Hery Haryanto sebut wapres non-Muslim dapat bantu kerja sama

Intelektual muda Indonesia Hery Haryanto Azumi mengatakan bahwa posisi wakil presiden (wapres) yang diisi warga negara Indonesia (WNI) non-Muslim dapat membantu kerja sama dengan negara-negara yang masih terpengaruh Islamophobia.

"Presiden Muslim diperlukan agar Indonesia mampu berperan lebih dalam kancah internasional, di mana negara-negara berpenduduk Muslim signifikan adalah penyumbang seperempat GDP Global, sementara wapres non-Muslim dapat menjadi signal baik bagi negara-negara yang masih terpengaruh oleh Islamophobia yang ingin bekerja sama dengan Indonesia," ucap Hery dalam diskusi terbatas tentang "Pro-Kontra Presiden/Wapres Non-Muslim dalam Pilpres 2024" yang diselenggarakan oleh Rumah Menggiring Arus di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu.

Melalui keterangan tertulisnya, Ketua Umum Forum Satu Bangsa ini menjelaskan bahwa realitas dunia yang multipolar dan plural ini adalah kesempatan emas bagi Indonesia.

Bagi Hery, kontribusi Indonesia sangat diperlukan pasca-Presidensi G20 untuk mewujudkan berbagai kesepahaman dan kesepakatan yang telah dicapai.

"Sebagai negara dengan populasi dan potensi Muslim yang besar, wajar jika Presiden berasal dari kalangan Muslim, namun untuk posisi Wakil Presiden bisa saja berasal dari kalangan non-Muslim sepanjang mendapat dukungan publik dan memperkuat kepentingan bangsa dan negara," tutur Hery.

Indonesia, tuturnya melanjutkan, harus mampu mengapitalisasi keberagaman yang ada untuk kepentingan nasional, sebab semua potensi yang beragam ini adalah aset nasional yang sangat penting.

Ketika ditanya tentang figur yang tepat dari kalangan non-Muslim, Hery menyebutkan beberapa nama, antara lain Luhut Binsar Panjaitan, Listyo Sigit Prabowo, Harry Tanoe Sudibyo, Hasto Kristianto, serta Basuki Tjahaya Purnama.

Selanjutnya, tentang pasangan presidennya, menurut Hery, figur-figur seperti Muhaimin Iskandar Ketua Umum PKB, Gus Yahya Ketua Umum PBNU, Prof. Haedar Nashir Ketua Umum PP Muhammadiyah, Marsekal Hadi Tjahjanto mantan Panglima TNI, Jenderal Moeldoko KSP, Prof. Pratikno Mensesneg, dan sejumlah nama lainnya memiliki peluang yang terbuka.

"Kombinasi di tingkat pimpinan nasional ini akan menuntaskan ganjalan-ganjalan yang menghambat pencapaian tujuan nasional," kata Ketua Dewan Pembina Rumah Menggiring Arus ini.