciri-ciri yang sama,

“Ini seperti kejadian tahunan yang sering terjadi, tidak tahu secara pasti kenapa hanya menyerang pada bulan bulan tersebut,” kata Sagi.

Sebagai antisipasi, kini banyak warga yang membawa pulang kambingnya ke rumah yang berjarak 4 sampai 5 kilometer. Selain itu, warga juga melakukan patroli dengan senapan angin dan menunggui kandang kambing yang barada di ladang penduduk.

"Warga juga mulai kembali giat melakukan patroli dengan membawa senapan angin,"ujar dia.

Kemarin malam, ia mendapat laporan jika warga berhasil menembak mati dua anjing liar yang mereka temukan saat berpatroli. Ia berharap nantinya serangan hewan liar tersebut akan berakhir dengan ditembaknya anjing liar tersebut.

Pasang Kamera Pengintai

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY berencana memasang kamera pengintai (CCTV) untuk mendeteksi serangan gigitan hewan liar yang mengakibatkan belasan kambing di Kalurahan Purwodadi Kapanewon Tepus Gunungkidul.

Kepala BKSDA DIY, Muhammad Wahyudi mengatakan sampai saat ini belum mengetahui secara pasti jenis hewan apa yang menggigit mati belasan kambing tersebut. Pihaknya tidak bisa menentukan berdasarkan dugaan dari warga.

"Kami belum mengetahui hewan apa itu,"ujar dia.

Menurut Wahyudi, perlu penyelidikan yang lebih intensif untuk mengetahui jenis hewan tersebut.

Oleh karenanya, pihaknya berencana memasang kamera pengintai (CCTV) di kandang milik warga. Namun sampai saat ini ia belum bisa memastikan kapan waktunya karena masih perlu beberapa hal yang harus dipertimbangkan.

"Jika ada kamera pengintai maka kemungkinan nanti bisa terekam sehingga dapat diketahui jenis hewannya," terangnya.

Menurutnya ketika nanti sudah diketahui jenis hewan yang menggigit kambing-kambing tersebut, maka akan lebih mudah dalam penanganannya. Termasuk bagaimanan untuk mengondisikan ternak warga agar tidak ada lagi serangan hewan liar.

Saksikan Video Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel