Hewan Ini Didapuk Jadi Sahabat Tertua Manusia

Lazuardhi Utama, BBC Indonesia
·Bacaan 4 menit
Chihuahua standing on a Great Dane
Chihuahua standing on a Great Dane

Sebuah penelitian tentang DNA anjing menunjukkan bahwa hewan itu kemungkinan merupakan sahabat tertua manusia.

Analisis tersebut mengungkapkan bahwa domestikasi anjing dapat ditelusuri ke 11.000 tahun yang lalu, hingga akhir Zaman Es terakhir.

Hal ini menegaskan bahwa anjing adalah hewan yang dijadikan peliharaan sebelum spesies lainnya. Anjing tersebar luas di belahan bumi utara saat itu dan telah terbagi menjadi lima jenis.

Terlepas dari ekspansi anjing Eropa selama era kolonial, jejak-jejak keturunan anjing kuno itu masih bertahan hingga hari ini di Amerika, Asia, Afrika, dan Oseania.

Penelitian ini mengisi beberapa celah dalam sejarah anjing sebagai sahabat dekat manusia. Dr Pontus Skoglund, salah satu penulis studi dan pemimpin kelompok laboratorium Genomik Kuno di Institut Crick, London, Inggris, mengatakan kepada BBC News: "Anjing benar-benar unik, dan cukup aneh jika Anda memikirkannya, ketika semua orang masih berburu dan mengumpulkan makanan untuk hidup, mereka menjinakkan apa yang sebenarnya adalah karnivora liar - serigala cukup menakutkan di banyak bagian dunia.

"Pertanyaannya, mengapa orang melakukan itu? Bagaimana itu bisa terjadi? Itulah yang akhirnya membuat kami tertarik."

Sampai batas tertentu, pola genetik anjing mencerminkan pola manusia karena manusia membawa hewan pendampingnya saat mereka pindah. Namun, ada juga perbedaan penting.

Rhodesian Ridgeback
The Rhodesian Ridgeback retains ancestry from an ancient African dog lineage

Misalnya, anjing Eropa awalnya beragam, tampaknya berasal dari dua populasi yang sangat berbeda, satu berkerabat dengan anjing wilayah Near East (Timur Dekat - yakni di sekitaran Timur Tengah saat ini) dan anjing Siberia.

Namun, di beberapa titik, mungkin setelah permulaan Zaman Perunggu, satu garis keturunan anjing menyebar luas dan menggantikan semua populasi anjing lain di benua itu.

Pola ini tidak memiliki padanan dalam pola genetik orang-orang dari Eropa. Anders Bergstrom, penulis utama dan peneliti pasca-doktoral di Crick, berkata: "Jika kita melihat ke belakang, ke lebih dari empat atau lima ribu tahun yang lalu, kita dapat melihat bahwa Eropa adalah tempat yang sangat beragam jenis anjingnya.

"Meskipun anjing Eropa yang kita lihat hari ini memiliki macam bentuk yang luar biasa, secara genetik mereka hanya berasal dari himpunyan bagian gen yang sangat sempit dari keanekaragaman yang dulu ada”.

Sebuah tim internasional menganalisis seluruh genom (bagian lengkap DNA dalam inti sel biologis) dari 27 sisa-sisa anjing purba, yang terkait dengan berbagai budaya arkeologi.

Mereka membandingkannya satu sama lain dan dengan anjing modern.

Hasilnya mengungkapkan bahwa ras seperti Rhodesian Ridgeback di Afrika selatan dan Chihuahua dan Xoloitzcuintli di Meksiko mempertahankan jejak genetik asli dari anjing kuno di wilayah tersebut.

Nenek moyang anjing di Asia Timur sangatlah kompleks. Anjing di China tampaknya berasal dari nenek moyang seperti dingo Australia dan anjing bernyanyi New Guinea, sisanya berasal dari Eropa dan anjing dari stepa Rusia.

Anjing bernyanyi New Guinea dinamai demikian karena lolongannya yang merdu, yang ditandai dengan peningkatan nada yang tajam di awal.

Greger Larson, rekan penulis dari Universitas Oxford, mengatakan: "Anjing adalah mitra hewan tertua dan terdekat kita. DNA dari anjing purba menunjukkan kepada kita seberapa jauh sejarah bersama antara anjing dan manusia, dan pada akhirnya akan membantu kita memahami kapan dan di mana hubungan yang dalam ini dimulai. "

Anjing diperkirakan telah berevolusi dari serigala yang berkelana ke kamp manusia, mungkin untuk mengendus-endus makanan.

Saat mereka dijinakkan, mereka kemudian bisa melayani manusia sebagai teman berburu atau penjaga.

Hasilnya menunjukkan semua anjing berasal dari satu populasi serigala yang punah - atau mungkin beberapa populasi yang sangat dekat hubungannya.

Jika ada beberapa peristiwa domestikasi di seluruh dunia, garis keturunan lain ini tidak banyak terlihat pada DNA anjing-anjing selanjutnya.

Dr Skoglund mengatakan tidak jelas kapan atau di mana domestikasi awal terjadi.

"Sejarah anjing begitu dinamis sehingga Anda tidak dapat benar-benar berharap untuk dapat menyelidikinya dari DNA mereka. Kami benar-benar tidak tahu - itulah hal yang menarik."

Banyak hewan, seperti kucing, mungkin dijadikan hewan peliharaan ketika manusia menetap untuk mulai bertani sekitar 6.000 tahun yang lalu.

Kucing mungkin berguna untuk mengendalikan hama seperti tikus, yang sering datang ke pemukiman karena tertarik dengan limbah yang dihasilkan oleh pemukiman padat.

Domestikasi kucing diperkirakan lahir di tempat lahir pertanian seperti di wilayah Timur Dekat.

"Untuk anjing, [domestikasi] hampir bisa terjadi di mana saja: Siberia yang dingin, Timur Dekat yang hangat, Asia Tenggara. Semua ini adalah kemungkinan dalam pikiran saya," kata Pontus Skoglund.

Penemuan ini telah dipublikasikan di jurnal Science.

Ikuti Paul di Twitter.