Hendra/Ahsan, pahlawan olahraga tak lekang oleh usia

Bayu Kuncahyo

Dari sekian banyak atlet bulu tangkis yang layak diberi gelar "pahlawan", pasangan Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan adalah salah satu yang tepat mendapat gelar itu tahun ini.

Berkat mereka, Indonesia Raya berkumandang pada Kejuaraan Dunia 2019 di St Jakobshalle, Basel, Swiss, Agustus lalu, hanya selang beberapa hari dari HUT Kemerdekaan RI.

Sebagai satu-satunya finalis dari Indonesia, beban untuk meraih medali emas ada di pundak pasangan yang sudah tidak lagi menghuni pemusatan latihan nasional (Pelatnas) itu, dan mereka berhasil.

Memenangi gim pembuka dengan skor ketat 25-23 atas pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi yang jauh lebih muda --keduanya berusia 24 tahun-- Hendra/Ahsan terpaksa "melepas" gim kedua untuk kemenangan lawan 9-21 setelah tertinggal jauh.

Mereka memilih berjuang lagi dari awal gim penentuan ketimbang memaksa mengejar ketertinggalan pada gim kedua.

Strategi itu terbukti berhasil, pasangan yang sudah tidak muda lagi itu --Hendra tepat berusia 35 tahun, sedangkan Ahsan hanya kurang beberapa hari dari ulang tahunnya yang ke-32-- berhasil merebut gim ketiga dengan kemenangan 21-15 sekaligus memenangi laga final.

Baca juga: Ahsan/Hendra juara dunia 2019

Pelatih ganda putra Pelatnas Herry Iman Pierngadi menilai keberhasilan mereka itu diperoleh karena mereka punya mental juara.

"Inilah yang dibilang mental juara, tadi kelihatan main imbang. Pemain Jepang lebih muda, fisik mereka lebih bagus, lebih cepat, lebih kuat. Kelihatan Hendra di gim kedua dan ketiga sudah menurun, tapi mental mereka yang bagus luar biasa. Jepangnya yang goyah," katanya waktu itu.

Masyarakat Indonesia pun bersuka cita. Mereka yang hadir langsung di Stadion St. Jakobshalle mengkibar-kibarkan bendera Merah Putih. Yang di Tanah Air sibuk menyiapkan penyambutan. Mereka disambut bagai pahlawan.

Baca juga: Fuzhou China Open, Ahsan: baru kali ini saya tanding sampai skor 30


Balik lagi

Hendra mulai berpasangan dengan Ahsan pada 2012, setelah sebelumnya berduet dengan Markis Kido sejak awal 2000an.

Sekira setahun setelah Olimpiade Beijing 2008 di mana Hendra memperoleh medali emas bersama Markis Kido, pasangan tersebut keluar dari Pelatnas dan menjadi pemain profesional pada 2009.

Namun, pada 2012 Hendra dipanggil lagi masuk Pelatnas dan jadilah ia berpasangan dengan Mohammad Ahsan.

Bersama Ahsan, Hendra tercatat meraih sejumlah gelar termasuk gelar bergengsi juara dunia 2013 dan 2015, All England serta Asian Games 2014.

Pada 2016 Hendra memutuskan untuk berkarir secara profesional dan meninggalkan Pelatnas. Ia tercatat pernah berpasangan dengan pemain dari luar Indonesia, Tan Boon Heong dari Malaysia dan Anastasia Russkikh dari Rusia.

Sepeninggal Hendra, Ahsan sempat berpasangan dengan Rian Agung Saputro dan Angga Pratama, namun belum membuahkan prestasi.

Pada 2018 Hendra dipanggil kembali ke Pelatnas untuk memperkuat tim bulu tangkis nasional Indonesia. Kali ini Hendra dipanggil untuk bergabung dengan tim Piala Thomas 2018 yang akan bertanding di Bangkok Thailand.

Hendra-Ahsan pun kembali berduet.

Pada awal 2019 pasangan tersebut memutuskan keluar dari tim nasional dan menggandeng sponsor sendiri untuk mengikuti turnamen. Oleh sponsor asal Jepang itu mereka dituntut lolos ke Olimpiade Tokyo 2020.

Baca juga: Susi Susanti sudah anggap Hendra/Ahsan pemain pelatnas

Ranking dua

Sejak memilih jalur profesional pada awal tahun ini dengan target lolos Olimpiade 2020, The Daddies langsung tancap gas.

Prestasi Hendra/Ahsan tahun ini tidak hanya juara dunia.

Setelah mengawali tahun dengan hasil runner-up di Indonesia Masters, mereka berhasil meraih gelar juara All England --turnamen bulu tangkis tertua dan bergengsi -- untuk kedua kalinya setelah memperolehnya pada 2014.

Pasangan itu sejauh ini juga menorehkan hasil yang baik sepanjang tahun ini. Dari total 16 turnamen yang sudah mereka ikuti sejak awal tahun, The Daddies sembilan kali mencapai final dan tiga di antaranya meraih gelar juara yakni di All England, New Zealand Open dan Kejuaraan Dunia.

Dan dari enam kekalahan yang mereka derita di final, lima di antaranya, termasuk di Victor China Open dan Denmark Open yang baru lalu, terjadi saat mereka menghadapi pasangan ranking satu dunia Marcus/Kevin alias si Minions.

Keberhasilan itu menempatkan mereka di posisi peringkat dua dunia, persis di bawah junior sekaligus rival mereka di lapangan, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang diberi julukan Minions.

Saat ini Hendra yang sudah dikaruniai tiga anak dan Ahsan --ayah dua anak-- sedang mengikuti turnamen Fuzhou China Open di Fuzhou, China, dan mengawali laga pada Rabu (6/11).

Baca juga: Juara dunia dan All England, Ahsan/Hendra kini incar tiket Olimpiade

Namun harapan untuk kembali bertemu dengan Minions di final untuk memperkuat rivalitas mereka di sektor ganda putra pupus setelah The Daddies yang menjadi unggulan kedua tersisih pada perempat final, Jumat ini.

Hendra/Ahsan kalah oleh pasangan Malaysia Goh Soon Huat/Lai Shevan Jemie 13-21, 20-22 dalam laga yang berlangsung kurang dari setengah jam.

Meski demikian, semoga rivalitas dua ganda putra peringkat teratas dunia itu bisa terus berlanjut hingga ke Olimpiade tahun depan.

Dan semoga pada Olimpiade yang penyelenggaraannya kurang dari setahun lagi itu, mereka masih menjadi lawan berat bagi saingan-saingannya dan mewujudkan Indonesia Raya berkumandang di Tokyo.

Baca juga: Hendra Setiawan belum pikirkan pensiun, masih kejar Olimpiade Tokyo