Hercules Ditangkap, Premanisme Masih Tinggi

TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan kriminolog menilai premanisme di Jakarta masih cukup mengkhawatirkan meskipun dua orang "pentolannya" sudah ditangkap. "Ada regenerasi di dalam tubuh kelompok preman," kata kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, ketika dihubungi pada Ahad 10 Maret 2013.

Tahun lalu, polisi menangkap John Refra Kei atas tuduhan pembunuhan terhadap bos PT Sanex Stell, Tan Harry Tantono alias Ayung. John Kei sudah divonis 12 tahun penjara.  (Baca juga: Gangster Kei) Jumat 8 Maret 2013 lalu, giliran Hercules Rozario Marshal ditangkap dengan tuduhan pemerasan. (Baca: Hercules Dijerat Empat Pasal)

Adrianus menjelaskan dalam dunia preman hukum yang dipakai adalah "under world". Artinya, seperti lingkaran setan akan terus ada selama masih ada kelompok-kelompoknya. Penangkapan kelompok Hercules menurut dia hanya elemen kecil dari dunia preman.

Sementara itu kriminolog Ade Erlangga Masdiana mengatakan kelompok John Kei maupun Hercules ibarat puncak gunung es. "Mereka yang kelihatan, padahal masih ada yang kecil-kecil," katanya.

Erlangga mengatakan justru yang kecil-kecil ini bahaya laten. "Mengakar di berbagai kalangan masyarakat," katanya. Dia meminta polisi tidak luput dalam memberantas yang kecil ini.

Sementara Kriminolog Muhammad Mustofa berpendapat jangan sampai penangkapan Hercules hanya sekedar terapi kejut bagi para preman. "Mungkin sebentar mereka akan tiarap tapi bisa muncul lagi," katanya.

SYAILENDRA

Berita Lainnya:

Brimob Jaga Lokasi Penangkapan Kelompok Hercules

Premanisme, Polisi Minta Korban Hercules Melapor

Begini Cara Jokowi Lepaskan Diri dari Hercules

Polda: Kartu Intelijen di Mobil Hercules Palsu 

Hercules Dijerat Empat Pasal

Hercules: Kami Siap Hadapi Proses Hukum 

Alasan Anak Buah Hercules Dekat Lokasi Apel Polisi 

Polda Temukan Kartu Intelijen di Mobil Hercules

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.