Hidup Sehat pada Masa Pandemi Covid-19

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Balikpapan - Pagi hari di Kota Balikpapan Kalimantan Timur (Kaltim) masih lengang dari aktivitas. Semilir angin dan redup surya ufuk timur iringi derap kaki pelari menyusuri aspal jalanan.

"Rutinitas pagi dengan berlari sebelum menjalankan aktivitas sehari-hari," kata Esther Imuly (43) masih dengan napas terengah, Rabu (27/1/2021).

Karyawan sektor industri minyak gas (migas) Kaltim ini memiliki bentuk tubuh ideal. Perempuan paruh baya dengan tinggi badan 157 sentimeter dibalut berat tubuh 53 kilogram. Tubuhnya terlihat ringan melibas lintasan sejauh 10 kilometer.

"Saya memang menggemari olahraga lari sejak dulu," ungkap Esther.

Esther kembali menekuni olahraga lari sekitar setahun lalu atau tepatnya sejak pandemi Covid-19 mewabah di negeri ini. Saat itu, tubuhnya mendadak terasa berat dan pergerakan lamban.

Napas gampang tersengal-sengal sehingga mengganggu aktivitas. Semua disebabkan, pola hidup tidak sehat ditambah mengonsumsi makanan sembarangan. Timbangan berat badannya, lambat tapi pasti merangkak naik menjadi 64 kilogram.

"Tubuh terasa berat, bawaannya capek, ngantuk, dan tidak semangat," keluh Esther.

Selepas itu, Esther akhirnya mulai menjalankan aktivitas pola hidup sehat. Langkah pertama dilakukannya, dengan mengubah asupan pola makanan harian.

Harus ada keseimbangan antara asupan makanan dikonsumsi dengan aktivitas keseharian manusia.

Perempuan berdarah Ambon ini memanfaatkan aplikasi kesehatan untuk mengukur kadar kalori berdasarkan konsumsi makanan per hari. Aplikasi terkoneksi jaringan telpon gengam ini lantas memperkirakan seberapa besar kalori harus dibakar saat itu juga.

"Kalau dalam kurun waktu sehari ada tambahan kalori masuk 6 ribu, saya harus berkomitmen membakar kalori ini sebesar itu juga," tegas Esther.

Proses membakar kalori bisa bermacam-macam, seperti aktivitas olahraga; lari, thai boxing, senam, hingga angkat berat. Namun, dari berbagai jenis olahraga ini, Esther memilih menekuni lari.

Seperti sedang dilakukannya saat ini.

Olahraga lari efektif membakar kalori masuk dalam tubuh manusia. Seperti contohnya, olahraga lari mengelilingi komplek perumahan sejauh 10 kilometer efektif membakar hingga 2.142 kalori.

Sehingga surplus kalori sisa makan tadi siang selanjutnya dibakar lewat aktivitas extra; latihan thai boxing, senam, maupun angkat berat di rumah.

"Bila terdapat 3 ribu kalori sudah masuk, tersisa sekian ratus kalori saja yang harus dibakar saat itu," tegas Esther.

Di sisi lain agar selaras, Esther pun mulai selektif memilih asupan makanan. Setiap pagi, ia berusaha mengonsumsi roti, susu, dan madu saja.

Menu makanan lebih berat tersaji saat beranjak siang. Dalam kondisi seperti itu, Esther memilih menu makanan seimbang memenuhi asupan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.

"Makan secukupnya sesuai kebutuhan fisik, jangan sampai kekenyangan," tuturnya.

Pamungkas adalah pada malam hari di mana tubuh manusia pun memerlukan kandungan makanan berserat. Di sini, menu sayur-mayur dan buah-buahan menjadi keharusan di keluarga Esther.

"Pantangannya hanya makanan-makanan gorengan dan camilan di waktu senggang," ujarnya.

Saat ini, Esther mulai memetik hasil positif dari usaha kerasnya selama setahun, sejak Covid-19 melanda. Lingkar pinggangnya ramping dengan massa otot perut yang kencang layaknya gadis remaja.

Performa kerjanya pun otomatis terdongkrak berkat kebugaran fisik. Tiada lagi kepenatan kerap menghinggapi karyawan di penghujung jam kerja.

"Sejak pagi hari, siang, dan sore terasa selalu semangat terus. Bahkan pulang kerja, saya masih mengikuti kelas kebugaran daring diadakan perusahaan," kisah Esther.

Atas usahanya ini, orang-orang di sekitarnya tanpa diminta terinspirasi melakukan hal yang sama, menjalankan pola hidup sehat. Mereka mulai menjaga asupan pola makan dibarengi aktivitas rutin berolahraga.

"Anak-anak saya, keponakan, dan suami berolahraga sesuai kemampuan fisik masing-masing," tutur Esther.

Menjadi Inspirasi Rekan Sekantor

Aktifitas warga Balikpapan selama masa pandemi Covid-19
Aktifitas warga Balikpapan selama masa pandemi Covid-19

Rekan sekantor Esther, Aji Wirantoro (42) termasuk yang mulai menjaga pola hidup sehat. Menurut bujangan ini, kesehatan merupakan nikmat terbesar yang harus terus dijaga dengan perilaku sehat.

Pagebluk Covid-19 bukan lantas menjadi alasan perilaku bermalas-malasan. Seiring kebijakan perusahaan yang mendorong karyawan menjalankan aktivitas pekerjaan di rumah.

"Ada pembagian sistem rotasi karyawan menjadi empat shift. Sehingga akvitas saya berkurang dan lebih banyak di rumah," ungkap Aji.

Aji adalah tipikal pria yang menggemari olahraga gym di pusat kebugaran Balikpapan. Tubuhnya bisa dibilang cukup kekar dan berisi.

Permasalahannya terjadi pada masa pandemi Covid-19. Pemerintah daerah membatasi aktivitas pusat kebugaran sehingga membuat Aji sulit berolahraga.

Praktis pada awal-awal pandemi, tubuhnya kelebihan berat badan, jauh dari kata ideal.

"Tinggi saya 165 sentimeter dengan berat saat itu mencapai 67 hingga 70 kilogram. Berjalan mulai terengah-engah dan tidak nyaman. Saya sudah panik dengan kondisi ini," ungkapnya.

Selepas itu, Aji lantas mencoba menjalani aktivitas olahraga di rumah, seperti lompat tali, push up, angkat berat, dan lainnya. Selain itu, setiap pagi meluangkan waktu dengan berlari keliling komplek perumahan menempuh jarak hingga 2 kilometer.

Bukan hanya itu, pria asli Balikpapan ini pun selektif konsumsi makanan. Mayoritas menu makanannya direbus tanpa tambahan garam maupun gula. Pantangannya adalah segala bentuk makanan gorengan.

Agar hasilnya kian terasa, dia bahkan menghindari menu nasi putih. Kebutuhan asupan karbohidrat digantikan dengan rebusan jagung dan singkong.

"Menu makan malam dipenuhi dengan hidangan sayuran dan buah-buahan saja," papar Aji.

"Istirahat juga harus cukup setidaknya 6 hingga 8 jam per hari," imbuhnya.

Memasuki awal tahun ini, Aji sudah menuai hasil positif perjuangan pola hidup sehat. Selain berat badanya yang kembali ideal, tekanan darah berikut kadar gulanya beranjak normal.

"Pengecekan terakhir kesehatan sudah dinyatakan semuanya normal. Ini luar biasa mengingat sebelumnya kondisi kesehatan sempat turun akibat mengabaikan pola hidup sehat," ujarnya.

Masyarakat Hati-Hati Menjalani Olahraga dan Diet

Ilustrasi Berolahraga Credit: unsplash.com/Jonathan
Ilustrasi Berolahraga Credit: unsplash.com/Jonathan

Sementara itu, Pakar Spesialis Gizi Klinik dr Meiliati Aminyoto, M Kes, Sp GK menyatakan, masyarakat memang harus meningkatkan kesehatan sekaligus kebugaran pada masa pandemi. Kesehatan fisik dan mental menjadi kunci meningkatkan imunitas atau kekebalan melawan virus Covid-19.

"Virus Covid-19 membawa dampak fatal terhadap manusia yang kondisi imunitas sedang menurun," ungkapnya.

Pola hidup sehat serta istirahat cukup, menurut Meiliati secara otomatis merangsang tubuh menghasilkan imunitas melawan berbagai penyakit. Beberapa kasus fatal Covid-19 disebabkan pelemahan imunitas yang diperparah penyakit bawaan.

Meskipun begitu, Meiliati mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan menjalankan program diet dan memforsir olahraga. Dalam beberapa kasus, olahraga dan diet berlebihan membawa dampak negatif bahkan kematian.

Kemampuan dan ketahanan fisik manusia berbeda satu dengan lainnya.

Manusia membutuhkan asupan gizi seimbang karbohidrat, protein hewani, protein nabati, vitamin, mineral, lemak, dan lainnya. Pantangan terhadap salah satu jenis kandungan zat bisa jadi malah berdampak negatif terhadap imunitas manusia.

Meiliati mengatakan, masyarakat harus belajar mengenali kandungan zat makanan dikonsumsi tubuh, sehingga mampu memilah jenis makanan sesuai kebutuhan tubuh.

"Apakah mengandung lemak jenuh atau tidak. Kita bisa memilah jenis makanan sesuai kebutuhan tubuh," ujarnya.

Selain itu, fisik ketahanan tubuh manusia pun berbeda-beda. Pemilihan jenis olahraga harus disesuaikan faktor umur, berat badan, tekanan darah, hingga riwayat penyakit.

"Orang yang sudah berumur tentunya sudah tidak disarankan olahraga lari 10 kilometer setiap hari. Demikian pula mereka yang sudah memiliki obesitas," papar Meiliati.

Sehubungan itu, Meiliati mengimbau masyarakat rutin konsultasi kepada pakar gizi dalam penerapan pola hidup sehat. Sehingga memperoleh masukan positif jenis kandungan gizi dan olahraga sesuai fisik masing-masing.

"Pola hidup sehat di media sosial belum tentu benar. Masyarakat sebaiknya memiliki referensi jurnal kesehatan yang terpercaya," ujarnya.

Kondisi Terkini Pandemi Covid-19 di Kaltim

Umat Hindu yang mengenakan masker untuk mencegah penyebaran COVID-19 saat berdoa dalam kuil di Jammu, India, 17 Oktober 2020. Berdasarkan data Worldometers pada 19 Oktober 2020, jumlah kasus COVID-19 di India sebanyak 7.548.238. (AP Photo/Channi Anand)
Umat Hindu yang mengenakan masker untuk mencegah penyebaran COVID-19 saat berdoa dalam kuil di Jammu, India, 17 Oktober 2020. Berdasarkan data Worldometers pada 19 Oktober 2020, jumlah kasus COVID-19 di India sebanyak 7.548.238. (AP Photo/Channi Anand)

Pola hidup masyarakat Kaltim berubah drastis pasca pandemi Covid-19 melanda negeri. Mayoritas masyarakat memilih menjalankan aktivitas rutin melalui jalur daring.

Apalagi sesuai data Pemprov Kaltim dinyatakan bumi etam dalam kondisi siaga pandemi Covid-19. Ada 10 kota/kabupaten Kaltim seluruhnya berwarna merah di mana masing-masing di antaranya jumlah pasien virus di atas angka 50 kasus.

Total pasien terpapar virus Covid-19 di Kaltim mencapai 7.021 kasus. Balikpapan menjadi pusat episentrum virus dengan 1.679 pasien, disusul Kutai Kartanegara (1.623), dan Bontang (1.034).

Simak juga video pilihan berikut: