Hidup segan mati tak mau

MERDEKA.COM, Beginilah kondisi terakhir mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon terbaring koma tujuh terakhir di Rumah Sakit Tel Hashomer, pinggiran Ibu Kota Tel Aviv. Dia sudah bisa membuka mata dan menggerakkan jari.

"Ketika dia terjaga, dia memandang saya dan menggerakkan jemarinya saat saya minta," kata Gilad Sharon, putra bungsu, seperti dilansir surat kabar the New York Times tahun lalu. "Saya yakin dia mendengar saya."

Tidak seperti dugaan banyak orang, Gilad mengungkapkan, penampilan Sharon tidak seperti orang sakit parah. Pipinya sehat dan kemerah-merahan. berata badannya bukannya melorot malah kian naik.

Sharon sempat dipindahkan pada November 2010 ke kawasan peternakannya di Gurun Negev, selatan Israel.Menurut ketua tim dokter, Shlomo Segev, Sharon sudah mampu membuka matanya dan merasakan kehadiran orang. “Jadi kita tidak bisa mengatakan ia koma sepenuhnya. Bukan koma mendalam pastinya,” kata Segev kepada jurnal Daily Beast.

Namun, Gilad mengungkapkan cuma sebentar tanpa merinci berapa hari sang ayah berada di rumahnya itu. Selepas itu, dia dikembalikan lagi ke Tel Hashomer. "Saya pikir dia lebih baik dirawat di rumah," ujarnya.

Meski begitu, pihak keluarga tidak pernah kehilangan sehari pun tanpa menjenguk sekaligus menjaga Sharon. Gilad bergantian bersama Omri (kakak) dan Inbal (ibu).

Hingga kini, kondisi Sharon tidak kunjung membaik. Dia masih dibantu pelbagai alat penunjnag hidup, termasuk alat bantu pernapasan. Tim dokter dan pearwat juga telah mendesak keluarga agar membiarkan Sharon meninggal ketimbang hidup tersiksa. "Berdasarkan hasil pemeriksaan, peluang hidupnya sudah habis," ujar seorang dokter.

Namun Gilad sekeluarga berkukuh ingin mengupayakan segala macam cara agar Sharon bisa pulih. Gilad mengaku pernah bermimpi bertahun-tahun lalu soal kondisi ayahnya saat ini. Mimpi itu pula yang dia jadikan alasan buat terus mempertahankan Sharon seperti sekarang. "Ketakutan saya itu terjadi sekarang. Saya tidak akan pernah memaafkan diri saya jika kami tidak berjuang hingga penghabisan."

Bagi sebagian kalangan muslim, koma diderita Sharon barangkali merupakan azab. Paling tidak, dia bertanggung jawab atas pembantaian sekitar 800 pengungsi Palestina di kamp Sabra dan Shatila di Beirut pada Perang Libanon 1982.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.