Hepatitis Akut yang Membingungkan Para Ilmuwan

Merdeka.com - Merdeka.com - Sejak musim gugur yang lalu, para dokter di Rumah Sakit Anak, Alabama, Amerika Serikat, bergulat dengan satu penyakit misterius. Dia adalah hepatitis akut.

Mulai Oktober 2021 hingga Februari tahun ini, sembilan anak usia 20 bulan hingga usia 5 tahun 9 bulan dibawa ke rumah sakit dengan gejala yang mengkhawatirkan. Semuanya ternyata karena kasus hepatitis akut yang hingga kini belum dapat dijelaskan secara ilmiah. Penyakit ini dikenal dengan peradangan hati.

Dilaporkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, semua pasien dites negatif untuk virus hepatitis A, B, dan C. Mereka juga telah dites Covid-19, hasilnya negatif.

Namun hasil tes positif untuk adenovirus, yakni jenis virus umum dari 50 jenis virus yang berbeda, termasuk flu biasa. Biasanya menyebabkan gejala pernapasan. Tetapi juga dapat menyebabkan masalah usus.

Tujuh dari sembilan pasien anak menderita muntah atau diare sebelum masuk rumah sakit. Lima dari sembilan dinyatakan positif adenovirus 41 (salah satu jenis yang diketahui mempengaruhi usus). Tak satu pun dari anak-anak itu mengalami gangguan kekebalan. Tidak ada yang menderita penyakit lain yang diketahui, dan semua berasal dari berbagai negara bagian, artinya penyakit ini bukan infeksi lokal.

Dikutip dari Time, Jumat (6/5), dalam tiga kasus, hepatitis menjadi sangat parah sehingga anak-anak menderita gagal hati. Dua anak membutuhkan transplantasi hati. Sejak saat itu, kesembilan anak tersebut telah sembuh atau sedang dalam masa pemulihan. Namun penyebab penyakit mereka masih belum diketahui.

Tak cuma di Alabama

Pada April 2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa setidaknya 169 kasus hepatitis misterius serupa telah muncul di sembilan negara di Eropa dan juga di Israel. Di antara anak-anak berusia satu bulan hingga 16 tahun. Sejauh ini, secara global, satu kematian telah dilaporkan dan 17 anak memerlukan transplantasi hati. Setidaknya 74 anak telah dites positif adenovirus, dan 18 didiagnosis dengan tipe 41.

Kasus hepatitis pediatrik telah dikaitkan dengan adenovirus 41 pada anak-anak di masa lalu, kata WHO, tetapi hanya pada mereka yang kekebalannya terganggu, yang tidak terjadi pada anak-anak dalam kelompok sampel global.

Setelah WHO mengeluarkan laporannya pada akhir April, Wisconsin, North Carolina, dan Illinois juga melaporkan sembilan kasus tambahan secara kolektif, dengan satu kematian di Wisconsin dan satu transplantasi hati di Illinois.

Apa yang Menyebabkan Wabah?

Para peneliti mengatakan, infeksi aktif dengan Covid-19 adalah hubungan yang tidak mungkin. Tetapi perlu penyelidikan lebih lanjut.

Dari 169 anak yang dinilai oleh WHO pada 21 April, hanya 20 yang dinyatakan positif SARS-CoV-2—dan 19 di antaranya juga memiliki adenovirus.

"Dan kita dapat mengesampingkan semua jenis hubungan dengan vaksin (Covid-19)," kata Dr. Markus Buchfellner, seorang dokter penyakit menular pediatrik di University of Alabama di Birmingham dan rekan penulis laporan CDC.

Dari sembilan pasien Alabama, tujuh tidak memenuhi syarat untuk suntikan dan dua yang memenuhi syarat belum menerima dosis apa pun.

Enam dari pasien Alabama ternyata positif untuk virus Epstein-Barr (EBV) dengan pengujian PCR, tetapi mereka negatif untuk antibodi terhadap virus, menunjukkan bahwa infeksi tidak akut, melainkan apa yang disebut laporan CDC ‘tingkat rendah reaktivasi infeksi sebelumnya’. EBV dapat dikaitkan dengan hepatitis A, tetapi itu bukan jenis hepatitis yang dimiliki pasien Alabama.

"Anak-anak ini tidak memiliki hepatitis terkait EBV," kata Buchfellner. Para dokter Alabama juga mengesampingkan penyakit autoimun.

Salah satu alasan yang mungkin untuk kasus peradangan hati yang saat ini sedang diselidiki adalah bahwa tingkat sirkulasi yang lebih rendah dari adenovirus selama penguncian pandemi mungkin telah membuat sistem kekebalan anak-anak tidak siap untuk bereaksi terhadap virus umum.

Itu, pada gilirannya, mungkin memungkinkan infeksi adenovirus untuk menguasai sistem kekebalan anak-anak, meskipun alasan persisnya hal itu dapat menyebabkan penyakit hati masih belum diketahui. Fakta adenovirus ditemukan dalam darah sembilan anak-anak Alabama adalah bukti yang kuat, kata Buchfellner. Karena kecuali jika ada infeksi yang sangat baru, aliran darah biasanya membersihkan dirinya dari virus dengan relatif cepat.

"Pada anak yang sehat, kami tidak berharap melihat virus dalam darah," katanya.

Satu masalah dengan teori adenovirus adalah bahwa biopsi hati dilakukan pada semua anak Alabama, dan virus tidak ditemukan di jaringan hati mereka. Itu tidak berarti itu tidak pernah ada; mungkin bagi hati untuk membersihkan dirinya dari virus setelah hepatitis terjadi.

Namun, ketidakhadirannya di semua biopsi mengaburkan masalah. “Itu bagian yang hilang, menurut saya. Itu membuat kami tidak mengatakan dengan pasti bahwa adenovirus yang menyebabkan penyakit ini,” terang dia.

Juga masih belum dapat dikatakan dengan pasti bahwa SARS-CoV-2 tidak berperan dalam penyakit tersebut. Infeksi akut tidak ada dalam kelompok sampel Alabama dan di sebagian besar pasien global, tetapi itu tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa infeksi masa lalu mungkin berperan.

Diduga Telah Masuk Indonesia

Hepatitis akut ini bahkan diduga telah masuk ke Indonesia. Tiga anak di DKI Jakarta meninggal dunia diduga karena hepatitis akut.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menekankan, belum dapat dipastikan bahwa tiga anak tersebut meninggal karena hepatitis akut.

Saat ini kasus tiga anak meninggal tersebut masih diselidiki. Menurut dia, dari hasil kontak investigasi dari keluarga ketiga anak tersebut, tidak ada yang terinfeksi demam kuning.

"Hasil kontak investigasi tidak ada keluarga lain yang menderita demam kuning," bebernya.

Kementerian Kesehatan melalui Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/2515/2022 Tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology) tertanggal 27 April 2022.

Kasus Bertambah

Teranyar, Kementerian Kesehatan mengungkap ada penambahan jumlah kasus dengan gejala jaundice atau sakit kuning. Penambahan ini terjadi setelah tiga pasien anak dengan dugaan Hepatitis akut misterius meninggal dunia.

"Sejak kewaspadaan ada penambahan kasus 3-4 orang dengan sindrom kuning," kata Siti Nadia Tarmidzi kepada merdeka.com, Jumat (6/5).

Nadia menegaskan, penambahan kasus ini belum tentu Hepatitis akut misterius. Kementerian Kesehatan masih melakukan verifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui jenis penyakitnya. "Karena ini baru gejala kuning kan bisa Hepatitis yang selama ini kita kenal," ucapnya.

Nadia mengatakan masyarakat bisa melakukan sejumlah hal untuk mencegah Hepatitis akut. Di antaranya mencuci tangan, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak bergantian alat makan, menghindari kontak dengan orang sakit, serta tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Jika anak-anak memiliki gejala kuning, sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, buang air kecil berwarna teh tua, buang air besar berwarna pucat, kejang, penurunan kesadaran, para orang tua diminta segera memeriksakan ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.

Orangtua Waspada

Pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan dalam kasus hepatitis akut. Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso dan Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjadi rujukan dalam pemeriksaan penyakit itu.

"Menunjuk RS Sulianti Saroso, dan lab FK UI untuk menginvestigasi penyebab virus juga, mengapa mendadak banyak anak kena, tak hanya di satu negara tapi banyak negara," ujar Guru Besar Kesehatan Anak bidang Gastrohepatologi Hanifah Oswari, dalam webinar Kementerian Kesehatan, Kamis (5/5).

Hanifah meminta kepada orang tua agar selalu waspada terhadap anak yang memiliki keluhan gangguan pencernaan. Pada kasus di beberapa negara dan Indonesia anak mengalami hepatitis akut awalnya mengeluhkan diare, sakit perut, mual dan muntah.

Dia berharap agar orang tua segera mengantisipasi dengan membawa ke rumah sakit, sehingga tidak terjadi gejala yang spesifikasi mengarah ke hepatitis. Setelah anak mengalami gejala pertama, mungkin anak akan mengalami buang air kecil yang kuning pekat, feses pusat hingga kulit dan mata menguning.

Bila berlanjut kata dia, gejalanya lain dapat mengalami gangguan pembekuan darah hingga penurunan kesadaran yang berlanjut menjadi kematian. Sebab itu orang tua harus waspada jika anak sudah memiliki gejala awal.

"Sudah memikirkan bahwa ini kemungkinan bisa mengarah ke hepatitis akut berat yang belum diketahui penyebabnya itu. Bawa anak kita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat pertolongan tenaga kesehatan yang akan memikirkan apakah perlu diperiksa lebih lanjut," imbuhnya. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel