Hidup Penuh Bahaya Jenderal Bintang 3 TNI Penyelundup Senjata

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Nama Letjen TNI (Purn.) Rais Abin, mungkin tidak semahsyur nama-nama besar semisal Letjen TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo, Jenderal TNI (Purn.) Maraden Panggabean, atau Jenderal Besar TNI (Purn.) Soeharto. Namun ternyata, Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat itu pernah menantang bahaya demi kemerdekaan Indonesia.

VIVA Militer memantau sebuah video wawancara yang diunggah dalam akun Youtube pada Agustus 2005 silam, dengan mantan Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) itu. Rais mengisahkan bagaimana ia ikut berjuang dalam Revolusi Nasional Indonesia, periode 1945 hingga 1949.

Saat masih berpangkat Sersan Mayor (Serma), ternyata Rais pernah jadi seorang penyelundup senjata. Jangan salah sangka, pria kelahiran Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, tidak menyelundupkan senjata untuk keuntungan pribadi.

Ya, Rais selama lebih dari dua tahun menjadi penyelundup senjata ke Singapura untuk memenuhi kebutuhan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang saat ini menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Saya gun runner (pembawa senjata) bukan gun slinger (penembak cepat). Gun slinger is a fighter (penembak cepat adalah seorang pejuang) kalau gun runner is a smuggler (pembawa senjata adalah seorang penyelundup), gun smuggler (penyelundup senjata)," ucap Rais.

Dijelaskan Rais, cara mendapatkan senjata dari pihak Inggris adalah dengan cara menyogok. Pasalnya, senjata-senjata yang didapatkan oleh Rais dijual oleh oknum anak buah tentara Inggris, yang berasal dari India dan China.

"Saya menyelundupkan senjata dari luar untuk kebutuhan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), waktu itu dari Singapura, dengan cara menyogok," kata Rais melanjutkan.

"Yang memiliki persenjataan dan magasin senjata itu ada orang Inggris. Tapi yang melakukan (penjualan ilegal) adalah tenaga-tenaga bawahannya, India, China dan lain-lain," ujarnya.

Selain menyogok, Rais dan rekan-rekannya juga membawa sejumlah produk bahan mentah dari Indonesia untuk dibarter dengan senjata dan peluru. Produk itu berupa karet dan kopra, yang dianggap bisa dijual kembali dengan harga tinggi.

Untuk bisa mendapatkan produk lokal, markas besar tentara di Sumatera memerintahkan kepada sejumlah perusahaan lokal untuk menyediakan barang-barang tersebut. Hal ini dilakukan agar TKR bisa menjadikannya sebagai alat barter dan mendapatkan senjata.

"Bayarnya barter. Jadi kita bayar dengan barter produk Indonesia, baik dari Riau atau Jambi pada waktu itu. Ada karet ada kopra. Markas besar tentara, panglima untuk Sumatera Tengah tahun 1946, untuk menyediakan stok produk yang kiranya berguna untuk dibarter dengan senjata," ucap Rais lagi.

Selain ikut serta dalam Revolusi Nasional Indonesia, Rais juga pernah dipercaya sebagai Panglima United Nations Emergency Forces (UNEF) II untuk misi perdamaian di Mesir pada 1976 hingga 1979. Rais memimpin ribuan prajurit dari 13 negara dalam misi tersebut.