Heru Sulastyono dan Sahabat yang Menangkapnya  

TEMPO.CO, Jakarta - Kisah masa remaja mereka bak cerita Lima Sekawan karya Enid Blyton. Heru Sulastyono, Agung Setia Iman Efendi, dan tiga kawannya selalu bersama ke mana-mana. Mereka bermain bola, mengerjakan tugas kelompok belajar, bermain musik, berlatih kempo hingga berkelahi bersama-sama.

»Pernah kami sama-sama saling membantu berkelahi dengan geng lainnya di lapangan,” kata Agung, polisi berpangkat komisaris besar dan menjabat Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Badan Reserse Kriminal Polri kepada Tempo.

Mereka memang tinggal berdekatan di Kelurahan Kalianget, Wonosobo, Jawa Tengah. Bahkan, Heru dan Agung teman satu sekolah sejak SD hingga SMA. Mereka sama-sama sekolah di SD Negeri 1 Wonosobo, SMP Negeri 1 Wonosobo, dan SMA Negeri 1 Wonosobo. Sewaktu SMA, mereka duduk sebangku. »Mereka selalu tampak akur,” kata kakak kandung Agung, Hisnu Soebiyakto.

Ketika lulus SMA, Heru dan Agung berpisah. Heru masuk Universitas Diponegoro Semarang pada 1985 dengan jurusan Teknik Kimia. Sementara Agung masuk Akademi Polisi di Magelang. »Sejak itu saya tak pernah lagi bertemu Heru,” kata Agung.

Mereka bertemu kembali pada Selasa pekan lalu di rumah kediaman Heru di Kompleks Sutera Renata, Alam Sutera Serpong, Tangerang, Banten. Kali ini sebagai lawan.

 

Agung menangkap Heru, 46 tahun, yang menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Ekspor Direktorat Teknis Kepabeanan Bea Cukai dengan tuduhan menerima dugaan suap sebesar Rp 11 miliar dari pengusaha ekspor-impor, Yusran Arief. Heru juga ditahan dengan sangkaan melakukan pencucian uang dalam bentuk polis asuransi (baca pula: Detik-detik Menegangkan Penangkapan Heru).

Sebagai pegawai eselon III dengan gaji Rp 2,9 juta dan bila termasuk tunjangan menjadi sekitar Rp 20 juta sebulan, kekayaan Heru sungguh mencurigakan. Selama periode 2010-2012, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat transaksi di rekening Heru mencapai Rp 60 miliar. Dari laporan PPATK inilah, kepolisian membidik Heru sejak tiga tahun lalu.

Sementara itu dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaraan Negara (LHKPN) pada 22 Juni 2011, Heru melaporkan kekayaan hanya Rp 1,2 miliar dan US$ 20 ribu. Padahal, kekayaan Heru yang tak dilaporkan dengan rumah tersebar di empat kota: Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Wonosobo, Jawa Tengah.

Rumah yang ditempati Heru sejak satu bulan terakhir bersama istri keduanya, Widya Wati, adalah rumah mewah di kluster Sutera Renata Alba Utama, Alam Sutera, Serpong Utara. Rumah mewah dua lantai bercat abu-abu ini dengan luas tanah sekitar 300 meter harganya sekitar 7-8 miliar per unit.

Selain di Alam Sutera, Heru memiliki empat unit rumah di kawasan perumahan Bumi Serpong Damai. Di antaranya dua unit berada di kluster Victoria River Park dan satu unit lagi berada di Puspita Loka. Rumah-rumah ini dibiarkan kosong tak dihuni. Namun, meski tidak lagi ditempati, rumah-rumah dalam keadaan rapi dan terurus.

 

 

Sebuah rumah di kluster Victoria River Park dipasang papan iklan sewa di halaman rumah. »Heru dan keluarganya sempat menetap selama satu bulan saat bulan puasa. Setelah itu mereka tidak tinggal di sini lagi,” kata petugas keamanan, Hendi.

Di daerah kelahirannya, Heru pun menyimpan aset berupa tanah seluas 192 meter persegi. Perkiraan harga tanah di kawasan itu sekitar Rp 3 juta per meter persegi sehingga aset tanah milik Heru sekitar Rp 576 juta. Selain rumah dan tanah, Heru memiliki tiga mobil mewah, yakni BMW X1, Honda Jazz dan Mitshubishi Grandhis. 

Heru membangun karier hampir 23 tahun di Bea Cukai, dimulai sebagai petugas laboratorium di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang pada 1992 (karier Heru di sini). Pada 2000 dia bertugas di Pemeriksa Bea dan Cukai Pratama. Karier Heru melesat saat di bawah pimpinan Dirjen Bea Cukai Anwar Supriyadi pada periode 2007. Saat itu dia menjadi Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Utama Tipe A Bea Cukai Tanjung Priok.

Bersama dengan Agung Kuswandono yang saat itu Kepala Pelayanan Bea Cukai Pelabuhan Tanjung Priok--kini Dirjen Bea Cukai sejak 2011--dijagokan oleh Anwar dan Sri Mulyani sebagai petugas yang diandalkan dalam reformasi birokrasi di Bea Cukai. Keduanya pernah menahan tiga mobil mewah berdokumen palsu bernilai miliaran rupiah.

Pada 2009, Heru duduk sebagai Kepala Subdirektorat Penindakan Direktorat Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai. Dua tahun kemudian dia menjabat Kepala Kantor Pengawasan, Pelayanan Bea Cukai Merak. Hingga pada Januari 2013 dia diangkat sebagai Kepala Subdirektorat Ekspor Bea dan Cukai.

 

 

Menurut sumber Tempo, dari peliknya kasus di Bea Cukai, Heru dianggap tak memiliki prestasi yang menonjol. »Penangkapannya sekedar cari muka, tak pernah mengatasi persoalan fundamental penyelundupan barang dengan menangkap pemain besar dan menutup aksesnya,” kata sumber Tempo.

Beberapa kasus penyelundupan yang ditangani Heru adalah penyitaan 17 kontainer rotan dan eboni ilegal ke Cina pada 2007, menggagalkan impor 12 unit mobil bekas dari Amerika (2008). Selain itu menyita 6 ribuan botol minuman keras impor dan 29 ribuan keping pita cukai minuman keras impor.

Menurut sumber Tempo, dalam kasus pengungkapan impor tiga mobil mewah pada 2007, Heru terlalu cepat menyimpulkan impor tersebut sebagai praktek penyelundupan. Sumber Tempo mengungkapkan, dengan kesimpulan itu, importir hanya diminta memenuhi syarat agar mobil bisa keluar dari pelabuhan. "Padahal, dugaan pelanggarannya itu ada di pemanfaatan fasilitas kedutaan besar,” katanya.

Dalam kurun 2007-2008, kata sumber Tempo, Heru pernah menahan barang impor keramik. Padahal, berdasarkan pengujian laboratorium, barang tersebut tidak termasuk jenis yang dilarang maupun dibatasi. Menurut dia, Heru memanfaatkan ketentuan larangan dan pembatasan importasi yang tertera dalam Harmonized System (HS). "Atau sebaliknya, barang yang masuk dalam larangan dan pembatasan malah bisa diloloskan oleh dia," kata sumber Tempo.

Temuan PPATK mengenai rekening yang mencurigakan pernah ditindaklanjuti oleh Inspekstorat Jenderal Kementerian Keuangan. Namun, Heru tak memenuhi panggilan. Kejaksaan Agung pun pernah melakukan pemeriksaan, tetapi hasilnya belum diperoleh bukti permulaan yang cukup untuk penyelidikan (lihat pula: 15 Kawan Heru Masih Melenggang).

 

 

Selain soal harta kekayaan, Inspektorat ingin mengklarifikasi mengenai informasi Heru yang beristri dua. »Pernikahannya tanpa izin pejabat berwenang dan tidak pernah dilaporkan ke atasan,” kata sumber Tempo.

Sebelum menikah dengan Widya Wati, Heru menikah dengan Wakil Bupati Wonosobo, Maya Rosida. Maya adalah perempuan yang dikenal Heru saat masih bersekolah di Wonosobo (pengakuan Maya di sini).

Maya mengatakan sejak 2002 dia sudah tidak hidup bersama dengan Heru, meski belum bercerai secara resmi. Dia mengaku terakhir bertemu Heru ketika Hari Raya Idul Adha di Wonosobo. "Saya jarang berkomunikasi," kata Maya.

Lewat pernikahan Heru dan Maya dikaruniai seorang anak lelaki yang berusia 15 tahun. Sementara pernikahannya dengan Widya Wati, diperoleh anak berusia tujuh bulan.

Maya Rosida menjabat bersama Bupati Wonosobo Kholiq Arif pada 2010-2015. Pasangan ini diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa, Golongan Karya, dan Partai Persatuan Pembangunan.

 

 

Seperti halnya Heru, harta kekayaan Maya bergerak fantastis. Dalam laporan kekayaan pada 2010, jumlah kekayaannya Rp 1,7 miliar kemudian menjadi Rp 7,9 miliar pada 2013. Sumbangan kenaikan kekayaan Maya dari logam mulia Rp 4 miliar pada 2011. Maya mengatakan kekayaannya diperoleh saat masih bekerja di bank dan pengusaha properti.

Tempo berupaya mengklarifikasi informasi yang diperoleh kepada Heru lewat pengacaranya, Sugeng Teguh Santoso. Namun, Heru belum bersedia memberikan tanggapannya. 

YULIAWATI, MARIA YUNIAR, JONIANSYAH (TANGERANG), EDI FAISOL (SEMARANG), SHINTA MAHARANI (WONOSOBO)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.