Hidup yang terlalu pendek: anak-anak Amerika yang tewas karena peluru nyasar

·Bacaan 3 menit

Washington (AFP) - Carmelo Duncan sedang duduk di kursi belakang mobil ketika dia terkena beberapa peluru nyasar, menjadi salah satu korban penembakan termuda di AS pada usia 15 bulan tahun ini - dan menjadi simbol ketidakberdayaan negara itu dalam menghadapi kekerasan senjata.

Pada 2 Desember, dia dan saudara laki-lakinya yang berusia delapan tahun berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh ayah mereka melintasi tenggara Washington, DC, ketika penembak tak dikenal menembaki kendaraan mereka sebelum melarikan diri dengan SUV curian.

Balita itu akhirnya meninggal di rumah sakit. Ayah dan saudara laki-lakinya selamat dari aksi brutal itu, yang menurut polisi tidak jelas apa motifnya.

Carmelo adalah korban pembunuhan senjata ke-187 sepanjang tahun ini di ibu kota Amerika, jumlah tertinggi dalam 15 tahun. Kota ini mengalami 196 kematian akibat penembakan pada tahun 2005.

Banyak kota di AS melaporkan "tingkat kekerasan bersejarah" pada tahun 2020, menurut laporan oleh organisasi Everytown for Gun Safety - dan kaum muda adalah korban sia-sia.

Tingginya angka korban tersebut akibat iklim kekerasan menyusul pembunuhan polisi terhadap orang kulit hitam Amerika, dan pandemi Covid-19 yang telah menutup sekolah dan program pemuda.

"Karena fasilitas banyak ditutup, kekosongan tersebut telah diisi dengan kekerasan senjata," kata laporan Everytown.

Hanya beberapa hari sebelum Natal, kekerasan senjata telah menyebabkan lebih dari 18.500 kematian di AS pada tahun 2020, menurut Arsip Kekerasan Senjata, termasuk lebih dari 1.300 anak di bawah umur. Dari jumlah tersebut, 284 berusia 11 tahun atau lebih muda.

Salah satu anak tersebut adalah Davon McNeal, yang ditembak di kepala pada tanggal 4 Juli oleh peluru nyasar yang ditembakkan oleh orang dewasa muda yang merayakan hari libur nasional.

Masih berusia 11 tahun, dia ikut piknik yang diselenggarakan oleh ibunya, Crystal McNeal, di lingkungan miskin di tenggara bagian Washington.

"Mereka hanya bersenang-senang menembakkan senjata mereka," kata kakek dari pihak ayah, John Ayala, kepada AFP.

Salah satu penembak, Ayala menjelaskan, telah dibebaskan dari penjara pada Mei sebagai bagian dari upaya menghentikan penyebaran virus corona di penjara.

Ayala adalah tokoh terkenal di komunitas Hitam Washington sejak 1989. Dia mendirikan cabang lokal dari kelompok Malaikat Penjaga - yang mudah dikenali dari baret merah mereka - yang bekerja untuk menghentikan kekerasan dan kejahatan di area metro.

"Selama bertahun-tahun saya bekerja di seluruh dunia untuk menjadi panutan, berbicara tentang hal-hal positif dan mencegah tragedi seperti ini terjadi," kata pria berusia 51 tahun kelahiran New York itu. "Dan kemudian justru menghantam depan pintu saya."

"Yang menyedihkan adalah ketika seorang anak terbunuh di sini, kami sudah tahu bahwa itu bukan yang terakhir," tambahnya, menunjuk pada perasaan tidak berdaya.

Pada hari ketika Davon meninggal, setidaknya empat anak di bawah delapan tahun tewas oleh peluru nyasar di Chicago, Atlanta, San Francisco dan St Louis, Missouri, demikian menurut Arsip Kekerasan Senjata.

Ayala mengecam sikap pasif dan "budaya" diam di antara beberapa komunitas Hitam Amerika, yang sering jadi korban kekerasan senjata.

"Mentalitas itu harus diubah," katanya.

Untuk mengenang Davon, McNeal mendirikan yayasan yang membantu para tunawisma dan pemuda yang kurang beruntung, meskipun dia mengakui bahwa pekerjaan amalnya tidak cukup untuk membendung kekerasan.

"Anda bisa melakukan semua jalan damai, semua acara, semua hadiah, apa pun. Anda tidak bisa menyuruh seseorang menghentikan sesuatu yang sudah mereka rencanakan," katanya kepada AFP.

Ayala dan Kevin McGill, pelatih tim sepak bola sekolah Davon, juga mengecam geng-geng saingan yang tidak segan-segan bertikai di sekitar anak-anak.

"Ini memilukan. Pada saat yang sama, Anda seperti menjadi mati rasa karenanya," kata Gill

Seperti McNeal, Maurice Burden, penjaga sekolah menengah umum di Washington, ingin meningkatkan kesadaran semua pihak.

Dia ikut mendirikan grup Indigenous Suns, yang secara teratur menyelenggarakan pengumpulan makanan dan pakaian. Dia juga ingin menggelar protes bulanan terhadap kekerasan senjata.

"Biasanya kami menggelar pawai, berminggu-minggu berlalu dan semua orang lupa. Supaya orang tidak lupa, satu pawai tidak akan berpengaruh, sehingga kami harus melakukannya terus menerus," kata ayah dua anak berusia 39 tahun itu kepada AFP.

Kematian Carmelo Duncan "tidak normal dan kami tidak akan sampai pada suatu titik yang mengganggap ini menjadi normal," katanya.